Membaca buku Seribu Teman Kurang, Satu Musuh Kebanyakan ini seperti mengajak saya berhenti sejenak dan bertanya-tanya: sebenarnya, seperti apa teman yang selama ini saya cari? Apakah sekadar orang yang bisa diajak bercanda dan mengobrol, atau seseorang yang benar-benar mampu membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik?
Dengan sampul dominasi warna merah terang, buku ini menawarkan pembahasan yang sederhana, tetapi cukup relevan dengan kehidupan sehari-hari. Bagi saya, buku ini bukan hanya membicarakan bagaimana cara mendapatkan teman sebanyak-banyaknya. Lebih dari itu, buku terbitan Araska pada 2023 ini mengajak pembaca memahami bahwa pertemanan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.
Sejak awal, saya merasa gagasan buku ini cukup masuk akal. Tidak semua orang mudah menemukan teman. Ada orang yang memang supel, gampang berkenalan, dan bisa mencairkan suasana hanya dalam beberapa menit. Namun, ada pula orang yang lebih nyaman dengan dirinya sendiri, cenderung pendiam, atau bahkan merasa kehadiran orang lain sebagai sesuatu yang mengganggu. Kepribadian introver, misalnya, sering membuat seseorang lebih senang berada di ruang pribadinya.
Namun, menjadi introver bukan berarti seseorang tidak membutuhkan orang lain. Bagaimanapun, manusia tetap membutuhkan interaksi. Kita membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita, bertukar pikiran, meminta bantuan, bahkan sekadar mendengarkan keluh kesah. Dari sinilah buku karya Diaz Pangesti ini terasa menarik, bahwa pertemanan ditempatkan bukan sebagai sesuatu yang mewah, melainkan sebagai salah satu kebutuhan manusia.
Saya juga menemukan pembahasan menarik mengenai kenyataan bahwa tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita merupakan teman yang tepat. Ada kalanya seseorang justru membawa kerugian, membuat kita kehilangan kepercayaan diri, atau menyeret kita ke dalam kebiasaan yang tidak baik.
Buku ini mengingatkan bahwa kondisi semacam itu tidak perlu membuat kita merasa dunia sedang berakhir. Kita bisa mengabaikannya dan membuka diri untuk menemukan orang-orang lain yang lebih sesuai.
Di halaman 3, misalnya, dijelaskan bahwa ketika kita bertemu dengan teman yang tidak tepat, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Tidak semua hubungan pertemanan harus dipertahankan mati-matian, apalagi jika hubungan tersebut justru merugikan salah satu pihak. Bagi saya, gagasan ini cukup melegakan. Kita memang tidak harus memaksa semua orang untuk tetap tinggal dalam kehidupan kita.
Juga merupakan hal yang menarik, buku ini tidak berhenti pada pembahasan mengenai pentingnya teman. Pembaca juga diajak memahami bagaimana cara mendapatkan kawan, membangun hubungan, dan memperbaiki kualitas diri. Terdapat semacam pesan bahwa sebelum sibuk mencari teman yang baik, kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi teman yang baik bagi orang lain?
Pertemanan tidak dipandang sebagai hubungan yang hanya menguntungkan satu pihak. Ada prinsip keuntungan bersama. Kita mencari teman bukan semata-mata untuk mengambil manfaat dari orang lain, tetapi untuk membangun hubungan yang saling menguatkan. Karena itu, semboyan “Banyak Kawan Banyak Rezeki” terasa cukup tepat menggambarkan semangat buku ini.
Buku ini terdiri atas enam bagian. Bagian pertama membahas gagasan “banyak teman banyak rezeki”. Bagian kedua mengulas seni mencari teman. Bagian ketiga berbicara tentang seni menaklukkan orang lain. Bagian keempat mengajak pembaca menumbuhkan diri agar lebih mudah mendapatkan kawan. Bagian kelima membahas pentingnya memperkuat integritas, sedangkan bagian keenam berbicara mengenai kemampuan memimpin untuk mendapatkan teman sekaligus membangun hubungan yang lebih kuat.
Pembagian tersebut membuat pembahasan buku terasa cukup terarah. Saya tidak hanya diajak memikirkan jumlah teman, tetapi juga kualitas diri yang saya bawa ke dalam sebuah hubungan.
Salah satu bagian yang menurut saya cukup menyentuh adalah ketika buku membicarakan kesepian. Setiap orang, pada titik tertentu, bisa merasa kesepian. Hanya kadar dan cara masing-masing orang dalam menghadapinya yang berbeda. Kesepian memang bisa membuat seseorang merasa terpuruk, tetapi buku ini mengingatkan bahwa kesepian juga berkaitan dengan cara kita berpikir.
Terdapat kalimat yang menurut saya menarik dan cukup membumi, “Enggak semua orang akan menjadi sahabat kita selamanya,” kata Jeanette yang dikutip dalam buku, “tapi kita akan menemukan orang yang perhatian sama kita. Dan itu sudah cukup. Hal itu akan membantu kita untuk tidak merasa kesepian.” (hlm. 12).
Kerapkali kita terlalu berharap semua orang akan menjadi sahabat dekat. Padahal, dalam kehidupan nyata, hubungan manusia bisa berubah. Ada teman yang datang sebentar, ada yang menemani dalam waktu lama, dan ada pula yang akhirnya hanya menjadi kenangan. Tidak semuanya harus disesali.
Ketika membahas seseorang yang merasa tidak mempunyai teman dan kesepian, buku ini menawarkan tiga langkah sederhana, yakni membangun rasa percaya diri, tidak mengasihani diri sendiri, dan tidak sembarangan memilih teman (hlm. 11).
Bagi saya, ketiganya saling berhubungan. Rasa percaya diri membuat kita berani membuka diri, tidak mengasihani diri membuat kita tidak terjebak dalam posisi sebagai korban, sedangkan kemampuan memilih teman membantu kita menjaga diri dari hubungan yang justru merugikan.
Hal lain yang cukup menarik adalah pembahasan tentang cara mendapatkan teman pada era modern. Buku ini menyebut beberapa jalur, mulai dari media sosial, aplikasi seperti Line, WeChat, Travello, Bigo, dan Badoo, organisasi atau komunitas, perkenalan melalui teman, tempat ibadah, hingga pertemuan ketika sedang melakukan perjalanan (hlm. 40).
Bagi saya, pembahasan ini terasa dekat dengan realitas sekarang. Cara manusia bertemu sudah berubah. Jika dulu pertemanan lebih banyak dibangun melalui lingkungan sekolah, pekerjaan, tetangga, atau keluarga, sekarang satu orang bisa mengenal orang lain yang tinggal sangat jauh hanya melalui layar ponsel. Media sosial pada akhirnya bukan sekadar tempat berbagi foto atau informasi, tetapi juga menjadi ruang interaksi manusia.
Hal tersebut sejalan dengan pembahasan pada halaman 13 yang menjelaskan bahwa manusia membutuhkan media untuk membangun konektivitas dengan orang lain. Kehadiran media sosial menjadi salah satu contoh bagaimana kebutuhan dasar manusia untuk berinteraksi menemukan bentuk baru di zaman modern.
Meski begitu, saya merasa pembaca tetap perlu bersikap kritis. Judul Seribu Teman Kurang, Satu Musuh Kebanyakan memang terdengar provokatif dan mudah mengundang rasa penasaran, tetapi memiliki banyak teman bukan berarti kehidupan otomatis menjadi lebih baik. Jumlah teman tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas hubungan. Seribu kenalan belum tentu lebih berharga daripada satu orang yang benar-benar hadir ketika kita sedang jatuh.
Di sinilah saya menangkap pesan yang lebih dalam dari buku ini. Yang sebenarnya perlu kita cari bukan sekadar banyak teman, melainkan hubungan yang sehat, saling mendukung, dan membuat masing-masing pribadi berkembang.
Buku ini juga mengajak kita melihat pertemanan sebagai proses dua arah. Kalau ingin mendapatkan teman yang baik, saya juga harus belajar menjadi teman yang baik. Kalau ingin dihargai, saya harus belajar menghargai. Kalau ingin didengarkan, saya harus bersedia mendengarkan. Dan kalau ingin mendapatkan dukungan ketika gagal, saya pun perlu belajar hadir ketika teman sedang menghadapi kegagalan.
Identitas Buku
Judul: Seribu Teman Kurang, Satu Musuh Kebanyakan
Penulis: Diaz Pangesti
Penerbit: Araska Publisher
Cetakan: I, Juli 2023
Tebal: 232 Halaman
ISBN: 978-623-6335-21-5
Genre: Motivasi/Self Improvement
Baca Juga
-
Samsung Galaxy S26 FE Segera Hadir, Bawa Exynos 2500 dan Baterai 4.900 mAh
-
Ayahku Dibunuh Massa, Hari Ini Ia Tak Ikut Upacara Kemerdekaan
-
itel VistaTab 30 Pro: Tablet Layar 13 Inci dengan Baterai 10.000 mAh dan Bonus Keyboard
-
Tecno Pova 8 5G Resmi di Indonesia, Bawa Baterai 8.000 mAh dan Kamera Sony
-
Novel Dari Hari ke Hari: Sejarah Besar Diceritakan dari Mata Seorang Bocah
Artikel Terkait
-
Membaca di Ruang Publik: Gerakan Senyap Membiasakan Membaca di Mana Saja
-
Kidung Para Pencari: Menemukan Makna di Tengah Riuh Kehidupan
-
Ulasan The Cat Who Saved Books: Kisah Hangat tentang Cinta pada Buku
-
Bukan Sekadar Dayang: Genduk Duku dan Perempuan yang Melawan Kuasa
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?
Ulasan
-
Festival Literasi Purworejo 2026: Dari Buku hingga Karya Seniman Lokal
-
Review Film PAW Patrol: The Dino Movie, Misi Penyelamatan Pulau Prasejarah
-
Review The Debt Collector: Aksi Balas Dendam Penuh Darah di Kota Bangkok!
-
Ulasan Metamorfosis Franz Kafka: Ketika Manusia Dinilai dari Kegunaannya
-
Melacak Jejak Warisan Meneer Belanda di Balik Budaya Panjat Pinang
Terkini
-
Pesepak Bola Lee Kang In Gabung The Black Label, Siap Jajal Karier Hiburan
-
Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan Guru: Stop Saling Lempar Tanggung Jawab
-
Loud Budgeting: Dompet Selamat, tapi Pertemanan Lenyap?
-
Ketika Banyak WNI Berobat ke Penang, Apa yang Perlu Kita Benahi?
-
Grammy Pertimbangkan Ubah Kategori Asian Pop Usai BTS Tolak Kirim Karya