Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Zola (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Zola, yang dirilis pada tahun 2021 dan disutradarai oleh Janicza Bravo, merupakan adaptasi dari thread Twitter viral yang diposting oleh A'Ziah Zola King pada tahun 2015. Cerita ini, yang kemudian diolah menjadi artikel di Rolling Stone, menggambarkan perjalanan akhir pekan yang kacau balau melibatkan prostitusi, kekerasan, dan dinamika hubungan yang rumit. Dengan durasi 86 menit, film ini bergenre black comedy crime yang menggabungkan elemen humor absurd, ketegangan, dan kritik sosial terhadap industri seks serta budaya media sosial.

Menjelajahi Sisi Gelap Florida Lewat Lensa Komedi Liar

Salah satu adegan di film Zola (IMDb)

Dalam plot utamanya, Zola (diperankan oleh Taylour Paige), seorang pelayan dan penari telanjang paruh waktu di Detroit, bertemu dengan Stefani (Riley Keough), seorang penari yang blak-blakan. Pertemuan ini berkembang menjadi undangan perjalanan darat ke Tampa, Florida, untuk menari di klub malam dengan potensi penghasilan besar. Zola berangkat bersama Stefani, pacar Stefani yang naif bernama Derrek (Nicholas Braun), serta teman sekamar misterius Stefani, X (Colman Domingo). Apa yang dimulai sebagai petualangan menggiurkan dengan janji hoeism (gaya hidup bebas dan menggoda) segera berubah menjadi mimpi buruk ketika X terungkap sebagai mucikari, dan para wanita terjebak dalam jaringan prostitusi serta ancaman kekerasan dari gangster lokal.

Review Film Zola

Salah satu adegan di film Zola (IMDb)

Bravo dan co-writer Jeremy O. Harris berhasil menangkap esensi suara asli Zola—sarkastik, percaya diri, dan penuh pengamatan tajam—melalui narasi yang diselingi teks Twitter-like. Sinematografi oleh Ari Wegner dan penyuntingan Joi McMillon menciptakan ritme cepat yang mencerminkan kekacauan peristiwa, dengan visual yang hiper-stylized khas Florida yang penuh neon, motel kumuh, dan kontras antara glamor palsu serta bahaya nyata. Akting para pemeran utama menjadi kekuatan utama: Paige membawa ketenangan dan kecerdasan sebagai narator yang skeptis, sementara Keough menghidupkan Stefani dengan energi chaotisch yang manipulatif. Domingo mencuri perhatian sebagai X yang karismatik sekaligus menyeramkan, dan Braun memberikan komedi fisik melalui Derrek yang bodoh namun tragis.

Secara tematis, Zola mengeksplorasi eksploitasi perempuan dalam industri seks, dinamika rasial, serta dampak budaya internet dalam membentuk narasi pribadi. Film ini bukan sekadar rekreasi sensasional dari thread asli, melainkan meditasi tentang agen dan kelangsungan hidup di tengah kekacauan. Film ini kupuji karena keseimbangan antara komedi gelap dan horor realis, meskipun akhirnya agak mendadak, sih. Di Rotten Tomatoes, film ini mendapat rating 88% dari kritikus, dengan pujian atas keberaniannya dalam menggambarkan realitas yang stranger than fiction. Penampilan Paige bahkan meraih penghargaan Best Female Lead di Independent Spirit Awards.

Film Zola tersedia untuk streaming di Netflix di berbagai wilayah, termasuk indikasi ketersediaan di Indonesia berdasarkan katalog terkini. Sebagai film A24 yang populer, ia telah masuk katalog Netflix sejak beberapa waktu lalu dan dapat diakses dengan langganan standar (rating 18+ karena konten dewasa, kekerasan, dan bahasa kasar). Untuk konfirmasi terkini di wilayah Indonesia, disarankan memeriksa aplikasi Netflix langsung, karena katalog dapat berubah sesuai lisensi regional. Jika tidak tersedia, alternatif seperti platform rental digital (Prime Video atau Apple TV) juga sering menyediakannya.

Salah satu adegan aksi paling absurd yang menjadi ciri khas film ini adalah konfrontasi di kamar hotel dengan Dion (Jason Mitchell) dan rekannya. Apa yang dimulai sebagai panggilan klien Backpage berubah menjadi penyergapan bersenjata. Dalam kekacauan tersebut, X menembak Dion di tenggorokan untuk menyelamatkan kelompoknya, sementara Zola mengalami pelecehan fisik yang mengerikan. Adegan ini absurd karena perpaduan antara negosiasi gagal, kekerasan mendadak, dan elemen komedi hitam—seperti upaya X menawarkan Zola sebagai "barter" sebelum balik menyerang. Kekacauan ini mencerminkan betapa cepatnya situasi eskalasi dari transaksi seks menjadi perampokan bersenjata, dengan dialog yang tetap witty di tengah ancaman maut.

Adegan paling diingat saat menonton, bagaimanapun, adalah lompatan Derrek dari balkon. Setelah menyaksikan kekacauan yang melibatkan Stefani, Derrek yang frustrasi dan terluka secara emosional melemparkan dirinya dari balkon apartemen mewah milik X. Adegan ini ikonik karena campuran tragedi, slapstick, dan ketidakpercayaan penonton—ia mendarat di beton dengan cedera kepala serius, namun kelompok tetap melanjutkan perjalanan ke rumah sakit dengan Stefani yang menyatakan cinta kepada Zola di tengah kekacauan. Adegan ini melekat karena menangkap esensi absurditas keseluruhan cerita: campuran antara humor gelap, keputusasaan, dan ketidakmampuan karakter untuk keluar dari lingkaran kekacauan mereka. Visual slow-motion dan reaksi Zola yang pasif membuatnya tak terlupakan sebagai klimaks emosional yang tragikomik.

Secara keseluruhan, Zola adalah pencapaian sinematik yang berani, menawarkan hiburan yang cerdas sekaligus provokatif. Dengan kekuatan akting, arahan visioner Bravo, dan fondasi cerita viral yang autentik, film ini berhasil menjadi lebih dari sekadar adaptasi Twitter—ia menjadi potret tajam tentang survival, persahabatan palsu, dan sisi gelap ambisi di Amerika modern.

Bagi penonton yang menyukai narasi non-linear dan black comedy seperti Spring Breakers atau karya A24 lainnya, Zola wajib ditonton, meskipun kontennya memerlukan kesiapan mental. Film ini mengingatkan bahwa kisah nyata terkadang lebih liar daripada fiksi, dan kekuatannya terletak pada perspektif perempuan yang tangguh di tengah badai.