Usai membaca novel Khutbah di Bawah Lembah karya S. Jai ini, pikiran saya digelayuti banyak pertanyaan dan duduk merenung. Buku ini bukan sekadar menyuguhkan kisah tentang buruh pabrik rokok atau pertentangan antara rakyat kecil dengan penguasa. Lebih dari itu, novel ini berbicara tentang martabat manusia, harga diri, kemiskinan, moral, dan pilihan-pilihan hidup yang tidak pernah sederhana.
Sejak awal membaca, di bagian mukadimah, saya langsung dibuat berpikir oleh petikan berikut:
"Andai kau telah menjadi aku, tentu sedih dan tak ingin menyaksikan anak-anak kita tiba-tiba fasih mengumpat sekalipun itu iseng buat dirinya sendiri, orang lain, dan terlebih bila ditujukan kepada Sang Pencipta." (Halaman 9).
Kalimat ini terasa begitu kuat. Bagi saya, S. Jai ingin menunjukkan bahwa kemiskinan tidak hanya menggerus isi dompet seseorang, tetapi perlahan juga menggerogoti cara berpikir, tutur kata, bahkan masa depan anak-anak. Luka sosial ternyata bisa tumbuh dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele.
"Ya, kemiskinanlah sumbangsih terbesar yang mengancam hak hidup anak-anak kita sendiri." (Halaman 12).
Saya berhenti sejenak setelah membaca kalimat tersebut. Rasanya sulit membantah kenyataan yang disampaikan penulis. Kemiskinan memang bukan sekadar soal kekurangan uang. Ia bisa membatasi pendidikan, kesehatan, kesempatan, bahkan harapan hidup seseorang. Petikan dialog ini menjadi pintu masuk yang sangat baik untuk memahami keseluruhan isi novel.
Tokoh utama novel ini adalah Nyonya Mendut, seorang buruh linting rokok yang sehari-harinya berjuang demi keluarganya. Ia bukan perempuan kaya, bukan pula orang yang memiliki kekuasaan. Namun justru dari sosok sederhana inilah pembaca belajar bahwa harga diri tidak pernah ditentukan oleh pekerjaan ataupun status sosial.
Konflik mulai berkembang ketika kehidupan Mendut semakin terhimpit oleh keadaan. Suaminya, Man Sapar, sebenarnya telah mencium adanya persekongkolan antara pengusaha rokok dan pejabat pemerintah. Sayangnya, ia meninggal dunia sebelum sempat mengungkap semuanya kepada masyarakat. Sejak saat itulah Mendut harus melanjutkan perjuangan yang belum selesai.
Perjalanan Mendut kemudian bersinggungan dengan dua tokoh penting lainnya, yaitu Abdul Basith Hikam, seorang aktivis LSM, dan Fajar Abdillah, seorang jurnalis. Keduanya memiliki latar belakang dan sudut pandang berbeda. Mereka bahkan bukan sahabat. Akan tetapi, sebuah peristiwa mempertemukan mereka dalam ikatan batin yang unik melalui perjuangan Mendut.
Yang membuat saya menyukai novel ini adalah caranya menghadirkan persoalan dari berbagai sudut pandang. Penulis tidak sedang menggurui pembaca atau memaksa kita berpihak kepada satu kelompok.
Sebaliknya, S. Jai justru memperlihatkan betapa rumitnya persoalan di balik industri rokok, kehidupan buruh, kebijakan pemerintah, kepentingan pengusaha, aktivis, media, hingga masyarakat kecil.
Oleh karena itu, saya merasa novel ini tidak sedang berkhutbah tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Novel ini lebih mengajak pembaca memahami bahwa kenyataan hidup selalu memiliki banyak sisi. Tidak ada jawaban yang benar-benar hitam atau putih.
Yang paling mengesankan adalah cara Mendut melakukan perlawanan. Ia tidak mengangkat senjata, tidak pula mengobarkan kebencian. Perlawanan yang dipilihnya adalah perlawanan moral. Ia berusaha mempertahankan keyakinan, harga diri, dan kehormatan sebagai manusia. Semua itu ia lakukan demi masa depan putrinya, Mening.
Di sinilah saya menangkap pesan terbesar novel ini. Mendut sadar bahwa hidupnya mungkin tidak akan berubah secara drastis. Namun ia percaya bahwa kehormatan dan keyakinan adalah warisan paling berharga yang dapat diberikan kepada anaknya.
S. Jai juga berhasil menggambarkan kehidupan buruh dengan sangat manusiawi. Ia tidak berlebihan dalam menggambarkan penderitaan, tetapi justru membuat pembaca merasakan sendiri beratnya beban hidup yang dipikul para tokohnya. Ketimpangan sosial, kemiskinan, tekanan ekonomi, hingga ketidakadilan terasa begitu nyata.
Hal lain yang membuat novel ini menarik ialah gaya penceritaannya yang terasa dramatik. Saat membaca beberapa bagian, saya seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan teater. Adegan demi adegan dibangun dengan dialog yang kuat, perpindahan suasana yang hidup, serta konflik yang terus meningkat.
Belakangan saya mengetahui bahwa gaya tersebut memang dipengaruhi oleh pengalaman penulis di dunia teater. Pengaruh itu membuat novel ini memiliki irama yang berbeda dibandingkan novel sosial pada umumnya.
Saya juga merasakan adanya semangat pemberontakan yang mengingatkan pada karya-karya sastra Indonesia klasik. Namun pemberontakan yang dimaksud bukan sekadar melawan dengan kekerasan, melainkan keberanian mempertahankan martabat manusia di tengah ketidakadilan.
Keunggulan lain novel ini adalah keberhasilannya mengangkat isu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Rokok dalam novel ini bukan hanya menjadi komoditas ekonomi, melainkan simbol dari benturan kepentingan antara rakyat kecil, pemerintah, pengusaha, media, dan aktivis. Kompleksitas itulah yang membuat cerita terasa hidup dan relevan hingga sekarang.
Meski demikian, saya mengakui bahwa beberapa bagian novel bergerak cukup lambat karena penulis memberi ruang bagi dialog, perenungan, dan penyampaian berbagai perspektif. Bagi pembaca yang menyukai cerita penuh aksi, ritme seperti ini mungkin terasa sedikit berat. Novel ini memberi kesempatan kepada pembaca untuk ikut berpikir, bukan sekadar mengikuti alur cerita.
Novel ini sesungguhnya berbicara tentang manusia. Tentang bagaimana seseorang tetap memilih jujur ketika dunia mengajarkan kelicikan. Tentang bagaimana seseorang tetap menjaga martabat saat kemiskinan berusaha merampas segalanya.
Novel ini berhasil menunjukkan bahwa harga diri sering kali menjadi benteng terakhir yang dimiliki manusia. Ketika harta telah habis, kekuasaan tak dimiliki, dan keadilan sulit ditemukan, martabatlah yang membuat seseorang tetap tegak berdiri.
Kemiskinan memang dapat merampas banyak hal, tetapi selama manusia masih menjaga kehormatan dan keberaniannya untuk memperjuangkan kebenaran, harapan akan selalu menemukan jalannya.
Identitas Buku
Judul: Khutbah di Bawah Lembah
Penulis: S. Jai
Penerbit: Kaktus, Banguntapan Yogyakarta
Cetakan: I, 2022
Tebal: 308 Halaman
ISBN: 978-602-0795-93-5
Genre: Fiksi/Novel
Baca Juga
-
Melihat Wajah Asli Jakarta Lewat Buku Tiada Ojek di Paris Karya Seno Gumira Ajidarma
-
Seorang Tokoh Cerita yang Menderita: Kisah-kisah Kecil dengan Gagasan Besar
-
Pengabdian Menjadi Kenangan yang Tak Terlupakan dalam Buku KKN Ceria
-
Review Jujur Drunken Molen: Humor Absurd yang Diam-Diam Menertawakan Hidup
-
Buku Kisah-Kisah Nyesek saat KKN: Dari Lele Kuning hingga Begal Kampung
Artikel Terkait
-
Norwegian Wood: Novel Tentang Cinta, Trauma, Kesepian, dan Keberanian Bertahan
-
Rusia Rekrut Warga Miskin Jadi Tentara Perang, Dijanjikan Uang Melimpah
-
Ulasan Emma: Ketika Mak Comblang Belajar Tentang Cinta Sejati
-
Ulasan Lassie Come-Home: Kisah Kesetiaan Anjing yang Menembus Jarak dan Waktu
-
Ulasan Novel Playing Victim, Skenario Palsu yang Berujung Pertaruhan Nyawa
Ulasan
-
Juminten Edan: Suguhkan Kisah Duka dan Trauma dalam Balutan Misteri Gaib!
-
Review Drama Love Designer, Kisah Cinta Seorang Designer dan Bos E-Commerce
-
Review Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan: Tujuh Kisah Tentang Sepi dan Kehilangan
-
Sisi Lain The East Palace: Banjir Plot Twist, Siapa Arwah Kolam Sebenarnya?
-
The East Palace: Kisah Epik Perebutan Takhta dengan Balutan Horor yang Nagih
Terkini
-
Sinopsis Welcome to the Jungle, Film Terbaru Akshay Kumar dan Disha Patani
-
Universitas Republik Indonesia dan Ironi Kesejahteraan Tenaga Pendidik
-
Rakyat Tidak Keberatan Membayar Pajak, Asal Negara Tahu Cara Mengelolanya
-
Ulasan A Bloody Lucky Day: Saat Keberuntungan Menjadi Awal Malapetaka
-
Review My Name: Perempuan yang Menghabiskan Hidupnya demi Balas Dendam