Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
The Poppy War. (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Ada banyak novel fantasi yang membawa pembaca ke dunia penuh sihir, tetapi The Poppy War karya R.F. Kuang punya cara yang berbeda. Novel ini memadukan fantasi dengan sejarah dan budaya Tiongkok, lalu membungkusnya dalam cerita tentang perang, kekuasaan, dewa, dan perjalanan seorang gadis bernama Fang Runin atau Rin.

Awalnya saya mengira ceritanya akan berkutat pada perjuangan seorang tokoh dari kondisi biasa menjadi sosok yang hebat. Ternyata, ceritanya berkembang jauh lebih gelap dan tidak terduga. Justru perpaduan antara sejarah dan fantasi inilah yang membuat The Poppy War terasa berbeda dari novel fantasi pada umumnya.

Ulasan

Cerita dimulai dari Fang Runin atau Rin, seorang gadis yatim piatu yang tinggal bersama keluarga Fang di Provinsi Tikus dalam Kekaisaran Nikan. Rin tidak benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarga itu. Ia bahkan direncanakan untuk dinikahkan dengan saudagar kaya agar urusan keluarga selesai.

Tidak mau menerima nasib tersebut, Rin memilih jalan lain: mengikuti ujian Keju untuk mendapatkan kesempatan masuk ke Akademi Sinegard, sekolah militer bergengsi yang hanya menerima siswa dengan nilai terbaik. Dengan bantuan tutornya, Feyrik, Rin belajar dengan keras hingga akhirnya berhasil menempati peringkat pertama di seluruh provinsi. Dari sinilah perjalanan Rin dimulai, bukan hanya untuk membuktikan kemampuannya, tetapi juga untuk menemukan sesuatu dalam dirinya yang selama ini belum ia ketahui.

Masuk ke Sinegard ternyata tidak membuat perjalanan Rin menjadi lebih mudah. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru, mengikuti berbagai latihan, dan menghadapi teman-teman yang memandang rendah dirinya karena berasal dari Provinsi Ayam dan memiliki warna kulit lebih gelap.

Di tengah kehidupan akademi yang keras, Rin mulai menunjukkan kemampuan yang membuatnya berbeda dari siswa lain. Ia belajar tentang strategi perang, bela diri, dan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah ia kenal. Namun, kehidupan di Sinegard perlahan membawa Rin pada sesuatu yang jauh lebih besar. Ia mulai mengetahui adanya kekuatan yang berhubungan dengan para dewa dan menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan yang selama ini tersembunyi.

Salah satu hal yang membuat The Poppy War menarik adalah cara R.F. Kuang memasukkan sejarah dan budaya China ke dalam dunia fiksinya. Kekaisaran Nikan dan konflik yang terjadi di dalamnya memang bukan salinan langsung dari sejarah, tetapi memiliki banyak pengaruh dari peristiwa nyata, termasuk Perang Opium dan konflik China-Jepang.

Pengaruh tersebut juga terlihat dari penamaan wilayah, sistem kekaisaran, hingga unsur budaya dan mitologi yang digunakan. Jadi, pembaca tidak hanya mengikuti cerita tentang Rin, tetapi juga menemukan gambaran dunia yang terasa dekat dengan sejarah Asia. Perpaduan inilah yang membuat The Poppy War berbeda dari fantasi yang hanya mengandalkan dunia rekaan.

Unsur fantasi dalam novel ini juga tidak kalah menarik. Setelah mengenal kehidupan Rin di Sinegard, cerita mulai berkembang ke arah yang lebih tidak terduga ketika ia mengetahui keberadaan para dewa dan kekuatan yang dapat dipanggil manusia. Rin kemudian bergabung dengan Cike, kelompok yang memiliki kemampuan berhubungan dengan para dewa.

Dari sini, perang tidak lagi sekadar tentang senjata dan strategi, tetapi juga melibatkan kekuatan yang berada di luar kemampuan manusia biasa. Konsep tentang para dewa, kekuatan spiritual, dan risiko yang harus ditanggung membuat dunia fantasi dalam The Poppy War terasa berbeda. Kuang juga mengambil banyak unsur dari mitologi dan budaya Asia sehingga fantasinya tetap memiliki hubungan kuat dengan latar sejarah yang dibangun.

Semakin jauh cerita berjalan, suasana The Poppy War berubah menjadi semakin gelap ketika Rin harus berhadapan dengan perang yang sebenarnya. Jika bagian awal lebih banyak memperlihatkan kehidupan Rin sebagai siswa Sinegard, bagian selanjutnya menunjukkan bagaimana perang membawa penderitaan dan mengubah cara pandangnya. Rin tidak lagi hanya belajar menjadi seorang prajurit, tetapi harus menghadapi kenyataan bahwa kekuatan yang ia miliki juga memiliki konsekuensi.

Di bagian ini, kemarahan Rin terhadap Federasi Mugen semakin kuat. Saya sendiri bisa merasakan bagaimana pengalaman perang perlahan memengaruhi Rin hingga membuat keputusan-keputusannya semakin sulit dipahami. Perjalanan tersebut menjadi salah satu bagian paling berat dalam novel karena pembaca diajak melihat bagaimana perang dapat mengubah seseorang.

Kekuatan utama The Poppy War ada pada ceritanya yang sulit ditebak. Awalnya, novel ini terlihat seperti kisah tentang tokoh yang diremehkan, kemudian berusaha menjadi kuat dan mengalahkan musuh. Namun, perjalanan Rin ternyata jauh lebih rumit.

Pengalaman perang membuatnya berubah, termasuk cara berpikir dan mengambil keputusan. Bagian II dan III menjadi bagian yang cukup melelahkan karena suasananya semakin berat, tetapi justru di situlah perkembangan Rin terasa paling kuat. Novel ini memang membutuhkan konsentrasi, terutama ketika cerita mulai masuk ke politik, perang, dan hubungan antara manusia dengan para dewa.