Empat belas tahun menikah, ternyata sang suami menyimpan rahasia kelam yang bisa menghancurkan keluarganya kapan saja. Siapa yang nggak kaget dan terluka?
Saya nggak bisa membayangkan kalau jadi Cha Ji-won di drama Flower of Evil. Mungkin merasa dikhianati dan ditipu selama bertahun-tahun, tetapi masalahnya semua itu nggak bisa menghapus perasaan cinta yang kita miliki kepadanya.
Di balik misteri kasus pembunuhan berantai, drama ini lebih banyak berbicara tentang rasa percaya, luka masa lalu, dan bagaimana seseorang berusaha lepas dari stigma yang terus melekat padanya.
Sinopsis Flower of Evil
Flower of Evil bercerita tentang Baek Hee-sung (Lee Joon-gi), seorang pengrajin logam yang menjalani kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna bersama istrinya, Cha Ji-won (Moon Chae-won), seorang detektif kepolisian, serta putri kecil mereka. Namun, di balik kehidupan mereka yang tampak bahagia, Hee-sung sebenarnya menyimpan rahasia besar yang dia sembunyikan rapat-rapat.
Pada saat menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang belum terpecahkan, Ji-won mendapati semua petunjuk mengarah ke suaminya sendiri. Persoalan itu membuatnya dihadapkan pada pilihan sulit. Antara mempercayai orang yang sudah hidup bersamanya selama bertahun-tahun atau percaya pada bukti-bukti yang ia temukan sebagai seorang detektif. Seiring dengan penyeledikan yang dilakukan, banyak rahasia masa lalu yang perlahan terungkap dan mengubah cara mereka memandang satu sama lain.
Ulasan Flower of Evil
Sejujurnya, saya melihat drama ini karena ada Lee Joon-gi. Sejak melihat dia di drama Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo dan Criminal Minds saya dibuat suka dengan penampilannya dan ingin melihat dia lagi di project lain. Selain Lee Joon-gi, saya juga menyukai karakter Moon Chae-won di drama Criminal Minds.
Yang menarik dari drama Flower of Evil, meskipun mengusung genre thriller, drama ini lebih banyak menyorot konflik batin yang terjadi antara Baek Hee-sung dengan istrinya. Dalam 16 episode penayangannya pun, Flower of Evil memang tidak banyak menyuguhkan adegan aksi brutal seperti drama tentang pembunuhan berantai pada umumnya. Namun, yang lebih membuat tegang di sini adalah ketika hubungan Hee-sung dan Ji-won mulai retak saat rahasia masa lalu yang gelap itu perlahan terungkap. Masalahnya, di sini sejak awal kita ditunjukkan betapa pasangan ini terlihat saling mencintai. Namun, sebagai detektif Ji-won juga tak bisa mengabaikan fakta yang dia temukan begitu saja.
Kalau bicara tentang akting, Lee Joon-gi berhasil menampilkan perubahan emosi yang sangat halus. Ia bisa tampak begitu hangat saat di depan anak dan istrinya. Tetapi kadang ada tatapan kosong dan ekspresi dingin yang terlihat. Meskipun begitu, di beberapa adegan saya merasa ekspresi bahagianya sedikit canggung. Namun, bisa saja ini memang karena karakter yang dia mainkan sebagai sosok Baek Hee-sung yang seperti bukan dirinya sendiri.
Sedangkan Cha Ji-won sendiri digambarkan sebagai perempuan yang kuat, tetapi tetap memiliki sisi rapuh ketika dunianya bersama Hee-sung perlahan runtuh. Alih-alih meratapi nasibnya hidup dalam kebohongan selama bertahun-tahun, Ji-won justru sibuk mencari kebenaran atas apa yang sebenarnya terjadi di masa kecil suaminya dulu.
Dalam penyelidikannya, ia menemukan bahwa ternyata dulu suaminya memiliki identitas lain bernama Do Hyun-soo yang jauh dari bayangannya. Dikenal sebagai putra pembunuh berantai membuat Hyun-soo harus hidup dalam bayang-bayang ayahnya dan dianggap sebagai monster oleh banyak orang. Label mengerikan itu kemudian terbawa sampai dewasa dan membuatnya sulit percaya dia bisa hidup normal selayaknya orang lain.
Mengikuti drama Flower of Evil dari awal sampai episode terakhirnya, membuat saya kembali disadarkan bahwa kadang luka terbesar seseorang itu bisa saja berasal dari penilaian orang lain yang terus melekat pada dirinya. Drama ini juga mengingatkan bahwa masa lalu memang tidak bisa dihapus. Namun, masa lalu bukanlah sesuatu yang harus menentukan siapa diri kita selamanya. Sebab setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, terlepas dari bagaimana dunia memandangnya.
Baca Juga
-
Seru Banget! 5 Rekomendasi Drakor Aksi yang Bikin Tegang Sekaligus Terhibur
-
Gen Z dan Hubungan 'Just Friend': Saat Batas Pertemanan Semakin Kabur
-
Membaca, Menunda, Lupa: Ketika Balasan Chat Hanya Berakhir di Kepala
-
Dilema Pekerja Digital Masa Kini: Saat Jam Kerja Tak Lagi Punya Batas
-
Antara Hemat dan Takut Keluar Uang: Saat Belanja Bikin Kita Merasa Bersalah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mengulas Penyihir Dahsyat dari Oz: Fantasi Klasik tentang Keberanian dan Harapan
-
Review Serial I'm Not Afraid: Drama Misteri Meksiko yang Sangat Emosional
-
"Broken X. Fang", Kisah Mengharukan tentang Rasa Bersalah dan Cinta Nenek
-
Ulasan Novel Perundungan Maut, Pembalasan Dendam Para Korban Perundungan
-
Mengungkap Pesan Moral Kidung Natal: Perjalanan dari Kikir Menjadi Dermawan
Terkini
-
Motor Listrik Nasional: Kemandirian Teknologi atau Sekadar Euforia Tukang Rakit?
-
Viral Gula Disulut Sendok Panas Semburkan Api, Benarkah Mirip Bensin? Ini Penjelasan Sainsnya
-
Sinopsis 'Other Mommy': Ketika Ibu Kandung Sendiri Berubah Jadi Entitas Menyeramkan
-
Rumah Bocor Malah Usir Pemiliknya: Sengkarut Narasi 'Pindah Negara'
-
NewJeans Rayakan Anniversary ke-4, Isyaratkan Comeback dengan Formasi Baru