Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Kembali ke Titik Nol (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Membangun bisnis sering kali diidentikkan dengan mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Namun, bagi sebagian orang, kesuksesan finansial belum tentu menghadirkan ketenangan batin. Kegelisahan itulah yang diangkat Saptuari Sugiharto melalui bukunya Kembali ke Titik Nol: Kisah-Kisah Inspiratif Perjuangan Para Pengusaha Membebaskan Diri dari Jeratan Riba.

Buku yang diterbitkan Delta Saputra pada 2016 ini merupakan seri pertama dari Tetralogi Hijrah, terdiri atas sekitar 272 halaman yang memadukan kisah inspiratif, motivasi bisnis, dan refleksi spiritual.

Berbeda dengan buku bisnis pada umumnya yang dipenuhi strategi pemasaran atau teknik meningkatkan omzet, Kembali ke Titik Nol justru mengajak pembaca melihat bisnis dari sudut pandang yang lebih mendasar: keberkahan.

Isi Buku

Saptuari mengingatkan bahwa membangun usaha bukan sekadar soal untung rugi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memperoleh rezeki dengan cara yang halal dan terbebas dari praktik riba.

Salah satu daya tarik buku ini adalah gaya penulisannya yang sangat komunikatif. Saptuari tidak menggunakan bahasa formal yang kaku, melainkan bahasa percakapan yang akrab, ceplas-ceplos, bahkan sesekali diselingi humor khas Jawa. Membaca buku ini terasa seperti mendengarkan seorang mentor bisnis berbicara langsung di hadapan audiens.

Hal tersebut terlihat dalam salah satu bab yang berjudul "Nyindir Mahasiswa". Dalam sesi berbagi bersama sekitar 950 mahasiswa baru Fakultas Ekonomi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Saptuari melontarkan pertanyaan yang menggelitik sekaligus menampar kebiasaan sebagian mahasiswa.

Baginya, masa kuliah bukanlah alasan untuk terus bergantung pada kiriman orang tua. Justru inilah waktu terbaik untuk belajar mandiri melalui usaha kecil-kecilan.

Ketika seorang mahasiswa bertanya bagaimana cara menemukan peluang usaha, jawaban Saptuari terdengar sederhana tetapi relevan.

Ia menyarankan agar mahasiswa mulai menjual apa yang dibutuhkan teman-temannya. Produk tidak harus mahal atau rumit. Flashdisk, aksesori, makanan ringan, hingga barang-barang unik dapat menjadi peluang jika dipasarkan dengan tepat. Menurutnya, semua bisnis besar selalu berawal dari langkah kecil.

Nasihat lainnya tak kalah menarik ketika ada mahasiswa yang merasa tidak berbakat berjualan.

Alih-alih menghibur, Saptuari justru mengajak pembaca berpikir logis. Jika berjalan, bersepeda, atau berenang saja membutuhkan latihan, mengapa keterampilan berjualan ingin dikuasai tanpa pernah mencobanya? Baginya, kemampuan bisnis bukanlah bakat bawaan, melainkan hasil dari keberanian belajar dan konsistensi berlatih.

Kelebihan dan Kekurangan

Pesan yang paling kuat dalam bab tersebut adalah pentingnya kemandirian finansial bagi mahasiswa. Orang tua, menurut Saptuari, tidak membutuhkan janji bahwa anaknya akan sukses. Mereka membutuhkan bukti berupa tanggung jawab, kemampuan mengatur waktu antara kuliah dan usaha, serta kesungguhan untuk tidak terus bergantung pada kiriman bulanan.

Namun, isi buku ini tidak berhenti pada motivasi berwirausaha. Tema utama yang terus hadir adalah ajakan meninggalkan riba. Penulis menghadirkan berbagai kisah nyata para pengusaha yang memilih memulai kembali usahanya dari nol demi melepaskan diri dari praktik yang mereka yakini bertentangan dengan ajaran agama.

Selain itu, pembaca diajak memahami konsep rezeki dalam perspektif Islam. Saptuari menjelaskan bahwa rezeki bukan semata hasil kerja keras manusia, melainkan juga bagian dari ketetapan Allah. Ia membagi konsep rezeki ke dalam beberapa bentuk, seperti rezeki yang dijamin, diusahakan, digantungkan pada ikhtiar, dan dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan ini membuat buku terasa lebih reflektif dibanding sekadar buku motivasi bisnis.

Rekomendasi Pembaca

Meski demikian, pembaca tetap perlu menyikapi kisah-kisah sukses dalam buku ini secara proporsional. Perjalanan meninggalkan riba tentu bukan proses yang instan. Kesuksesan yang diraih para tokohnya lahir dari perjuangan panjang, kerja keras, pengorbanan, dan keteguhan memegang prinsip.

Oleh karena itu, pesan utama buku ini bukanlah janji bahwa meninggalkan riba akan langsung mendatangkan kekayaan, melainkan ajakan untuk membangun usaha yang tidak hanya menguntungkan secara materi, tetapi juga menghadirkan ketenangan hati.

Pada akhirnya, Kembali ke Titik Nol bukan sekadar buku tentang bisnis. Ia adalah buku tentang keberanian mengambil keputusan yang tidak mudah, keberanian memulai kembali ketika harus kehilangan kenyamanan, dan keyakinan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari keberkahan yang menyertainya.

Identitas Buku

  • Judul: Kembali ke Titik Nol: Kisah-Kisah Inspiratif Perjuangan Para Pengusaha Membebaskan Diri Dari Jeratan Riba
  • Penulis: Saptuari Sugiharto
  • Penerbit: Delta Saputra
  • Tahun Terbit: 2016 
  • Tebal:  272 halaman
  • ISBN: 978-602-99999-9-0