Sekar Anindyah Lamase | Tarassa Q.
White Wedding (Pastel Books)
Tarassa Q.

White Wedding karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie menghadirkan kisah tentang luka masa lalu, penerimaan diri, keluarga, dan proses berdamai dengan sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sumber kesedihan.

Novel ini berpusat pada Elphira, seorang gadis albino bertubuh kecil yang memiliki hubungan rumit dengan warna putih. Baginya, putih bukanlah warna yang menenangkan, melainkan sesuatu yang selalu mengingatkannya pada pengalaman buruk dan mimpi-mimpi yang mengusik.

Sejak kecil, Elphira tumbuh dalam situasi keluarga yang tidak mudah. Kondisi kesehatan sang ayah, keadaan emosional ibunya, serta kelahirannya sebagai seorang anak albino membentuk pengalaman yang membekas dalam dirinya.

Warna putih kemudian seolah menjadi benang merah yang menghubungkan berbagai kenangan menyakitkan tersebut. Ia bahkan merasa asing terhadap dirinya sendiri ketika melihat bayangannya di cermin. Kulitnya yang sensitif terhadap sinar matahari semakin membuat Elphira merasa berbeda dari orang-orang di sekitarnya.

Keadaan mulai mengalami perubahan ketika Sierra hadir dalam kehidupannya. Pemuda berambut merah ini mempunyai karakter tenang dan kesabaran yang cukup besar dalam menghadapi Elphira.

Alih-alih menjauhi sikapnya yang mudah kesal dan suka merajuk, Sierra justru mencoba memahami dirinya. Perlahan, ia mengajak Elphira melihat warna putih dari perspektif yang berbeda.

Putih tidak harus selalu dikaitkan dengan kehilangan atau kesedihan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai lambang ketulusan, sesuatu yang bertahan, serta kebahagiaan.

Bagi saya sebagai pembaca, versi terbaru White Wedding terasa menarik karena buku ini hadir dengan identitas visual dan cerita yang berbeda dari edisi sebelumnya.

Di bagian depan sampul terdapat penanda bahwa buku tersebut merupakan sebuah “gubahan baru”. Perubahan itu juga terlihat jelas pada sampulnya.

Jika edisi lama tampil sederhana dengan dominasi putih, versi terbaru menggunakan warna merah muda yang dipadukan dengan ilustrasi cantik. Hal yang membuatnya semakin istimewa adalah ilustrasi tersebut merupakan hasil karya tangan Ziggy sendiri.

Pembaruan tidak hanya dilakukan pada tampilan luar. Ceritanya turut mendapatkan penyegaran sehingga terasa lebih sesuai dengan pembaca masa kini, tetapi tetap mempertahankan emosi utama yang menjadi kekuatan kisahnya.

Saya juga menemukan adanya karakter tambahan yang tidak hadir dalam versi sekitar satu dekade sebelumnya. Kehadiran tokoh baru tersebut memberikan variasi hubungan dan interaksi bagi Elphira serta Sierra, sehingga dinamika cerita terasa lebih berkembang.

Dari sisi penulisan, saya merasakan gaya Ziggy dalam versi ini sudah semakin matang. Perjalanan kepenulisannya selama bertahun-tahun tampak memberikan pengaruh terhadap cara ia membangun karakter, menyusun narasi, dan menyampaikan emosi. Keunikan gaya Ziggy tetap terasa, tetapi penyajiannya memiliki kedalaman yang berbeda dibandingkan karya yang lebih lama.

Hal paling berkesan bagi saya setelah membaca novel ini adalah pesan mengenai penerimaan diri. Elphira mengajarkan bahwa perbedaan fisik tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus membenci diri sendiri. Ada proses panjang untuk menerima tubuh, berdamai dengan kekurangan, dan memahami bahwa setiap orang mempunyai keunikannya masing-masing.

Selain persoalan diri, novel ini juga berbicara mengenai keluarga dan pengampunan. Ceritanya membuat saya berpikir bahwa memahami luka tidak selalu berarti membenarkan kesalahan, tetapi dapat menjadi langkah untuk melihat sudut pandang orang lain. Hubungan anak dan ibu, luka yang datang dari orang terdekat, serta pengalaman kehilangan menunjukkan bahwa keluarga dapat menjadi tempat munculnya rasa sakit sekaligus ruang untuk menemukan kembali kedamaian.

Pada akhirnya, White Wedding bukan hanya kisah tentang seorang gadis yang membenci warna tertentu. Novel ini mengajak pembaca memahami bahwa sesuatu yang pernah menjadi simbol luka dapat perlahan memperoleh makna baru. Melalui perjalanan Elphira, pembaca diajak melihat bahwa menerima diri, memaafkan, dan berdamai dengan masa lalu merupakan proses yang tidak selalu mudah, tetapi layak diperjuangkan.

Identitas Buku

Judul: White Wedding (Republish 2025)
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Pastel Books
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786235866543