The Ribbon Hero merupakan film animasi Jepang yang diadaptasi secara longgar dari manga klasik Princess Knight karya Osamu Tezuka. Disutradarai oleh Yuuki Igarashi dalam debutnya sebagai sutradara film panjang, film ini diproduksi oleh Twin Engine dan dianimasikan oleh Outline. Film berdurasi sekitar 109 menit ini dirilis secara eksklusif di Netflix pada 8 Agustus 2026 secara global, termasuk di Indonesia. Dengan demikian, saat ini film tersebut sudah dapat ditonton melalui layanan streaming Netflix Indonesia.
Restorasi Warisan Anime Klasik yang Memikat
Sinopsis film mengikuti Sapphire, putri Kerajaan Silverland yang telah hancur. Bencana bernama Nergal—makhluk raksasa mirip earwig terbang dari dimensi lain—menghancurkan tanah kelahirannya, memaksa Sapphire menjadi pengungsi. Bersama dayang Zirco, ia tiba di Goldland dalam keadaan putus asa. Di sana, ia mulai menemukan kembali harapan melalui kebaikan warga setempat dan bekerja di tambang kristal yang digunakan untuk menenangkan Nergal.
Ketika bencana itu kembali mengancam, pita di kepalanya teraktivasi, mengubahnya menjadi Ribbon Hero (atau Princess Knight), pahlawan yang mampu melawan ancaman tersebut. Ia bertekad melindungi rumah barunya agar tidak mengalami nasib yang sama dengan Silverland. Karakter pendukung meliputi Pine, bangsawan lokal Velvet, serta sejumlah tokoh lain yang memperkaya dinamika cerita.
Sebagai adaptasi, The Ribbon Hero mengambil pendekatan yang cukup bebas. Manga asli Tezuka dikenal sebagai karya pioneering yang mengeksplorasi identitas gender melalui tokoh utama yang memiliki hati laki-laki di tubuh perempuan. Versi film ini lebih menekankan sisi heroik dan feminin Sapphire sebagai do-gooder yang berjuang melindungi orang lain, dengan elemen post-apokaliptik, organisasi keagamaan yang problematis, serta isu pengungsi dan kelas sosial.
Struktur film terinspirasi dari teater, khususnya Takarazuka Revue yang juga memengaruhi karya Tezuka. Film dibagi menjadi babak-babak, dilengkapi dengan naik-turun tirai, interval, serta interlude berupa pertunjukan boneka siluet dan shadow play. Flashback disajikan dalam gaya hitam-putih yang meniru seni manga Tezuka, menjadi penghormatan yang jelas kepada sumber aslinya.
Review Film The Ribbon Hero
Kualitas animasi menjadi salah satu kekuatan utama. Film memadukan gaya visual yang beragam: pageantry Eropa yang mewah berlatar belakang 2D yang menawan, momen emosional bergaya chibi, serta elemen dumbshow. Pertarungan udara dan transformasi Sapphire digarap dengan detail yang memadai, meski beberapa elemen CG untuk Nergal dinilai kurang istimewa oleh sejumlah kritikus. Musik karya Satoru Kosaki dan Ryuichi Takada, beserta lagu tema Reborn oleh Girls Archives, mendukung atmosfer epik sekaligus emosional. Suara karakter, termasuk Sapphire yang diisi oleh Saaya (dari duo komedi Lalande), memberikan nuansa yang sesuai.
Akan tetapi, film ini tidak luput dari kritikku nih, Sobat Yoursay. Karakterisasi terasa datar dan stereotipikal, dialog penuh eksposisi, serta pacing yang terlalu panjang sehingga membuat cerita terasa menipis. Pengembangan karakter sering terjadi di luar layar, dan konflik utama baru sepenuhnya terungkap di bagian akhir. Pendekatan yang lebih konservatif terhadap elemen pioneering dari manga asli juga menjadi catatan, di mana sisi gender-flipping yang berani kurang dieksplorasi secara mendalam.
Adegan yang paling berkesan adalah momen transformasi Sapphire. Ketika ia jatuh ke kolam kristal dan pita di kepalanya menyala, perubahan menjadi Ribbon Hero terasa penuh kekuatan dan simbolis. Adegan ini menandai peralihan dari keputusasaan menjadi tekad, diperkuat oleh visual yang dinamis dan skor musik yang membangkitkan semangat. Adegan lain yang menonjol adalah struktur teatrikal di sepanjang film, terutama interval boneka dan shadow play yang memberikan jeda artistik di tengah aksi.
Adegan yang paling kuingat adalah saat final act. Pertarungan besar di dunia mimpi fantastis secara tiba-tiba beralih ke gaya animasi rubber-hose ala Looney Tunes, dilengkapi musik klasik dan penjahat yang mirip kelinci. Bagian ini penuh humor, kreativitas, dan kebebasan visual yang tidak terduga. Klimaks tersebut dilanjutkan dengan momen yang lebih berani: film beralih ke live-action, memecahkan dinding keempat dengan menampilkan volume manga asli Tezuka serta suasana nyata di sekitar Teater Takarazuka. Gestur ini menjadi penghormatan yang jujur sekaligus penutup yang meninggalkan kesan mendalam.
Jadi kesimpulannya, The Ribbon Hero adalah film yang ambisius namun tidak sempurna. Animasi yang kuat, struktur teatrikal yang unik, dan final act yang liar berhasil menebus kelemahan pada karakter dan pacing. Bagi penggemar Tezuka, anime fantasi, atau kamu yang mencari pengalaman visual yang berani, film ini layak ditonton. Tersedia mulai 8 Agustus 2026 secara eksklusif di Netflix, termasuk di Indonesia, film ini dapat diakses kapan saja melalui langganan Netflix.
Dengan tema tentang kehilangan, harapan, dan keberanian untuk melindungi apa yang berharga, The Ribbon Hero menawarkan hiburan yang menghibur sekaligus menghormati warisan klasik. Meskipun tidak sepenuhnya berhasil menyamai keberanian karya aslinya, film ini tetap menjadi kontribusi menarik dalam lanskap anime kontemporer. Rating pribadi: 7/10.
Baca Juga
-
Review Film Dear You: Sinema Sejarah Bertema Diaspora yang Luar Biasa Indah
-
The Manipulated: Ketika Pria Lugu Melawan Konspirasi Kejam, Penuh Aksi dan Kritik Sosial
-
Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula, Misteri Hilangnya Keturunan Terakhir
-
Ulasan Film Kado untuk Ibu: Renungan Indah Mengenai Kasih Sayang Orang Tua
-
Harry Potter and the Half-Blood Prince: Langkah Awal Pencarian Horcruxes!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Dikurung sebab Berbahaya, Dicintai sebab Berbeda: Juliette dalam Shatter Me
-
Ulasan Seasons of Blossom: Mengurai Luka, Duka, dan Tekanan Masa Remaja
-
Moga Bunda Disayang Allah: Kisah Haru tentang Kasih Sayang dan Perjuangan
-
Review Confidence Queen: Ketika Penipuan Menjadi Cara Menghukum Penjahat
-
Review Film Dear You: Sinema Sejarah Bertema Diaspora yang Luar Biasa Indah
Terkini
-
Kontradiksi Simbolik: Merayakan Kemerdekaan dengan Cara yang Masih Feodal
-
Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien
-
Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
"The Rock from the Sky" dan Pelajaran tentang Berani Menghadapi Perubahan