The Gentlemen Season 2 telah tersedia secara lengkap di Netflix wilayah Indonesia sejak 3 September 2026. Seluruh delapan episode dirilis sekaligus pada hari yang sama, dengan waktu penayangan di Indonesia sekitar pukul 14.00 WIB. Saat ini, serial tersebut dapat ditonton sepenuhnya melalui platform Netflix.
Babak Baru Konflik Dunia Kriminalitas di Inggris
Musim kedua serial karya Guy Ritchie ini melanjutkan kisah Eddie Horniman (Theo James) dan Susie Glass (Kaya Scodelario) satu tahun setelah peristiwa musim pertama. Mereka kini bekerja sama dalam imperium kriminal Bobby Glass (Ray Winstone) yang telah berkembang ke luar negeri, khususnya Italia. Ambisi untuk memperluas bisnis ganja, mengamankan posisi di House of Lords, serta menghadapi keputusan Bobby yang semakin tidak menentu menjadi inti cerita. Sinopsis resmi menekankan bahwa ambisi yang tak terkendali tidak pernah berakhir dengan baik. Nada keseluruhan musim ini lebih gelap dan tegang dibandingkan musim pertama, dengan Eddie bertransformasi menjadi sosok yang lebih kejam dan berorientasi kekuasaan, menyerupai evolusi karakter seperti Michael Corleone.
Review Serial The Gentlemen Season 2
Guy Ritchie kembali terlibat sebagai pencipta, penulis bersama Matthew Read, serta sutradara, didukung Eran Creevy. Pemeran lama seperti Joely Richardson, Vinnie Jones, Daniel Ings, dan Giancarlo Esposito kembali, sementara penambahan baru mencakup Hugh Bonneville sebagai Lord Hawthorne yang korup, Sergio Castellitto sebagai bos mafia Marco Moretti, Benedetta Porcaroli sebagai Bella, Michele Morrone, serta beberapa nama lain termasuk Chris Eubank Jr. dan Maya Jama dalam peran pendukung. Produksi menampilkan lokasi yang lebih luas, dari lahan pedesaan Inggris hingga danau-danau Italia yang indah, dengan sinematografi yang tetap elegan dan aksi yang lebih brutal.
Overall, musim kedua berhasil meningkatkan taruhan cerita. Humor khas Ritchie masih hadir melalui dialog tajam dan situasi absurd, namun fokus bergeser ke konsekuensi emosional dan moral dari dunia kriminal. Hubungan antara Eddie dan Susie tetap menjadi pusat dinamis, penuh ketegangan dan saling ketergantungan, meskipun keduanya mengembangkan hubungan personal masing-masing.
Vinnie Jones sebagai Geoff memberikan momen stabilitas dan kedalaman yang menyentuh, khususnya dalam interaksinya dengan keluarga Horniman. Beberapa plot sampingan, seperti upaya memengaruhi legislasi dan ekspansi bisnis, terkadang terasa tersebar di setengah awal musim, akan tetapi setengah akhir mengikat semuanya dengan ketegangan yang meningkat dan konsekuensi yang nyata.
Adegan paling emosional terjadi di episode keenam, dengan judul The Bells of San Domenico. Setelah pernikahan Eddie dengan Bella di Italia, pasangan tersebut berangkat untuk bulan madu. Bella terbang dengan seaplane sementara Eddie menyusul dengan mobil di jalan di bawahnya. Tiba-tiba pesawat meledak akibat bom yang dipasang, menewaskan Bella di depan mata Eddie.
Momen ini digambarkan dengan intensitas tinggi: rasa bahagia yang baru saja dirasakan langsung dihancurkan, meninggalkan Eddie dalam keadaan hancur, marah, dan haus balas dendam. Adegan tersebut tidak hanya menyentuh secara emosional karena menggambarkan kehilangan yang tiba-tiba dan tragis, tetapi juga menjadi titik balik yang mengubah karakter Eddie secara permanen menjadi lebih gelap dan tanpa belas kasihan.
Adegan paling dramatis berlangsung di episode akhir. Setelah serangkaian pengungkapan mengenai pengkhianatan dari dalam keluarga sendiri, Eddie menghadapkan saudaranya Freddy. Alih-alih membunuhnya secara langsung, Eddie memaksanya masuk ke dalam van yang berisi Gospel John yang terikat, lalu memerintahkannya untuk memenggal kepala musuh tersebut dengan gergaji mesin agar dirinya sendiri selamat.
Suara gergaji dan teriakan terdengar, diikuti penampakan Freddy yang keluar dari van berlumuran darah sambil memegang kepala yang terpenggal. Eddie kemudian menyalakan cerutu dan menyebutnya “good boy.” Adegan ini sangat intens, penuh kekerasan psikologis, dan menandai transformasi total Eddie menjadi pemimpin kriminal yang kejam. Penutup musim ini meninggalkan kesan mendalam sekaligus membuka jalan bagi musim ketiga yang telah dikonfirmasi.
The Gentlemen Season 2 mempertahankan gaya khas Ritchie—campuran aksi, humor gelap, dan dunia kriminal bergaya aristokrat—sambil memperdalam karakterisasi dan menaikkan intensitas. Meski beberapa bagian awal terasa lebih lambat, keseluruhan musim berhasil menghibur dan memberikan dampak emosional yang lebih kuat.
Bagi penonton yang menikmati musim pertama, musim kedua merupakan kelanjutan yang layak ditonton, terutama karena sudah tersedia lengkap di Netflix Indonesia. Serial ini menunjukkan bahwa ambisi dalam dunia kejahatan selalu menuntut harga yang mahal, baik secara pribadi maupun moral. Rating pribadi: 7.8/10.
Baca Juga
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
Review Film Runner: Kisah Pengorbanan Mengharukan dalam Balutan Laga Modern
-
Review Dark Matter Season 1: Menjelajah Multiverse Demi Menyelamatkan Cinta Sejati
-
Review Film Practical Magic: The Book Of Magic, Nostalgia Sihir yang Indah!
-
Bukan Sekadar Film Anak, Iyus Jenius Hadirkan Kembali Lagu Legendaris Papa T.Bob yang Dirindukan
Artikel Terkait
Ulasan
-
UlasanA Bona Fide Killer: Ketika Ibu Rumah Tangga Menyimpan Identitas sebagai Pembunuh
-
Petualangan ke Dunia Tanpa Titik Akhir di Buku Princess, Bajak Laut & Alien
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
Terkini
-
Jung Chaeyeon Perankan 3 Karakter di Drakor M: Reboot, Siap Tayang 2027
-
Mobile Suit Gundam RG XARX-ZERO Tayang April 2027, Hadirkan Dunia Baru
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!