Lintang Siltya Utami | Harsa Permata
Dua karakter utama serial The Early Spring yang tengah trending di platform Netflix (Netflix)
Harsa Permata

Awalnya saya kurang begitu suka dengan serial drama percintaan. Akan tetapi, istri saya, Triani, ternyata bisa mempengaruhi saya untuk menonton serial The Early Spring, yang sekarang lagi trending di Netflix. Ini bukan drama Korea atau drakor, melainkan drama China atau drachin.

Alurnya juga tidak seperti drakor, yang biasanya happy ending percintaan karena kebaikan hati borjuis atau bangsawan feodal kepada rakyat biasa. The Early Spring berbeda sekali.

Memang kisah percintaan antara orang kaya dan orang miskin tetap terjadi. Di serial ini, kisah tersebut terjadi antara karyawan baru yang fresh graduate, Shang Zitao yang diperankan Sun Qian, dengan bosnya yang angkuh dan menyebalkan, yaitu Luke atau Luan Nian yang diperankan Jing Boran. Mereka berdua bekerja di sebuah perusahaan periklanan terbesar di Beijing.

Kisah cinta mereka bermula dari sebuah kecelakaan yang tidak disengaja. Tao, si perempuan, tidak sengaja memesan 10 margarita di sebuah bar. Saat itu dia ceritanya sedang kursus bahasa asing dengan seorang native speaker bahasa Inggris. Karena sudah terlanjur memesan, Tao berusaha menghabiskannya sehingga membuat dirinya mabuk.

Ketika guru bahasa Inggris tersebut ingin mengajaknya pulang bersama, Luke, bosnya yang kebetulan ada di bar tersebut, mencegah hal itu. Ia kemudian membawa Tao ke apartemennya, dan terjadilah apa yang mengawali kisah cinta mereka di sana.

Tao sebenarnya kurang begitu suka dengan Luke yang sangat angkuh dan sering kali kasar dalam menjawab pertanyaannya. Seperti misalnya ketika Tao diharuskan mewawancarai Luke sebagai salah satu tradisi bagi karyawan baru.

“Mengapa Anda ingin bekerja di sini?” tanya Tao.

Luke menjawab, “Untuk bersenang-senang.”

Sebelumnya Luke juga mengatakan kalau dia tidak suka pekerjaannya, tetapi dia suka gajinya yang besar.

Bagi saya, jawaban Luke ini sudah menunjukkan bagaimana karakter dirinya pada awal cerita. Ia memiliki pekerjaan dengan gaji besar, berasal dari keluarga berada, memiliki pengalaman dan koneksi, sehingga tidak terlalu membutuhkan pekerjaan itu untuk mempertahankan hidupnya.

Tao berbeda. Ia adalah seorang fresh graduate yang baru masuk ke dunia kerja. Ia tidak mempunyai uang banyak maupun koneksi seperti Luke. Karena itu, untuk mendapatkan sesuatu, ia harus bekerja lebih keras.

Di sinilah menurut saya menariknya The Early Spring. Serial ini tidak hanya bercerita tentang cinta antara laki-laki dan perempuan. Di balik kisah percintaan tersebut, ada persoalan tentang status sosial, pekerjaan, uang, koneksi, perjuangan, dan perubahan nasib manusia.

Ada satu bagian yang menurut saya paling menarik secara filosofis. Tao akhirnya memutuskan berhenti bekerja karena promosi yang seharusnya diberikan kepada dirinya ternyata malah diberikan kepada karyawan baru yang berasal dari keluarga kaya dan mempunyai koneksi internal perusahaan.

Tao kecewa. Akan tetapi, kekecewaan tersebut tidak membuatnya berhenti berusaha. Ia kemudian memutuskan mendirikan sebuah perusahaan event organizer di Harbin, tempat asalnya, dengan bekal uang tabungannya. Ia memilih membangun kehidupannya kembali di sana, setelah kecewa dengan perlakuan yang diterimanya di perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya.

Harbin digambarkan sebagai tempat yang sangat dingin, dengan suhu antara minus 22 derajat sampai minus 13 derajat. Tetapi justru di tempat yang dingin itulah Tao mulai membangun sesuatu yang baru.

Sebelum pindah, Tao menyatakan putus hubungan dengan Luke. Menariknya, Luke kemudian malah menyusul Tao ke Harbin. Padahal, sebelum mereka pacaran selama enam tahun, Luke adalah orang yang pernah menolak Tao. Alasannya, Tao dianggap kurang pengalaman, masih fresh graduate, tidak mempunyai koneksi dan tidak mempunyai uang.

Tiga tahun setelah mereka berpisah, keadaan ternyata berubah. Perusahaan tempat Luke bekerja mengadakan sebuah acara di Harbin. Perusahaan EO milik Tao kemudian menjadi vendor penyelenggara acara tersebut.

Di sanalah Luke bertemu lagi dengan Tao. Tetapi Tao yang ditemuinya bukan lagi Tao yang dulu. Tao sudah mempunyai perusahaan sendiri. Ia sudah mapan dan mempunyai kehidupannya sendiri. Sekarang justru Luke yang mengejar Tao.

Di sinilah saya melihat ada sebuah filsafat yang tersembunyi di dalam The Early Spring: jangan pernah meremehkan orang yang sedang berjuang. Kita sering kali menilai seseorang berdasarkan keadaannya hari ini. Orang yang tidak punya uang kita anggap tidak mempunyai masa depan. Orang yang masih fresh graduate kita anggap belum mempunyai kemampuan. Orang yang tidak punya koneksi kita anggap tidak akan mampu bersaing dengan orang yang mempunyai keluarga kaya.

Padahal, keadaan manusia tidak pernah benar-benar tetap. Herakleitos, filsuf Yunani kuno, mempunyai pandangan yang sangat terkenal mengenai perubahan. Dunia senantiasa berubah. Apa yang kita lihat sekarang tidak akan selalu menjadi keadaan yang sama pada masa mendatang.

Dalam konteks Tao, perubahan itu bukan datang begitu saja. Tao memperjuangkan perubahan tersebut. Ketika mengalami ketidakadilan dalam pekerjaannya, ia memang kecewa. Tetapi ia tidak kemudian terus-menerus mengeluhkan nasibnya. Ia memilih keluar dari perusahaan dan mendirikan perusahaan sendiri. Keputusan tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah, karena ia harus menggunakan uang tabungannya dan memulai kehidupan baru di Harbin.

Dari sinilah menurut saya pelajaran terpenting dari serial ini muncul. Perubahan ke arah yang lebih baik harus diperjuangkan. Kita memang tidak selalu bisa menentukan keadaan yang kita hadapi. Tao juga tidak bisa menentukan siapa yang mendapatkan promosi di perusahaan lamanya. Ia tidak bisa mengubah kenyataan bahwa orang lain mempunyai keluarga kaya dan koneksi internal perusahaan.

Tetapi Tao bisa menentukan apa yang akan dilakukannya setelah mengalami kekecewaan tersebut. Ia memilih bangkit. Dan keputusan itulah yang kemudian mengubah kehidupannya.

Ada sesuatu yang juga menarik dari perubahan hubungan Tao dan Luke. Pada awalnya Luke berada di posisi yang lebih tinggi. Ia adalah bos, sedangkan Tao adalah bawahan. Luke mempunyai uang, pengalaman dan koneksi, sementara Tao hanya seorang fresh graduate yang sedang berusaha mencari tempat di dunia kerja.

Namun, waktu mengubah semuanya. Orang yang dulu dianggap belum cukup pantas justru menjadi orang yang kemudian dikejar. Ini menunjukkan bahwa status sosial, jabatan, kekayaan dan posisi seseorang sebenarnya bukan sesuatu yang abadi.

Hari ini kita bisa berada di atas. Besok bisa saja kita berada di bawah. Hari ini kita bisa menganggap seseorang tidak mempunyai apa-apa. Beberapa tahun kemudian, orang tersebut bisa saja mempunyai sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Karena itu, menurut saya, jangan terlalu angkuh hanya karena kita sedang berada dalam posisi yang lebih baik. Jangan pula terlalu rendah diri hanya karena saat ini kita sedang berada dalam posisi yang sulit. Sebab keadaan manusia selalu bisa berubah.

Tao adalah gambaran tentang hal tersebut. Ia tidak mempunyai privilese seperti orang-orang yang sejak awal sudah mempunyai modal ekonomi dan koneksi. Tetapi ia mempunyai kemauan untuk bekerja, keberanian mengambil risiko dan kemampuan untuk bangkit setelah mengalami kegagalan.

Dalam hal ini, Tao juga bisa kita lihat sebagai representasi dari kebangkitan Tiongkok. Dulu Tiongkok sering dipandang sebelah mata oleh Barat dan negara-negara maju lainnya. Tiongkok pernah berada dalam posisi yang jauh lebih lemah dibandingkan negara-negara Barat.

Namun, keadaan tersebut berubah. Dengan kerja keras secara kolektif, Tiongkok kemudian bangkit menjadi salah satu negara adikuasa dunia.

Negara yang dahulu dipandang sebelah mata tersebut sekarang justru menjadi negara yang tidak bisa diabaikan oleh negara-negara besar lainnya. Bahkan Amerika Serikat yang selama ini menjadi salah satu kekuatan terbesar dunia harus memperhitungkan Tiongkok dalam berbagai persoalan ekonomi dan politik global.

Bagi saya, di sinilah analogi Tao dengan Tiongkok menjadi menarik. Tao tidak mengubah hidupnya dengan mengeluh bahwa dirinya tidak mempunyai koneksi. Tiongkok juga tidak menjadi kekuatan besar hanya dengan mengeluhkan keadaan masa lalunya. Keduanya berubah karena ada usaha untuk berubah.

Tentu saja, sebuah negara jauh lebih kompleks daripada seorang individu. Karena itu, saya tidak mengatakan bahwa Tao sengaja dibuat sebagai simbol kebangkitan Tiongkok. Ini lebih merupakan cara saya membaca serial tersebut setelah melihat perjalanan tokohnya.

Yang menarik adalah bagaimana perubahan posisi tersebut juga mengubah cara orang memandang seseorang. Ketika Tao masih seorang karyawan baru, ia harus membuktikan dirinya. Ketika ia sudah mempunyai perusahaan sendiri, orang lain mulai melihatnya secara berbeda.

Ini sebenarnya juga sering terjadi dalam kehidupan kita. Kadang-kadang orang bukan tidak mampu, tetapi belum mendapatkan kesempatan. Kadang-kadang orang bukan tidak mempunyai potensi, tetapi belum mempunyai ruang untuk menunjukkan kemampuannya. Dan kadang-kadang kita terlalu cepat menilai seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat hari ini.

Padahal, manusia bukan benda mati. Manusia bisa belajar, bekerja keras, gagal, bangkit, dan berubah. Itulah sebabnya saya merasa The Early Spring lebih menarik daripada sekadar drama percintaan antara bos dan karyawan.

Kisah cinta Tao dan Luke memang menjadi bagian utama serial ini. Tetapi bagi saya, kisah yang lebih menarik justru adalah perjalanan Tao mengubah dirinya sendiri. Ia pernah menjadi orang yang diremehkan. Ia pernah kehilangan kesempatan mendapatkan promosi. Ia pernah kecewa. Ia pernah memutuskan meninggalkan orang yang dicintainya.

Tetapi semua itu tidak membuat hidupnya berhenti. Malah, dari kekecewaan itulah ia memulai kehidupan baru. Pada akhirnya, mungkin inilah pelajaran yang paling sederhana dari The Early Spring: jangan meremehkan orang yang sedang berjuang.

Kita tidak pernah tahu akan menjadi seperti apa seseorang beberapa tahun kemudian. Dan jangan pula menganggap diri kita akan selamanya berada di tempat yang sama. Sebab seperti yang dikatakan Herakleitos, segala sesuatu senantiasa berubah. Orang yang hari ini berada di bawah bisa saja suatu hari berada di atas. Orang yang hari ini diremehkan bisa saja suatu hari menjadi orang yang justru dicari.

Yang penting, ketika keadaan sedang tidak berpihak kepada kita, jangan berhenti berjuang. Sebab perubahan memang tidak selalu datang kepada mereka yang hanya menunggu. Malah sering kali perubahan datang kepada mereka yang berani memperjuangkannya.