Ada satu hal yang sering kita percayai ketika masih muda, kalau dua orang benar-benar saling mencintai, mereka pasti akan berakhir bersama. Seolah-olah cinta adalah jawaban dari semuanya.
Kalau sama-sama sayang, harusnya bertahan. Kalau masih cinta, harusnya memperjuangkan. Kalau sudah menemukan seseorang yang tepat, rasanya tidak masuk akal kalau hubungan itu harus berakhir. Tapi Once We Were Us justru datang untuk mempertanyakan keyakinan tersebut.
Film yang dibintangi Moon Ga Young sebagai Jeong-won dan Koo Kyo-hwan sebagai Eun-ho ini membawa kita pada kisah dua orang yang bertemu ketika masih muda, saling menemani melewati masa-masa sulit, kemudian tumbuh menjadi sepasang kekasih.
Namun, seperti kehidupan pada umumnya, hubungan mereka tidak hanya berhadapan dengan perasaan. Ada mimpi, pekerjaan, keadaan ekonomi, keluarga, ego, dan berbagai persoalan hidup yang perlahan ikut masuk ke dalam hubungan mereka.
Sepuluh tahun setelah berpisah, keduanya kembali bertemu. Dan dari sinilah film ini terasa semakin menyakitkan. Sebab ternyata waktu tidak benar-benar menghapus seseorang. Ia hanya membuat kita belajar hidup tanpa orang tersebut.
Pertemuan kembali Eun-ho dan Jeong-won membuat mereka melihat lagi masa lalu yang pernah mereka jalani. Tentang bagaimana mereka dulu tertawa bersama, saling mendukung, bermimpi tentang masa depan, sampai akhirnya hubungan itu perlahan kehilangan tempat di tengah kerasnya kehidupan.
Saya justru suka bagaimana film ini tidak menggambarkan cinta mereka sebagai sesuatu yang buruk. Mereka pernah benar-benar saling mencintai. Hanya saja, mencintai seseorang dan mampu menjalani kehidupan bersama orang tersebut adalah dua hal yang berbeda.
Mungkin ini adalah salah satu pelajaran yang cukup penting untuk Gen Z. Kita hidup di zaman ketika hubungan sering kali terlihat sangat sederhana dari luar. Ada istilah red flag, green flag, healing, toxic relationship, sampai relationship goals. Kita mudah memberi label pada sebuah hubungan berdasarkan potongan cerita yang kita lihat.
Padahal hubungan manusia tidak selalu bisa sesederhana itu. Ada pasangan yang saling mencintai tetapi tetap tidak bisa bersama. Ada orang yang sebenarnya baik, tetapi datang di waktu yang salah.
Ada hubungan yang berakhir bukan karena salah satu pihak berhenti mencintai, tetapi karena keduanya sudah tidak bisa berjalan ke arah yang sama.
Once We Were Us mengingatkan kita tentang hal tersebut. Cinta tidak selalu kalah karena ada orang ketiga. Kadang cinta kalah oleh keadaan dan itu mungkin terasa jauh lebih menyakitkan.
Karena kalau ada orang ketiga, mungkin kita bisa marah. Kalau ada pengkhianatan, mungkin kita punya alasan untuk membenci. Tapi bagaimana kalau tidak ada yang benar-benar salah? Bagaimana kalau dua orang hanya sama-sama sedang berusaha bertahan hidup dengan cara mereka masing-masing?
Menurutku, di situlah kisah Eun-ho dan Jeong-won terasa dekat. Terutama bagi mereka yang sedang berada di usia dua puluhan dan mulai menyadari bahwa hidup tidak berhenti hanya karena kita sedang jatuh cinta.
Film ini tidak mengajarkan bahwa kita harus mempertahankan seseorang hanya karena pernah mencintainya. Kadang bentuk cinta yang paling sulit justru adalah menerima bahwa hubungan tersebut sudah selesai. Bukan karena tidak ada rasa.
Tetapi karena kita akhirnya memahami bahwa memiliki seseorang bukan satu-satunya cara untuk menghargai cinta yang pernah ada. Pertemuan kembali setelah sepuluh tahun pun bukan sekadar kesempatan untuk menghidupkan kembali hubungan mereka.
Ada sesuatu yang lebih penting, kesempatan untuk berdamai dengan masa lalu. Mungkin Gen Z juga perlu belajar hal ini. Kita tidak harus selalu mendapatkan closure dari orang lain. Tidak semua mantan akan kembali. Tidak semua hubungan akan mendapatkan percakapan terakhir yang sempurna. Tidak semua pertanyaan akan memiliki jawaban.
Kadang closure adalah ketika kita akhirnya bisa mengingat seseorang tanpa lagi berharap dia kembali. Karena pada akhirnya, Once We Were Us bukan cuma tentang dua orang yang pernah saling mencintai.
Film ini tentang dua manusia yang pernah menjadi rumah untuk satu sama lain, lalu belajar bahwa rumah pun kadang harus ditinggalkan agar kita bisa melanjutkan perjalanan.
Karena pernah dicintai, pernah mencintai, pernah tumbuh bersama seseorang, semuanya tetap menjadi bagian dari perjalanan kita. Dan mungkin, pada akhirnya, cinta yang paling dewasa bukan selalu tentang “siapa yang berhasil kita pertahankan?”
Melainkan tentang “siapa yang pernah membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, bahkan setelah ia tidak lagi bersama kita?”
Baca Juga
-
Ulasan Toy Story 5: Ketika Gadget Perlahan Mengambil Alih Masa Kecil Anak
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Kim Garam Unggah Foto Profil Baru, Siap Comeback dan Debut Jadi Aktris
-
Mantra untuk Cinta dan Brengseknya Dunia: Ketika Sebuah Buku Jadi Penyelamat
-
Memaknai The Stoic Way of Not Giving A Damn: Kita Terlalu Banyak Peduli
Artikel Terkait
-
Sukses Besar! Sutradara Mengaku Sudah Siapkan Naskah Sekuel Film Hope
-
20th Century Girl: Cinta Pertama yang Tidak Selalui Berakhir Bahagia
-
Siap Guncang Adrenalin! Dari Invasi Supergirl hingga Teror Pesta Korea Kini Tayang di CATCHPLAY+
-
Lebih dari Konflik Istana, The King's Warden Soroti Mirisnya Pendidikan Era Joseon
-
CEO Muda x Intern Senior, Film Korea The Intern Tayang September di Bioskop
Ulasan
-
How a Bear Became a Book, Mengintip Rahasia di Balik Winnie-the-Pooh
-
Menyingkap Filosofis dan Makna Tersirat di Balik Film The Sheep Detectives
-
Destined with You: Kisah Cinta yang Terhalang Kutukan dan Rahasia Masa Lalu
-
Review Above & Below: Bertaruh Nyawa di Tengah Hiu dan Kartel
-
Kupas Lirik 'Dunia yang Nanti', Ternyata Bukan Cuma Lagu Kaum 'Just Friend'
Terkini
-
Anti Lengket! 5 Lip Matte Ringan yang Nggak Menggumpal dan Bebas Pecah
-
Cegah Pori Tersumbat! 4 Cleanser Tea Tree Korea untuk Wajah Bebas Bruntusan
-
Oppo Find X10 Pro Max Siap Meluncur,Ponsel Flagship dengan Performa Dimensity 9600 Pro
-
Mitos Kelas Menengah: Ketika Kelas Ekonomi Gagal Ungkap Kerentanan Pekerja
-
Infinix XPAD 30 Pro Resmi di Indonesia: Layar 2.5K, Baterai 8.200 mAh, Harga Mulai Rp3 Jutaan