Pernahkah Anda menyaksikan perdebatan di televisi saat seorang pakar menyodorkan grafik data yang rumit, lalu direspons dengan sindiran pedas oleh politisi?
Belakangan ini, panggung politik kita kembali dihangatkan oleh gesekan antara pengambil kebijakan dan kaum akademisi. Umpatan atau label seperti 'goblok' yang dialamatkan kepada para kritikus berbasis data menandai satu hal: ada sumbatan komunikasi yang makin parah di ruang publik kita.
Namun, alih-alih sekadar ikut-ikutan menghujat pejabat yang dinilai anti-sains atau mencibir akademisi yang dianggap "menara gading", mari kita tarik napas sejenak. Mengapa benturan ini terus berulang? Apakah ini sekadar masalah temperamen individu, atau ada jurang mendasar antara bahasa sains dan bahasa populisme yang belum pernah benar-benar dijembatani?
Ketika "Bahasa Laboratorium" Bertabrakan dengan "Bahasa Lapangan"
Mari kita jujur. Para pakar dan akademisi terbiasa bekerja di dalam koridor teknokrasi. Mereka berbicara menggunakan jargon, hitungan probabilitas, kerangka teori, dan statistik. Bagi akademisi, kritik berbasis data adalah bentuk kontribusi paling murni untuk menyempurnakan kebijakan publik.
Sebaliknya, para politisi dan eksekutif hidup dalam dunia populisme dan kepraktisan. Mereka dituntut mengambil keputusan cepat di tengah desakan konstituen, dinamika anggaran, dan tenggat waktu politik.
Ketika seorang pejabat yang sedang jungkir balik mengeksekusi program di lapangan tiba-tiba dihadiahi kritik bernada teoretis dari ruang ber-AC, rasa frustrasi pun meledak.
Di sinilah letak masalah dasarnya: kesenjangan komunikasi (communication gap). Sains menyampaikan pesan secara abstrak dan sarat nuansa, sementara politik membutuhkan penyampaian yang naratif, pragmatis, dan berdampak langsung.
Ketika dua bahasa ini bertabrakan tanpa penerjemah yang baik, masukan ilmiah yang niatnya memperbaiki justru ditangkap sebagai serangan politik personal.
Menjembatani Jurang: Kebutuhan Komunikasi Sains dan Lembaga Penasihat
Kita tentu sepakat bahwa negara tidak boleh dikelola hanya dengan perasaan tanpa data, tetapi juga tidak bisa dijalankan secara kaku tanpa kepekaan sosial. Lalu, apa solusinya?
Pertama, pelembagaan Dewan Penasihat Sains (Scientific Advisory Board) yang independen tetapi formal.
Pemerintah perlu memiliki saluran resmi di mana riset dan kritik akademis disalurkan sebelum sebuah kebijakan disahkan, bukan setelah meletus di media massa. Lembaga ini harus dilengkapi dengan protokol komunikasi risiko yang jelas dan nonkonfrontatif. Dengan demikian, masukan data bisa diserap tanpa membuat pejabat merasa ditelanjangi di depan publik.
Kedua, reorientasi kemampuan komunikasi sains (science communication) bagi para akademisi.
Sudah saatnya kampus tidak hanya melatih mahasiswanya menulis jurnal terindeks Scopus, tetapi juga mengasah kemampuan menyampaikan gagasan kompleks dalam bahasa yang membumi, realistis, dan berorientasi pada solusi praktis. Masukan kebijakan yang abstrak harus bisa diterjemahkan menjadi saran tindakan (actionable advice) yang siap dieksekusi oleh birokrasi.
Pertanyaan untuk Kita Semua
Demokrasi yang sehat tidak menuntut para pemimpin politik untuk menjadi ilmuwan, sebagaimana ia tidak menuntut para akademisi untuk bertransformasi menjadi politisi. Namun, keduanya harus memiliki jembatan komunikasi yang saling menghormati.
Kini, pertanyaannya kembali kepada kita sebagai masyarakat: apakah kita akan terus menikmati drama saling serang antara pejabat dan akademisi di media, atau kita siap mendorong hadirnya iklim kebijakan berbasis bukti yang disampaikan secara bijak dan pragmatis?
Baca Juga
-
Menjual Etika Ekraf: Mengapa Kita Salah Kaprah Memaknai Moral?
-
Menuntut Dampak Nyata BRICS: Mampukah QRIS dan UPI India Berkolaborasi demi Pedagang Kaki Lima?
-
Dilema Atlet Pelajar: Saat Generasi Emas Dipaksa Memilih Antara Lapangan atau Kelas
-
Di Balik Kecanggihan AI: Ada Tagihan Listrik dan Air Bumi yang Membengkak
-
Gaji PPPK Ditanggung Pusat Mulai 2027, Pemda Bakal Punya 'Gunung Uang' Baru atau Malah Kalap Belanja
Artikel Terkait
-
Bela Pernyataan Prabowo, Pigai Tegaskan Pakar Tak Boleh Abaikan Kebaikan Pemerintah
-
Minta Pakar Objektif Soal Kebijakan Pemerintah, Pigai: Saya Disuruh Turun Tidak Masalah, Tapi...
-
Bukan Anti-Sains, Ini Maksud Sebenarnya Kritik Prabowo Soal Pakar Menurut Pigai
-
Spontan Tapi Tak Bermutu, Sentilan Pedas Ryaas Rasyid untuk Pidato Prabowo
-
Pakar Bisa Jadi Goblok? Menelaah Kebenaran Kalimat Prabowo dari Sudut Pandang Masyarakat Jawa
Kolom
-
Rakyat Didorong Berwirausaha, Pungli Menghadang di Depan Mata
-
Fenomena Hujatan Massal di Medsos: Kenapa Orang Lebih Berani Jahat di Kolom Komentar?
-
Fenomena 'No Viral, No Justice' dalam Kasus Rumah Ibadah: Alarm Bahaya bagi Demokrasi
-
Sustainable Lifestyle dan Budaya Konsumtif: Peduli atau Cuma Ikut-ikutan?
-
Solusi Cerdas Kelola Sampah Organik: Ubah Sisa Dapur Menjadi Pakan Ternak Berprotein
Terkini
-
Kutukan Merenggut Jiwa di Hutan Larangan
-
Sense and Sensibility: Logika vs Hati, Mana yang Menang saat Hadapi Cinta?
-
5 Body Wash Centella Asiatica untuk Jerawat Punggung dan Kulit Sensitif
-
Review Buku This Book Is Seriously Silly!: Belajar Interaktif Lewat Ubur-Ubur Konyol
-
Diary of a Bee: Mengintip Kehidupan Lebah dari Sudut Pandang Matilda