Sekar Anindyah Lamase | Fathorrozi πŸ–ŠοΈ
Buku Sabar Tanpa Tepi, Ikhlas Tanpa Tapi (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Fathorrozi πŸ–ŠοΈ

Usai menuntaskan aktivitas baca pada buku bertajuk Sabar Tanpa Tepi, Ikhlas Tanpa Tapi, saya merasa seperti baru saja diajak duduk sejenak untuk melihat kembali perjalanan hidup sendiri. Ada banyak hal yang selama ini saya anggap sederhana, tetapi ternyata membutuhkan latihan hati yang panjang. Sabar, misalnya. Kita begitu mudah mengatakan kepada orang lain, β€œYang sabar, ya.” Namun, ketika ujian benar-benar datang kepada diri sendiri, menjalankannya tidak semudah mengucapkannya.

Buku karya Deni Sutan Bahtiar ini sejak awal mengajak saya memahami bahwa sabar tidak hanya dibutuhkan ketika sedang sedih, kehilangan, sakit, gagal, atau menghadapi masalah. Justru ketika mendapatkan kesenangan pun manusia membutuhkan kesabaran agar tidak terlena.

Gagasan ini menurut saya menarik, sebab selama ini sabar sering dipahami sebatas kemampuan menahan diri ketika tertimpa musibah. Padahal, kebahagiaan juga bisa menjadi ujian, apakah kita tetap mengingat Allah atau justru hanyut dalam kenikmatan?

Di sinilah buku terbitan Araska pada Januari 2025 ini terasa relevan. Penulis tidak sekadar berbicara mengenai sabar dan ikhlas sebagai teori keagamaan, tetapi berusaha menghubungkannya dengan persoalan hidup sehari-hari. Buku ini seperti pengingat bahwa kehidupan memang tidak pernah benar-benar bebas dari ujian. Ada saatnya kita diuji dengan kehilangan, ada waktunya diuji dengan keberhasilan. Ada hari ketika doa terasa begitu dekat dengan jawaban, tetapi ada pula masa ketika kita harus menunggu dengan hati yang penuh tanda tanya.

Saya cukup terkesan dengan cara buku ini menjelaskan makna sabar. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, apalagi membiarkan diri terus-menerus berada dalam keadaan yang menyakitkan. Sabar lebih dekat dengan kemampuan mengendalikan diri, menjaga ketenangan, tetap berada di jalan yang benar, dan tidak membiarkan emosi menguasai tindakan.

Pada bagian lain, buku ini juga mengaitkan sabar dengan kesehatan mental. Ketika seseorang mampu mengendalikan amarah, kecemasan, kepanikan, dan gejolak nafsu, hatinya memiliki ruang untuk menjadi lebih tenang. Bahkan, buku ini menggambarkan sabar sebagai sesuatu yang mampu mengubah keadaan. Yang sempit menjadi lapang, yang sulit menjadi lebih mudah, kesedihan menjadi kebahagiaan, dan cobaan menjadi sesuatu yang mengandung nikmat.

Pemikiran tersebut membuat saya berhenti sejenak. Barangkali masalah dalam hidup tidak selalu dapat kita ubah, tetapi cara kita menghadapi masalah masih bisa dilatih. Lingkungan tidak selalu sesuai dengan keinginan, orang lain tidak selalu bertindak seperti yang kita harapkan, dan takdir tidak selalu berjalan sebagaimana rencana. Dalam keadaan seperti itu, sabar menjadi kemampuan untuk tetap berdiri tanpa kehilangan arah.

Pembahasan tentang sabar semakin menarik ketika buku ini mengutip pandangan M. Quraish Shihab mengenai ciri-ciri orang yang sabar. Ada lima hal yang disebutkan, yaitu menerima ketetapan Tuhan dengan kerelaan, bersabar menghadapi gejolak nafsu, sabar dalam ketaatan, menahan diri dari maksiat, dan sabar menerima cobaan (hlm. 62).

Bagi saya, bagian ini memperluas pengertian sabar. Sabar ternyata bukan hanya menunggu sesuatu yang kita inginkan, tetapi juga kemampuan untuk tetap taat ketika tidak ada yang melihat.

Setelah membahas sabar, buku ini membawa saya pada persoalan yang tidak kalah rumit, yaitu ikhlas. Ikhlas mungkin lebih sulit daripada sabar karena ia berhubungan langsung dengan isi hati. Seseorang bisa terlihat tenang di hadapan orang lain, tetapi belum tentu hatinya benar-benar menerima. Seseorang juga bisa melakukan kebaikan, tetapi belum tentu terbebas dari keinginan untuk dipuji. Maka, pembahasan tentang ikhlas dalam buku ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Deni Sutan Bahtiar menjelaskan ikhlas sebagai upaya memurnikan tujuan dalam beribadah kepada Allah, memurnikan diri dari segala bentuk campur tangan manusia (hlm. 17).

Menurut saya, penjelasan ini sederhana, tetapi cukup menohok. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, keinginan untuk mendapatkan pengakuan sering muncul tanpa disadari. Kita berbuat baik, lalu berharap dihargai. Kita membantu orang, kemudian kecewa ketika kebaikan itu tidak dibalas. Kita berkorban, tetapi diam-diam ingin pengorbanan tersebut diketahui.

Ikhlas adalah latihan membersihkan niat secara terus-menerus. Ia tidak selesai hanya karena seseorang merasa dirinya sudah tulus. Justru semakin seseorang belajar ikhlas, semakin ia menyadari bahwa membersihkan hati membutuhkan proses panjang.

Buku ini juga menjelaskan bahwa sabar dan ikhlas memiliki balasan yang besar bagi orang beriman. Di antaranya dicintai Allah, memperoleh petunjuk, mendapatkan kebaikan setelahnya, memperoleh keberuntungan, dan mendapatkan martabat yang tinggi (hlm. 72).

Penjelasan tersebut membuat sabar dan ikhlas tidak terasa sebagai beban, tetapi sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Buku ini tersusun dalam enam bab utama: mengenal sabar dan ikhlas dalam Islam; dasar hukum diwajibkannya sabar dan ikhlas; sabar dalam berbagai aspek kehidupan; setiap orang yang beriman akan diuji; jangan marah; serta kisah orang-orang yang sabar dan ikhlas. Susunan tersebut membuat pembahasannya berjalan cukup terarah, dari pengenalan konsep, dasar ajaran, penerapan, hingga kisah-kisah yang memberikan gambaran konkret.

Di antara bagian yang menurut saya paling menarik adalah pembahasan mengenai sabar dalam berbagai aspek kehidupan. Penulis menegaskan bahwa sabar bukan hanya ketika seseorang menghadapi kesusahan, tetapi juga ketika berada dalam kondisi lapang dan bahagia (hlm. 86).

Dalam pandangan saya, ini adalah salah satu pesan penting buku. Sebab terkadang kita lebih mudah mengingat Allah ketika sedang susah daripada ketika hidup sedang nyaman.

Bagian yang juga membuat buku ini terasa hidup adalah kisah-kisah keteladanan. Penulis menghadirkan cerita tentang para nabi, sahabat, dan ulama. Ada kisah kesabaran Nabi Muhammad, Nabi Ayyub, Nabi Yusuf, Nabi Zakaria, Nabi Ismail dan Siti Hajar. Ada pula kisah Abu Qilabah dan Abu Hurairah, serta keteladanan Hasan Al-Basri dan Imam Syafi'i.

Kisah Abu Qilabah, misalnya, menjadi salah satu cerita yang berkesan bagi saya (hlm. 181). Melalui kisah-kisah semacam ini, sabar dan ikhlas tidak lagi terasa seperti konsep yang mengawang. Pembaca diperlihatkan bahwa nilai tersebut pernah dijalani oleh orang-orang yang menghadapi ujian jauh lebih berat.

Kekuatan lain buku ini adalah penggunaan landasan Al-Qur'an dan ajaran Islam dalam menjelaskan setiap gagasan. Dengan begitu, pembahasan sabar dan ikhlas tidak berhenti pada motivasi kehidupan, tetapi memiliki dasar spiritual yang kuat. Bagi pembaca Muslim, pendekatan ini membuat pesan-pesan dalam buku terasa lebih dekat dan memiliki pijakan.

Saya juga menyukai gaya bahasa Deni Sutan Bahtiar yang relatif ringan. Ia tidak membawa pembaca ke dalam pembahasan yang terlalu rumit. Konsep-konsep yang sebenarnya cukup dalam disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Alhasil, buku ini dapat dinikmati oleh pembaca dari berbagai kalangan, termasuk mereka yang baru mulai tertarik membaca buku-buku refleksi keislaman.

Meski demikian, menurut saya buku ini bukan tanpa kekurangan. Bagi pembaca yang sudah sering membaca literatur tasawuf atau kajian Islam yang lebih akademis, beberapa pembahasannya mungkin terasa masih berada di permukaan. Ada bagian tertentu yang sebenarnya bisa dikembangkan lebih panjang, terutama mengenai langkah-langkah praktis menghadapi ketidaksabaran, kemarahan, atau konflik batin dalam situasi tertentu.

Di beberapa bagian, pengulangan gagasan tentang pentingnya sabar dan ikhlas juga mungkin terasa cukup kuat. Namun, saya justru melihatnya sebagai konsekuensi dari karakter buku yang memang ingin menjadi pengingat. Lagi pula, bukankah manusia memang sering kali perlu diingatkan berkali-kali tentang sesuatu yang sudah diketahuinya?

Sabar Tanpa Tepi, Ikhlas Tanpa Tapi bukan buku yang menawarkan resep ajaib agar hidup terbebas dari masalah. Sebaliknya, buku ini mengajarkan cara memandang masalah dengan hati yang berbeda. Ujian mungkin tetap ada, kehilangan mungkin tetap menyakitkan, dan kehidupan mungkin tetap menghadirkan hal-hal yang tidak sesuai harapan. Namun, sabar membantu kita agar tidak kehilangan kendali, sedangkan ikhlas membantu kita menerima sesuatu tanpa terus-menerus diperbudak oleh keinginan hati.

Setelah membaca sampai halaman terakhir, kesan yang paling melekat bagi saya adalah bahwa sabar dan ikhlas bukan dua sikap yang selesai dipelajari dalam sekali baca. Keduanya adalah latihan seumur hidup. Kita belajar sabar ketika menghadapi orang yang menyebalkan, belajar sabar ketika doa belum terkabul, belajar sabar ketika usaha belum membuahkan hasil. Kita juga belajar ikhlas ketika kebaikan tidak dihargai, ketika kehilangan sesuatu yang dicintai, dan ketika harus menerima kenyataan yang jauh dari harapan.

Oleh karena itu, buku ini terasa seperti teman refleksi. Tidak harus dibaca terburu-buru. Ada bagian-bagian yang justru lebih nikmat direnungkan perlahan, terutama ketika kita sedang berada di titik kehidupan yang membutuhkan ketenangan.

Pesan terbesar buku ini sederhana, bahwa hidup tidak selalu meminta kita memahami semua hal yang terjadi. Kadang kita hanya diminta tetap berjalan, tetap percaya, tetap berbuat baik, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Oh ya, buku ini layak dibaca siapa saja yang sedang mencari ketenangan, sedang menghadapi ujian, ataupun justru sedang berada dalam fase hidup yang penuh kebahagiaan. Sebab, dalam keadaan apa pun, kita tetap membutuhkan dua bekal tersebut, yakni sabar agar tidak mudah tumbang dan ikhlas agar tidak terus-menerus dikuasai oleh keinginan diri.

Identitas Buku

Judul: Sabar Tanpa Tepi, Ikhlas Tanpa Tapi

Penulis: Deni Sutan Bahtiar

Penerbit: Araska Publisher

Cetakan: I, Januari 2025

Tebal: 216 Halaman

ISBN: 978-623-6335-69-7

Genre: Religion & Spirituality