Proses mencari pekerjaan tidak cukup hanya mengirim CV. Ada serangkaian tahapan yang harus dilewati sebelum seseorang benar-benar bisa mendapatkan pekerjaan, dan interview menjadi salah satu bagian yang cukup menentukan. Oleh karena itu, cara perusahaan menyelenggarakan interview juga ikut memengaruhi pengalaman calon pekerja dalam menjalani proses tersebut.
Perkembangan teknologi membuat wawancara kerja tidak lagi harus berlangsung di ruangan kantor. Percakapan antara perekrut dan kandidat dapat dilakukan secara online. Di sisi lain, interview tatap muka masih digunakan oleh banyak perusahaan karena pertemuan langsung menawarkan pengalaman yang berbeda.
Lantas, apakah interview memang harus selalu dilakukan secara langsung? Atau, untuk beberapa kondisi, interview online justru menawarkan proses yang lebih efisien?
Interview Online Memang Lebih Praktis
Kalau melihat dari sisi recruiter, saya merasa interview online punya banyak kemudahan yang kadang tidak terlalu terlihat dari sisi kandidat. Salah satunya adalah urusan mengatur jadwal.
Recruiter bisa menyesuaikan waktu interview tanpa harus memikirkan apakah kandidat perlu datang dari tempat yang jauh atau apakah ruangan di kantor sedang tersedia.
Pengaturan jadwal juga terasa lebih fleksibel. Ada kalanya recruiter atau kandidat tiba-tiba punya keperluan lain sehingga jadwal harus diubah. Dalam interview offline, perubahan semacam ini bisa terasa lebih merepotkan karena ada perjalanan yang sudah dipersiapkan.
Dari sisi waktu pun lebih efisien. Recruiter tidak perlu menunggu kandidat tiba di kantor, dan kandidat juga tidak perlu menyediakan waktu dan biaya tambahan untuk perjalanan.
Tatap Muka Punya Kesan yang Tidak Didapat dari Layar
Ada anggapan bahwa bertemu langsung membuat recruiter bisa lebih mengenal kandidat. Saya bisa memahami pandangan tersebut. Gestur, cara kandidat memasuki ruangan, sampai suasana percakapan bisa terasa lebih natural dibandingkan berbicara melalui layar.
Namun, saya juga tidak yakin semua informasi penting tentang kandidat hanya bisa didapatkan melalui interview offline. Banyak hal yang ingin diketahui recruiter sebenarnya bisa digali lewat pertanyaan, cara kandidat menjelaskan pengalaman, serta bagaimana mereka merespons situasi tertentu.
Jadi, sebenarnya interview offline punya keunggulan dari sisi interaksi langsung, sedangkan online menawarkan fleksibilitas yang sulit diabaikan. Tinggal bagaimana perusahaan menentukan metode yang sesuai dengan tujuan setiap tahapan rekrutmen.
Interview Online dan Tantangan di Baliknya
Meski saya lebih condong ke interview online, ada satu tantangan yang memang tidak bisa saya abaikan, yaitu memastikan kandidat benar-benar memberikan jawaban dari dirinya sendiri.
Di era yang serba instan, kehadiran AI membuat proses interview menjadi sedikit lebih tricky. Kandidat sekarang punya akses ke berbagai alat yang dapat membantu menyusun jawaban dalam hitungan detik.
Masalahnya, recruiter tentu ingin mengetahui cara kandidat berpikir, berkomunikasi, dan menceritakan pengalamannya sendiri. Kalau setiap pertanyaan justru dijawab dengan bantuan AI, recruiter bisa kesulitan melihat kemampuan kandidat yang sebenarnya. Apalagi kalau jawabannya terdengar terlalu rapi, tetapi tidak terasa seperti respons spontan dalam sebuah percakapan.
Oleh karena itu, recruiter perlu menyesuaikan cara bertanya. Pertanyaan yang lebih spesifik, menggali pengalaman pribadi, meminta kandidat menjelaskan proses berpikir, atau memberikan situasi yang membutuhkan respons spontan bisa membantu recruiter mengenali jawaban yang benar-benar berasal dari kandidat.
Memastikan jawaban kandidat tetap autentik memang menjadi PR tersendiri bagi recruiter. Namun, menurut saya, itu bukan alasan untuk mengabaikan kemudahan yang ditawarkan interview online.
Oleh karena itu, saya cukup bisa memahami kenapa banyak jobseeker lebih memilih interview online. Mereka tidak sedang menolak proses seleksi, apalagi malas bekerja. Mereka hanya melihat ada cara yang memungkinkan interview tetap berjalan tanpa harus selalu memperhitungkan biaya, jarak, dan berbagai kerepotan lain.
Baca Juga
-
Destined with You: Kisah Cinta yang Terhalang Kutukan dan Rahasia Masa Lalu
-
Label Expired untuk Perempuan: Mengapa Bertambah Usia Dianggap Kerugian?
-
Nasihat Mindfulness dari Menara Gading: Bijak, Tapi Kurang Napak Tanah
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Saat Program Andalan Memakan Korban, Bukankah Presiden Seharusnya Geram?
Artikel Terkait
Kolom
-
Menko IPK Minta Kota Bersiap, tapi Mengapa Birokrasi Daerah Lambat?
-
Subsidi Besar, Biaya Hidup Naik, Daya Beli Tergerus: Apa yang Keliru?
-
Financial Anxiety: Saat Memikirkan Uang Lebih Melelahkan dari Mencari Uang
-
Mitos Kelas Menengah: Ketika Kelas Ekonomi Gagal Ungkap Kerentanan Pekerja
-
Tall Poppy Syndrome: Ketika Orang Berhasil Justru Dicari Kekurangannya
Terkini
-
Melodi yang Terlambat Didengar
-
Optimis! Fabio Quartararo Yakin Honda Bisa Bangkit di Era MotoGP 2027
-
Oppo Find X10 Siap Debut 22 September: Flagship dengan Kamera 200 MP dan Baterai Jumbo 8.000 mAh
-
Tren Aplikasi Ringkasan Buku: Solusi Hemat Waktu atau Ancaman Daya Kritis?
-
Review Film Once We Were Us: Ternyata Cinta Saja Tak Selalu Cukup