Ada kalanya seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang atau motivasi yang menggebu-gebu. Ia hanya ingin didengar, dipahami, atau sekadar dipeluk. Sayangnya, tidak semua orang masih memiliki tempat untuk pulang dan memeluk ibunya. Dari kegelisahan itulah Bu, Aku Ingin Pelukmu: Di Saat Dunia Begitu Keras Menempaku karya Reza Mustopa lahir sebagai sebuah novel self-improvement yang menyentuh sisi paling sunyi dalam diri pembacanya.
Buku setebal 164 halaman ini mengisahkan perjalanan seorang anak yang harus menerima kenyataan bahwa sosok ibu yang selama ini menjadi tempat pulang telah tiada. Jika pada awalnya jarak dengan ibu disebabkan oleh perantauan, pada akhirnya jarak itu menjadi abadi karena dipisahkan oleh kematian. Perubahan sudut pandang inilah yang membuat kisahnya terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang.
Isi Buku
Salah satu bagian yang paling mengaduk emosi adalah "Bu, selamat Hari Ibu, ya. Kalau Ibu lihat aku hari ini pasti Ibu sedih. Sebab saat semua anak merayakan Hari Ibu melalui pelukan, aku hanya bisa merayakan Hari Ibu di atas nisan."
Kalimat sederhana itu menggambarkan kerinduan yang tak lagi memiliki tujuan. Tidak ada lagi nomor telepon yang bisa dihubungi, tidak ada lagi pelukan yang bisa diminta ketika dunia terasa begitu melelahkan.
Reza Mustopa tidak sedang menawarkan resep instan untuk menyembuhkan luka kehilangan. Sebaliknya, ia mengajak pembaca berdamai dengan kenyataan bahwa kehilangan akan selalu meninggalkan ruang kosong. Yang bisa dilakukan hanyalah belajar hidup berdampingan dengan rindu tersebut.
Inilah yang membuat buku ini terasa berbeda dari banyak buku pengembangan diri lainnya. Self-improvement yang ditawarkan bukan berupa daftar langkah menuju kesuksesan, melainkan proses memahami emosi, menerima kehilangan, dan belajar tetap melangkah meskipun hati tidak lagi utuh.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini juga mengingatkan bahwa bertambah dewasa sering kali membuat kita menyadari nilai dari hal-hal yang dulu dianggap biasa. Pelukan ibu, masakan di rumah, pertanyaan sederhana seperti "Sudah makan?" atau doa yang selalu dipanjatkan setiap selesai salat ternyata merupakan kemewahan yang tidak semua orang masih miliki.
Ada satu kalimat yang terus terngiang setelah menutup buku ini: menjalani hidup jauh dari ibu memang berat, tetapi menjalani hidup tanpa doa ibu yang sudah berhenti mengalir terasa jauh lebih berat. Kesadaran seperti inilah yang perlahan tumbuh selama membaca setiap halamannya.
Dari segi penyajian, Reza memadukan cerita naratif dengan prosa-prosa pendek yang puitis. Perpaduan ini membuat buku terasa ringan dibaca, tetapi tetap meninggalkan bekas emosional yang kuat. Pembaca tidak hanya mengikuti alur cerita, melainkan juga diajak berhenti sejenak untuk merenungkan setiap potongan kalimat yang terasa sangat personal.
Bagi mereka yang sedang memasuki fase quarter-life crisis, hidup di perantauan, atau merasa harus memikul semua beban sendirian, buku ini mungkin akan terasa seperti cermin. Banyak bagian yang membuat pembaca spontan berkata dalam hati, "Ini aku banget." Seolah-olah penulis sedang menuliskan isi hati yang selama ini sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Rekomendasi Pembaca
Bagi pembaca yang masih memiliki kesempatan untuk pulang, buku ini menjadi pengingat agar tidak menunda menunjukkan kasih sayang. Memeluk ibu selagi masih bisa, membanggakannya selagi ia masih dapat menyaksikan, serta meluangkan waktu sebelum penyesalan datang terlambat.
Bu, Aku Ingin Pelukmu adalah pengingat bahwa cinta orang tua sering kali baru benar-benar kita pahami ketika waktu tidak lagi memberi kesempatan untuk mengulang. Dengan bahasa yang sederhana, penuh kehangatan, dan sangat relevan dengan kehidupan orang dewasa masa kini, Reza Mustopa berhasil menghadirkan sebuah karya yang layak dirasakan.
Terkadang, buku terbaik bukan yang memberikan semua jawaban, melainkan yang menemani kita saat tidak lagi tahu harus bercerita kepada siapa.
Identitas Buku
- Judul: Bu, Aku Ingin Pelukmu: Di Saat Dunia Begitu Keras Menempaku
- Penulis: Reza Mustopa
- Penerbit: Gradien Mediatama
- Tanggal Terbit: 20 Januari 2025
- Tebal: 164 halaman
- ISBN: 978-602-208-388-7
Baca Juga
-
Ketika Feodalisme Berhadapan dengan Hak Rakyat, Jogja Istimewa untuk Siapa?
-
Target Pajak Makin Tinggi, Siapa yang Sebenarnya Menanggung Bebannya?
-
Tragedi Cinta di Tengah Revolusi Prancis dalam Novel Kisah Dua Kota
-
Negara Sibuk Mengubah Angka, Rakyat Masih Bergelut dengan Masalah
-
Kritik Pemerintah Tak Berarti Ngebet Ganti Presiden: Salah Kaprah Demokrasi
Artikel Terkait
Ulasan
-
The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat
-
Review SCTV: The Greatest Show You've Never Heard Of, Jejak Tawa Legendaris
-
Mendidik Anak dengan Kasih Sayang ala Nabi dalam Happy Islamic Parenting
-
MobLand Season 2: Menguak Sisi Gelap Dinasti Kriminal Keluarga Harrigan!
-
Sentilan Isu Sosial dan Arti Ketulusan Keluarga di Novel Kado Terbaik
Terkini
-
Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!
-
Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator
-
Dilema Green Jobs: Solusi atas Krisis Iklim atau Ancaman Ekstraktif Baru?
-
Terlalu Lama Berhemat, Gen Z Justru Terjebak Revenge Spending
-
Survei Bilang Anak Muda Muak Politik, Kok Paling Vokal Mengawal Kebijakan?