Buku Negeri Kabut berisi dua belas cerpen, yakni Negeri Kabut, Seorang Wanita dengan Rajah Kupu-Kupu di Dadanya, Long Puh, Ada Kupu-Kupu Ada Tamu, Rembulan Terapung di Kolam Renang, Sukab Menggiring Bola, Panji Tengkorak Menyeret Peti, Di Tepi Sungai Parfum, Menari di Atas Gong, Perahu yang Muncul dari Balik Kabut, Ratri & Burung Bangau, dan Tempat yang Terindah untuk Mati.
Sebelum membacanya, saya sempat berpikir buku ini akan menjadi bacaan yang ringan karena bentuknya kumpulan cerpen. Apalagi saya pernah membaca beberapa karya Seno lainnya dan cukup akrab dengan cara bertuturnya. Ternyata saya keliru.
Negeri Kabut membawa saya masuk lebih jauh ke wilayah imajinasi Seno. Dunia yang dibangunnya terasa seperti dunia nyata yang perlahan kehilangan batas antara masuk akal dan tidak masuk akal. Di sana, kupu-kupu bisa menjadi pertanda, kabut menyimpan dunia lain, perjalanan bisa menjadi pelarian dari kenyataan, dan kematian bahkan dapat dibayangkan sebagai tempat yang indah.
Membaca Cerita, Menafsirkan Imajinasi
Cerpen Negeri Kabut menjadi pintu masuk yang menarik. Tokoh aku dalam cerita adalah seorang pengembara yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ia mencari sesuatu, tetapi semakin jauh berjalan, semakin ia mempertanyakan apa sebenarnya yang sedang dicari.
“Apakah aku pergi mengembara untuk mencari ilmu? Jangan-jangan sebenarnya aku pergi menyeberangi laut, mendaki gunung, menuruni lembah dari negeri satu ke negeri lain hanya untuk lari dari kenyataan bahwa aku sebenarnya tidaklah terlalu tabah menghadapi penderitaan?” (halaman 8, “Negeri Kabut”)
Bagi saya, kalimat tersebut tidak hanya berbicara tentang seorang pengembara. Ia seperti sedang berbicara kepada siapa saja yang pernah berusaha menjauh dari sesuatu yang tidak ingin dihadapinya.
Bukankah kadang kita juga begitu? Kita mengatakan sedang mencari pengalaman, mengejar cita-cita, menuntut ilmu, atau ingin menemukan kehidupan yang lebih baik. Tetapi diam-diam, mungkin ada bagian dari diri kita yang sebenarnya sedang berusaha melarikan diri dari kenyataan. Di titik seperti ini, cerpen Seno terasa dekat meskipun dunia yang dibangunnya terasa asing.
Kupu-Kupu, Pertanda, dan Tamu yang Mengejutkan
Salah satu cerpen yang paling saya nikmati adalah “Ada Kupu-Kupu, Ada Tamu.” Cerpen ini mengambil topik kepercayaan terhadap tanda-tanda yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Kupu-kupu masuk rumah, misalnya, sering dianggap sebagai pertanda akan datangnya tamu. Ada pula berbagai kepercayaan lain tentang belalang, burung, suara tertentu, atau kejadian-kejadian kecil yang dianggap sebagai pertanda sesuatu.
Seno mengambil kepercayaan sederhana tersebut, kemudian membawanya ke wilayah imajinasi yang tidak saya duga.
“Bunga-bunga dan kupu-kupu, aku tak tahu kenapa kita sibuk dengan tanda-tanda.” (halaman 38, “Ada Kupu-Kupu, Ada Tamu”)
Kalimatnya sederhana, tetapi setelah membaca keseluruhan cerpen, kalimat itu terasa seperti pertanyaan yang lebih besar, mengapa manusia selalu ingin mencari arti di balik sesuatu?
Kita sering menghubungkan kejadian dengan kejadian lain. Kita mencari pertanda sebelum mengambil keputusan. Bahkan terkadang kita percaya bahwa sesuatu akan terjadi hanya karena sebuah kebetulan kecil.
Yang membuat saya tertarik adalah bagaimana Seno mengolah kebiasaan sehari-hari tersebut menjadi cerita surealis yang terasa ganjil, tetapi tetap menyimpan sesuatu yang akrab. Tentu saja, saya cukup terkejut dengan siapa “tamu” yang akhirnya datang.
Ending-nya khas Seno. Bukan akhir yang sekadar menyelesaikan cerita, melainkan akhir yang membuat pembaca seperti ditinggalkan sendirian untuk menafsirkan apa yang baru saja terjadi.
Ketika Imajinasi Menjadi Terlalu Liar
Cerpen lain yang juga menarik bagi saya adalah “Seorang Wanita dengan Rajah Kupu-Kupu di Dadanya.” Kupu-kupu kembali muncul. Tetapi kali ini bukan sekadar pertanda. Kupu-kupu menjadi bagian dari tubuh, imajinasi, cahaya, sekaligus misteri.
“Segala sesuatu terjadi tanpa perhitungan baik buruk untung rugi, segala sesuatu terjadi begitu saja tanpa siasat, tanpa gaya, tanpa cita-cita, bahkan barangkali juga tanpa nafsu birahi sama sekali.” (halaman 25, “Seorang Wanita dengan Rajah Kupu-Kupu di Dadanya”)
Cerita seperti ini menunjukkan kekuatan Seno dalam memainkan surealisme. Tetapi saya juga harus jujur bahwa tidak semua cerpen di buku ini mudah saya cerna. Beberapa kali saya harus berhenti dan bertanya, “Jadi, ini tadi maksudnya bagaimana?” Hehehe.
Mungkin persoalannya bukan pada ceritanya, melainkan pada saya sebagai pembaca. Saya terbiasa mencari alur, konflik, sebab-akibat, lalu kesimpulan. Sementara Seno justru seperti mengajak saya melepaskan kebiasaan tersebut.
Di Negeri Kabut, tidak semua hal harus selesai dengan jawaban. Kadang kita memang hanya diminta berjalan di dalam kabut.
Antara Keindahan dan Rasa Bosan
Salah satu hal yang saya rasakan ketika membaca buku ini adalah gaya Seno yang sangat khas. Ia menyukai pengulangan. Ia gemar menyusun kalimat dengan pola yang berulang. Ia juga senang memperpanjang sebuah gagasan, membiarkan cerita bergerak perlahan, lalu menyelipkan metafora yang indah.
Pada satu cerpen, cara tersebut terasa memikat. Tetapi ketika pola yang sama terus muncul dari satu cerpen ke cerpen berikutnya, saya mulai merasa sedikit lelah.
Ini mungkin salah satu kelemahan yang saya rasakan secara pribadi dari Negeri Kabut. Keindahan bahasa yang pada awalnya memikat, lama-lama bisa terasa repetitif.
Dua belas cerita di dalamnya seperti hidangan yang sebaiknya dinikmati satu per satu. Jangan dipaksa habis sekaligus. Berikan jeda. Biarkan satu cerita mengendap sebelum berpindah ke cerita berikutnya.
Saya Menyukai “Rembulan Terapung di Kolam Renang”
Selain Ada Kupu-Kupu, Ada Tamu, cerpen yang cukup membekas bagi saya adalah “Rembulan Terapung di Kolam Renang.” Cerpen ini menarik karena di balik dunia imajinatifnya terdapat sentilan terhadap kehidupan sosial. Ada gambaran tentang kemewahan dan orang-orang kaya yang hidup dalam ruang yang berbeda dari kebanyakan masyarakat.
Seno tidak harus berteriak untuk menyampaikan kritik. Ia bisa menyelipkannya melalui cerita yang tampak sederhana dan ganjil. Inilah salah satu hal yang saya suka dari karya Seno.
Kritik tidak selalu harus disampaikan dengan kalimat keras. Kadang cukup dengan sebuah cerita. Kadang cukup dengan membuat pembaca tersenyum, kemudian beberapa detik setelahnya baru sadar, “Oh, ternyata yang sedang ditertawakan adalah kita sendiri.”
“Sukab”, Kabut, dan Dunia yang Tidak Biasa
Cerpen “Sukab Menggiring Bola” juga memberikan pengalaman membaca yang menarik. Begitu pula “Perahu yang Muncul dari Balik Kabut.”
Keduanya menunjukkan bagaimana Seno dapat mengambil sesuatu yang biasa, kemudian menggesernya sedikit saja dari kenyataan sampai akhirnya menjadi sesuatu yang terasa absurd. Saya menyukai permainan seperti ini.
Membaca dua belas cerpen dalam buku ini seperti membaca dongeng yang tiba-tiba mewujud di depan mata. Kita tahu dunia itu tidak masuk akal, tetapi kita tetap bersedia mempercayainya untuk beberapa halaman. Mungkin memang itulah tugas sastra. Bukan selalu membuat kita percaya kepada kenyataan, melainkan sesekali membuat kita berani memasuki sesuatu yang tidak mungkin.
Perjalanan dan Pertanyaan tentang Pulang
Satu tema besar yang menurut saya terasa kuat dalam buku ini, yaitu perjalanan manusia mencari sesuatu. Keinginan manusia sering kali membawa seseorang pergi jauh. Tetapi setelah perjalanan itu dilakukan, belum tentu ia menemukan apa yang dicari.
Dalam Negeri Kabut, ada pengakuan yang sangat manusiawi, “Sudah begitu lamanya aku berjalan, mengembara ke seluruh penjuru bumi, meninggalkan kampung halaman, sanak saudara dan pekerjaan, tapi sampai hari ini aku bahkan tidak juga tahu apa yang kucari.”
Narasi itu terasa relevan dengan kehidupan sekarang. Anak-anak muda hari ini juga sedang melakukan perjalanan panjang. Ada yang mengejar pendidikan. Ada yang mengejar pekerjaan. Ada yang mengejar popularitas. Ada yang ingin sukses sebelum usia tertentu. Ada yang setiap hari membandingkan kehidupannya dengan orang lain melalui media sosial.
Kita terus bergerak. Tapi, apakah kita benar-benar tahu apa yang sedang kita cari?
Barangkali pertanyaan semacam ini justru membuat Negeri Kabut tetap relevan dibaca generasi muda. Buku ini mengingatkan bahwa perjalanan hidup tidak selalu harus berakhir dengan menemukan sesuatu. Terkadang, perjalanan itu sendiri adalah bagian dari proses mengenal diri.
Bagi saya pribadi, Negeri Kabut adalah rasa baru dari Seno Gumira Ajidarma. Saya pernah menikmati karya-karyanya yang lebih mudah saya ikuti, tetapi buku ini membawa saya ke wilayah yang lebih pekat: surealisme, simbol, metafora, dan imajinasi yang terkadang membuat saya harus membaca ulang.
Ada cerpen yang membuat saya tersenyum. Ada yang membuat saya terdiam. Ada yang membuat saya bertanya-tanya. Ada pula yang membuat saya sedikit lelah. Tetapi bukankah buku yang baik tidak selalu harus membuat kita nyaman?
Kadang buku yang baik justru membuat kita berhenti, berpikir, kemudian melihat sesuatu dari sudut yang berbeda. Dan Seno melakukan itu dengan caranya sendiri.
Identitas Buku
- Judul: Negeri Kabut
- Penulis: Seno Gumira Ajidarma
- Penerbit: Grasindo
- Cetakan: Cetak Ulang, Oktober 2016
- Tebal: 157 Halaman
- ISBN: 978-620-375-729-9
- Genre: Fiksi Indonesia/Kumpulan Cerpen
Baca Juga
-
Huawei Mate XT 2 Ultimate Resmi Meluncur: Tri-Fold Premium dengan Kirin 9050 Pro dan Layar Privasi
-
Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra untuk Kerja Lebih Cerdas: Multitasking Tanpa Banyak Berpindah Aplikasi
-
Lenovo Idea Tab Plus 2026: Tablet Layar 12,1 Inci yang Siap Menemani Kerja dan Belajar
-
Tecno Pova 8 Pro 5G Resmi di Indonesia, Bawa Layar 144Hz dan Dual Chipset
-
Xiaomi SU7 Makin Buas, Sedan Listrik Pintar dengan Jangkauan hingga 902 Km
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Buku Modal Ngeblog Bisa Sampai Yurop: Meraih Peluang Lewat Tulisan
-
Review Siren's Kiss: Tentang Perempuan yang Dituduh Membunuh Orang-orang di Sekitarnya
-
Review Film The Runner: Aksi Mencekam Gal Gadot Menyusuri Kota London!
-
Pasta Kacang Merah: Kisah Sederhana tentang Harapan, Stigma, dan Arti Kehidupan
-
1 Kakak 7 Ponakan: Saat Menjadi Dewasa Bukan Lagi Sebuah Pilihan
Terkini
-
Punya Kulit Sawo Matang? Ini 5 Lip Matte yang Bikin Wajah Makin Fresh
-
Jalan Sore Pukul Panci, Suara Ibu Indonesia Protes MBG di Jogja
-
Pendidikan Indonesia: Terlalu Banyak Program, Terlalu Sedikit Kemajuan
-
Dilema Mental Gratisan: Membongkar Kemalasan dan Desakan Ekonomi Gen Z
-
Tumbler, Status Sosial Baru, dan Jebakan Elitisme Gaya Hidup Ramah Lingkungan