Lintang Siltya Utami | Davina Aulia
Ilustrasi orang di persimpangan jalan (Unsplash.com/Vladislav Babienko)
Davina Aulia

Setiap Agustus, gaung kata 'merdeka' mendadak memenuhi udara. Banner merah putih berkibar di sepanjang jalan, lagu-lagu perjuangan diputar ulang, dan orator berseru dengan suara lantang tentang kebebasan yang telah kita raih. Namun, di tengah semua keriuhan, saya bertanya-tanya; apakah saya benar-benar sudah merdeka?

Secara hukum dan kewarganegaraan, saya jelas manusia yang merdeka. Saya tidak sedang diintai oleh bayang-bayang senapan penjajah. Saya bebas berjalan ke mana saja, berbicara, dan menghirup udara tanpa rasa takut ditangkap musuh negara. Namun, ada sesuatu yang masih membatasi diri saya. Rasa takut untuk memilih.

Bagi saya, kemerdekaan sejatinya bukan cuma tentang terbebas dari rantai beso, melainkan tentang keberanian untuk menentukan jalan hidup sendiri. Di sinilah ironinya. Saya, bahkan mungkin banyak dari kita, sering kali melumpuhkan diri sendiri setiap kali dihadapkan pada persimpangan jalan.

Ingin beralih karir karena merasa tidak bahagia? Tapi bagaimana kalau gagal? Ingin mengakhiri hubungan yang sudah tidak sehat? Tapi bagaimana kalau nanti kesepian? Ingin menyuarakan pendapat yang beda dari ketetapan orang banyak? Tapi bagaimana kalau nanti dijauhi?

Rasa takut salah melangkah membuat saya sering memilih untuk tidak melangkah sama sekali. Saya membiarkan ekspektasi orang tua, standar masyarakat, atau bahkan tren di media sosial yang mengambil alih kemudi hidup saya. Saya pasrah disetir oleh arus. Katanya saya bebas, tapi mengapa untuk memutuskan apa yang benar-benar saya inginkan saja saya harus gemetar?

Lantas, jika hidup saya masih didikte oleh ketakutan dan bayang-bayang orang lain, apa bedanya saya dengan seorang tawanan?

Merdeka bagi manusia yang masih takut memiilh adalah sebuah pertanyaan. Kita sering mengira bahwa tidak memilih adalah opsi yang aman. Kita berpikir dengan membiarkan orang lain yang memutuskan, kita akan terbebas dari beban rasa bersalah jika sesuatu yang buruk terjadi. Padahal, menyerahkan hak pilih kita kepada orang lain adalah bentuk pengkhianatan paling nyata terhadap kemerdekaan diri sendiri.

Saya mulai menyadari bahwa merdeka bukan berarti kita tidak punya rasa takut. Rasa takut itu wajar, ia adalah bagian alami dari menjadi manusia. Merdeka yang sesungguhnya adalah ketika saya mengepal tangan, merasakan ketakutan itu menggerogoti dada, tetapi tetap memberanikan diri untuk terus melangkah dan bertanggungjawab atas konsekuensinya.

Kebebasan yang hakiki selalu berpasangan dengan tanggung jawab. Kita tidak bisa menuntut kemerdekaan jika kita terus menerus lari dari konsekuensi. Ketika saya berani mengambil pilihan, sekalipun pilihan itu berujung pada kegagalan, di situlah saya menjadi manusia yang utuh dan bebas. Sebab, kegagalan dari pilihan sendiri jauh lebih bermakna daripada keberhasilan yang didikte oleh orang lain.

Mungkin, proses menjadi merdeka bagi saya bukan sebuah peryahaan yang selesai dalam satu malam. Ini adalah perjuangan pelan-pelan. Berani berkata ‘tidak’ pada hal yang tidak saya sukai adalah satu langkah merdeka. Berani mengejar impian yang dianggap aneh oleh orang lain adalah langkah merdeka.

Jadi, jika hari ini kamu masih merasa terjebak, ragu, dan takut untuk memilih jalanmu sendiri, ingatlah. Kemerdekaanmu tidak sedang ditahan oleh siapa-siapa, melainkan sedang menunggu keberanianmu sendiri untuk mengetuk pintu.

Merdekan bukanlah sebuah garis finish tempat kita bisa beristirahat tanpa rasa cemas, melainkan sebuah proses keberanian yang perlu kita ulang setiap hari. Kemerdekaan diri simulai saat kita berhenti menunjut jaminan kepastian dari masa depan dan mulai melangkah bersama rasa ragu itu sendiri.

Kita mungkin akan tetap merasa takut saat harus memutuskan, tetapi ketakutan itu tidak lagi membelenggu; melainkan adalah petunjuk bahwa pilihan yang sedang kita ambil adalah sesuatu yang penting dan bermakna.