“Apa yang sebenarnya terjadi pada hidup kita? Mengapa kita tidak lagi dipenuhi dengan canda tawa dan suka cita? Jawabannya sederhana: dewasa terjadi.”
Kalimat tersebut rasanya cukup menjadi pintu masuk untuk memahami Aku yang Sudah Lama Hilang karya Nago Tejana, M.Psi., Psikolog. Sejak membaca kata pengantarnya, saya sudah bisa menebak ke mana buku ini akan membawa pembaca. Tidak ada kejutan yang dibuat-buat. Penulis sejak awal sudah menunjukkan persoalan yang akan dibicarakan: bagaimana kesibukan, tuntutan, pekerjaan, hubungan dengan orang lain, dan berbagai hal dalam kehidupan dewasa perlahan membuat kita jauh dari apa yang sebenarnya kita rasakan.
Buku ini terdiri atas sembilan bab dan membahas proses ketika seseorang mulai kehilangan arah, merasa kosong, sampai akhirnya mencoba memahami kembali apa yang sedang terjadi dalam hidupnya.
Topiknya memang cukup berat, tetapi cara penulis menyampaikannya tidak membuat pembaca merasa sedang mengikuti kuliah psikologi. Istilah-istilah yang digunakan cukup mudah dipahami dan beberapa gagasan dijelaskan melalui situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada kalanya pembahasannya terasa seperti membaca seseorang yang sedang mengatakan hal yang sebenarnya sudah lama ingin kita dengar.
Saya termasuk pembaca yang mudah bosan dengan buku self-healing. Salah satu alasannya, beberapa buku sejenis terlalu banyak berisi pengalaman atau keluhan penulis sehingga pembaca hanya menjadi pendengar.
Di buku ini saya tidak mendapatkan kesan tersebut. Persoalan yang dibahas justru terasa seperti persoalan kita juga. Ada pembahasan mengenai perasaan yang sulit dijelaskan, kebingungan menentukan pilihan, kelelahan menjalani rutinitas, sampai kebiasaan mencari jawaban dari orang lain ketika sebenarnya kita sendiri yang harus menentukan sikap. Karena itu, membaca buku ini lebih mirip percakapan daripada mendengarkan seseorang bercerita panjang tentang kehidupannya.
Saya pun tidak membaca buku ini dari halaman pertama sampai terakhir secara berurutan. Saya memilih bab yang paling sesuai dengan keadaan yang sedang saya hadapi, kemudian berpindah ke bagian lain yang menarik perhatian.
Salah satu yang saya baca lebih dulu adalah bab “Lebih Baik Kerja, daripada ...”. Setelah itu baru saya kembali ke beberapa bab sebelumnya dan melanjutkan bagian berikutnya. Cara seperti ini justru membuat saya lebih mudah menghubungkan isi buku dengan hal-hal yang sedang saya pikirkan.
Ada satu pengalaman yang menurut saya cukup menggambarkan isi buku ini. Pernahkah kita melihat foto ketika masih kecil lalu merasa seperti sedang melihat orang lain? Anak dalam foto itu adalah kita, tetapi rasanya jauh sekali dengan orang yang sekarang.
Dulu mungkin kita mudah tertawa hanya karena hal sederhana. Sekarang, untuk merasa tenang saja kadang harus menunggu pekerjaan selesai, urusan beres, dan pikiran tidak sedang penuh. Dari sini saya memahami mengapa buku ini dekat dengan orang yang kehidupannya terlihat ramai, tetapi sebenarnya sedang merasa kesepian.
Bagian yang paling membekas bagi saya adalah bab “Bertanya ke Dalam, Bertanya, Berhenti Bertanya.” Kita sering meminta jawaban kepada orang lain: saya harus bagaimana, pilihan mana yang benar, apakah keputusan ini sebaiknya diambil atau tidak. Ketika terjadi kesalahan, jawaban orang lain bahkan bisa menjadi alasan untuk membela keputusan yang kita ambil. Padahal, orang lain hanya mengetahui sebagian cerita. Kita yang menjalani seluruhnya.
Buku ini tidak kemudian menyuruh pembaca menutup diri dan menyelesaikan semuanya seorang diri. Pada bagian akhir, penulis justru membahas konseling dan psikolog. Saya cukup menyukai bagian tersebut karena pembahasannya praktis dan menjawab beberapa hal yang mungkin membuat orang masih ragu berkonsultasi, termasuk perbedaan istilah klien dan pasien serta alasan layanan psikolog merupakan sesuatu yang perlu dibayar. Bagi saya, pembahasan ini menjadi penutup yang masuk akal karena setelah belajar mendengarkan apa yang terjadi dalam diri, pembaca juga diberi tahu bahwa mencari bantuan profesional bukan sesuatu yang perlu dianggap aneh.
Saya juga tertarik ketika penulis membawa pembaca pada pembahasan eksistensialisme. Gagasan tentang manusia yang tidak selalu memiliki satu jawaban mutlak untuk setiap persoalan membuat saya berpikir kembali tentang kebiasaan mencari kepastian dari orang lain. Ada keputusan yang memang harus kita ambil sendiri, dengan segala konsekuensinya.
Buku ini tentu tidak akan membuat persoalan hidup selesai setelah halaman terakhir ditutup. Saya juga tidak tiba-tiba menemukan semua jawaban yang selama ini dicari. Namun, buku ini memberi ruang untuk memikirkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang sering kita lewatkan karena terlalu sibuk menjalani hari.
Bagi saya, kelebihan Aku yang Sudah Lama Hilang justru ada pada kedekatan itu. Penulis tidak terasa seperti sedang menggurui pembaca. Ia seperti membantu membuka percakapan yang sebelumnya tidak sempat kita lakukan. Itulah sebabnya buku ini tidak cepat membuat saya bosan. Yang dibicarakan bukan hanya pengalaman penulis, melainkan sesuatu yang mungkin sedang kita alami juga.
Saya merekomendasikan buku ini untuk pembaca yang sedang merasa kosong, kehilangan arah, atau menjalani kehidupan yang penuh aktivitas tetapi tetap merasa ada bagian yang tidak beres. Buku ini juga cocok bagi yang ingin mengenal pembahasan psikologi dan konseling dengan bahasa yang ringan.
Namun, jika yang dicari adalah buku pengembangan diri dengan strategi produktivitas, manajemen waktu, atau langkah-langkah mencapai target, buku ini mungkin bukan pilihan yang tepat. Bacalah ketika sedang punya waktu untuk benar-benar memperhatikan isinya. Tidak perlu terburu-buru, karena beberapa bagian justru baru terasa setelah kita berhenti membaca dan memikirkan kehidupan sendiri.
Barangkali kita tidak benar-benar kehilangan diri. Kita hanya terlalu lama sibuk mendengarkan banyak orang sampai lupa memberi kesempatan kepada suara yang paling dekat dengan kita untuk bicara.
Baca Juga
-
Belajar Menghargai Perempuan Lewat Sosok Borno di 'Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah'
-
Lika-Liku Kejar Mimpi di Usia Kepala Empat, 'Timun Jelita' Hadirkan Konflik Sahabat dan Ambisi
-
Lima Sekawan Terjebak di Mercusuar Tua, Ada Apa dengan Karang Setan?
-
Ombudsman Sidak Mendadak, Lapas Cibinong Bikin Publik Terbelalak
-
Semakin Diteguk, Semakin Haus: Mengejar Dunia dalam Pareidolia
Artikel Terkait
Ulasan
-
Belajar Menghargai Perempuan Lewat Sosok Borno di 'Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah'
-
Membedah Toxic Relationship Lewat Lagu 'Kau yang Memilih Aku' Syahrini
-
Review Film Bad and Crazy: Saat Sisi Gelap dan Gila dalam Diri Saling Bertabrakan
-
A Love Other Than Yours: Takdir Cinta Penuh Rahasia di Antara Dua Pilihan
-
Review The Weight: Saat Misi Membawa Emas Jadi Taruhan Nyawa
Terkini
-
Sinopsis I Live In Your Time, Drama Romantis Zhang Ruo Nan dan Wang An Yu
-
Shim Eun Kyung dan WOODZ Batal Bintangi Damako, Ini Film Penggantinya
-
4 Tone Up Sunscreen Buat Kulit Remaja Bikin Cerah Natural Tanpa Efek Dempul
-
Menko Pangan Bicara Sampah: Membakar Food Waste Bikin Rugi Dua Kali?
-
Pendidikan di Era ChatGPT: Apakah Budaya Menghafal Masih Relevan?