Industri televisi Tiongkok modern dalam beberapa dekade terakhir mengalami pergeseran signifikan dari narasi eskapisme sejarah menuju pengatapan realisme domestik yang mengakar kuat pada ingatan kolektif masyarakat. Di tengah gelombang tersebut, rumah produksi Daylight Entertainment merilis drama The Bond pada 17 Agustus hingga 8 September 2021.
Disutradarai oleh Zhang Kaizhou dan diadaptasi dari novel karya Wei Xi dengan skenario oleh Yang Xiaoyan, drama sepanjang 36 episode ini berlatar waktu dari dekade 1970-an hingga pertengahan 2000-an. Drama ini berhasil meraih pengakuan kritis yang luas.
Sinopsis Drama The Bond
Bermula pada tahun 1977 di Nanjing, bertepatan dengan lahirnya anak kelima keluarga Qiao, yaitu Qiao Qiqi. Kelahiran tersebut diwarnai duka mendalam karena sang ibu meninggal dunia sesaat setelah persalinan, meninggalkan kelima anaknya, Yicheng, Erqiang, Sanli, Simei, dan Qiqi dalam cengkeraman ketidakpastian.
Situasi semakin memprihatinkan karena kepala keluarga, Qiao Zuwang (Liu Jun), merupakan sosok ayah yang sangat egois, tidak bertanggung jawab, serta lebih mengutamakan kegemaran berjudi dan kesenangan pribadi dibandingkan kesejahteraan anak-anaknya.
Kondisi patriarkal yang abai ini memaksa putra sulung, Qiao Yicheng (Huang Yi), yang masih berusia 12 tahun untuk mengambil alih peran sebagai kepala rumah tangga.
Seiring berjalannya waktu dari era 1970-an hingga awal 2000-an, Yicheng memikul beban berat untuk memastikan adik-adiknya mendapatkan gizi, pendidikan, dan perlindungan moral. Qiao Erqiang (Zhang Wanyi) tumbuh menjadi pemuda yang kurang berminat pada akademisi namun berhati tulus, Qiao Sanli (Mao Xiaotong) berkembang menjadi anak perempuan yang rasional meski membawa trauma kejahatan seksual masa kecil, Qiao Simei (Song Zu'er) menjadi sosok impulsif yang dibutakan oleh obsesi romantisme, sementara Qiao Qiqi (Zhou Yiran) tumbuh di bawah asuhan keluarga paman dengan kepribadian yang tertutup.
Memasuki usia dewasa, kelima bersaudara ini menghadapi badai kehidupan masing-masing, meliputi keretakan rumah tangga, perceraian, perselingkuhan, kegagalan finansial, hingga ancaman penyakit kritis. Kendati demikian, benteng ikatan persaudaraan yang telah teruji oleh penderitaan masa kecil tetap menjadi fondasi kokoh yang menyatukan mereka kembali dalam setiap titik krisis kehidupan.
Kelebihan
Pencapaian artistik utama The Bond bersumber dari kualitas akting ansambel yang sangat autentik dan mendalam di seluruh jajaran pemerannya. Bai Yu memberikan penampilan yang fenomenal dalam mentransmisikan kompleksitas emosional Qiao Yicheng dari seorang pemuda yang emosional dan kaku menjadi sosok dewasa yang tenang namun secara psikologis kelelahan akibat memikul ekspektasi keluarga.
Jajaran pemeran anak-anak pada babak awal cerita turut memberikan kontribusi krusial lewat akting yang menyayat hati, khususnya pada adegan-adegan saat Yicheng kecil menangis di hadapan pamannya karena ketidakmampuannya menanggung beban rumah tangga.
Selain faktor keaktorannya, drama ini menunjukkan ketelitian luar biasa dalam merekonstruksi realisme sejarah dan tata artistik zaman. Tim produksi secara cermat memperlihatkan evolusi kehidupan masyarakat Tiongkok kelas bawah dan menengah, mulai dari krisis pemukiman padat di era 1970-an, transisi ekonomi pasar, perkembangan teknologi perkomunikasian, hingga dinamika sistem kesehatan dan pendidikan.
Kekurangan
Terlepas dari berbagai keunggulannya, The Bond tidak luput dari sejumlah keterbatasan struktural, terutama yang berkaitan dengan ritme penceritaan di bagian akhir drama. Keputusan untuk memadatkan materi novel karya Wei Xi ke dalam format 36 episode menyebabkan beberapa busur cerita di babak ketiga terasa mengalami percepatan yang tergesa-gesa.
Resolusi konflik terkait penyakit kritis yang dialami Qiao Yicheng serta rekonsiliasi emosional antar-karakter terasa dikompresi secara drastis jika dibandingkan dengan pembentukan alur di babak-babak awal, sehingga mengurangi dampak emosional puncak yang seharusnya dapat dieksplorasi secara lebih mendalam.
Kesimpulan
Secara menyeluruh, The Bond (2021) merupakan sebuah penceritaan drama keluarga yang sangat matang, di mana keindahan estetikanya terletak pada keberanian untuk merayakan ketidaksempurnaan hidup.
Bagi para penikmat drama televisi, The Bond adalah salah satu standar tertinggi dalam genre slice-of-life kontemporer. Serial ini membuktikan bahwa di balik kepahitan hidup dan kehancuran yang berulang, kehangatan hubungan antar-manusia tetap mampu menjadi lentera yang menerangi jalan menuju pemulihan.
Tag
Baca Juga
-
Review Drama Spooky In Love, Mengungkap Kejahatan dari Cerita Para Arwah
-
Drama To My Beloved Thief, Ketika Jiwa Seorang Pangeran Masuk ke dalam Jiwa Pencuri
-
Drama Undercover Miss Hong, Perjalanan Membongkar Skandal Investasi Bodong
-
Drama The Art Of Sarah, Sisi Gelap Obsesi Manusia terhadap Hidup Mewah
-
Drama Our Sticky Love, Misteri Kecelakaan yang Berakhir Hubungan Pura-Pura
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
Terkini
-
Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog
-
Warisan Resep Dapur Ibu
-
Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai