Setiap 17 Agustus, kita terbiasa merayakan kemerdekaan dengan cara yang hampir selalu serupa. Bendera Merah Putih dikibarkan. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Upacara digelar. Kita mengucapkan kata "merdeka" dengan perasaan bangga sebagai warga negara Indonesia. Namun, pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang Indonesia yang dibuang oleh negaranya sendiri secara paksa? Pertanyaan itu terus muncul di kepalaku setelah membaca “Pulang” karya Leila S. Chudori.
Novel ini bercerita tentang Dimas Suryo, seorang wartawan Indonesia yang terdampar di Paris setelah pergolakan politik 1965. Saat itu Dimas sedang berada di luar negeri. Perubahan politik di Indonesia membuat hidupnya berubah secara drastis. Ia kehilangan jalan untuk kembali ke tanah air. Bersama Nugroho, Risjaf, dan Tjai, Dimas kemudian membangun kehidupan baru di Paris. Mereka mendirikan Restoran Tanah Air, sebuah restoran yang menjual masakan Indonesia.
Di tempat itu, kerinduan kepada Indonesia seperti menemukan bentuknya sendiri. Ada makanan Indonesia, percakapan tentang tanah air, kabar dari Jakarta, serta ingatan tentang kehidupan yang sudah terputus. Dimas kemudian menikah dengan Vivienne Deveraux, perempuan Prancis yang menjadi ibu dari Lintang Utara. Lintang tumbuh jauh dari Indonesia. Ia mengenal Indonesia melalui cerita ayahnya, melalui sejarah yang tidak pernah diketahui asal-mulanya, serta melalui pertanyaan yang semakin besar ketika ia dewasa.
Ketika akhirnya datang ke Jakarta pada 1998 untuk melakukan penelitian tentang sejarah keluarganya, perjalanan itu terasa seperti usaha untuk menemukan bagian dirinya yang selama ini hilang. Di titik ini, menurut saya, judul Pulang menjadi sangat menarik. Pulang ternyata tidak sesederhana kembali ke sebuah tempat. Dimas bisa saja membayangkan Indonesia sepanjang hidupnya. Ia bisa mengingat jalan-jalan yang pernah dilewati, makanan yang pernah dimakan, teman-teman yang pernah ditinggalkan.
Persoalannya, Indonesia yang ada di dalam ingatannya sudah berbeda dengan Indonesia yang terus bergerak di luar dirinya. Waktu terus berjalan. Negara semakin berubah. Orang-orang juga turut berubah. Begitupun juga dengan Dimas. Ada kesedihan yang sangat manusiawi dalam keadaan seperti itu. Seseorang bisa menghabiskan puluhan tahun merindukan rumah, lalu ketika kesempatan untuk pulang terbuka, rumah tersebut sudah tidak sepenuhnya mengenalinya.
Leila cukup berhasil membuat persoalan sejarah terasa dekat dengan kehidupan manusia. Peristiwa 1965 tidak berhenti sebagai angka tahun. Ia masuk ke dalam hubungan antara suami dan istri, orang tua dan anak, sahabat, cinta, rasa bersalah, serta keputusan-keputusan kecil yang harus diambil seseorang ketika hidupnya tiba-tiba berubah. Saya juga menyukai cara Leila menggambarkan para tokohnya. Dimas bukan manusia yang sepenuhnya benar. Ia memiliki luka, kerinduan, ego, dan kesalahan.
Vivienne juga begitu. Ia mencintai Dimas dan bertahan bersamanya, tetapi ia punya batas kesabaran dan kehidupannya sendiri. Nugroho, Risjaf, dan Tjai juga mempunyai karakter masing-masing. Manusia dalam novel ini terasa seperti manusia sungguhan. Sulit memasukkan mereka dalam penilaian dikotomis antara baik-jahat, benar-salah. Setiap orang membawa luka, kepentingan, kesalahan, dan sisi manusiawinya sendiri.
Kekurangan Pulang bagi saya terletak pada alurnya. Perpindahan waktu yang maju-mundur cukup sering membuat saya kehilangan kenikmatan membaca. Beberapa bagian terasa seperti potongan puzzle yang sengaja disebarkan sebelum pembaca memperoleh gambaran utuh. Teknik semacam itu memang membuat cerita terasa kompleks, tetapi saya beberapa kali merasa perjalanan ceritanya menjadi tersendat dan mengharuskan saya menyusun kembali kronologi cerita di kepala.
Ada persoalan lain yang menurutku perlu diperhatikan. Pulang memiliki posisi tertentu dalam melihat tragedi 1965 dan pengalaman orang-orang yang dianggap dekat dengan kelompok kiri. Karena itu, novel ini sebaiknya dibaca sebagai karya sastra dengan sudut pandang tertentu. Ia tidak bisa menggantikan penelitian sejarah yang bekerja dengan arsip, kesaksian, dan berbagai sumber primer. Membaca novel sejarah dengan kesadaran seperti ini penting supaya kita tidak menjadikan karya fiksi sebagai satu-satunya cara memahami masa lalu.
Meski begitu, justru di situlah nilai penting novel ini. Pulang membuat sejarah terasa personal. Kita mungkin mengenal 1965 dari buku pelajaran. Kita tahu tentang pergantian kekuasaan, konflik politik, penangkapan, pembunuhan, dan orang-orang yang kemudian hidup dalam stigma. Pulang membawa kita lebih dekat kepada satu pertanyaan bahwa bagaimana rasanya kehilangan rumah karena sejarah yang terjadi di negeri sendiri?
Pertanyaan itu terasa semakin kuat ketika dibaca di sekitar perayaan kemerdekaan. Pada 17 Agustus, kita merayakan Indonesia sebagai rumah bersama. Pulang mengingatkan bahwa dalam sejarah panjang republik ini, ada orang-orang yang pernah kehilangan kesempatan untuk kembali ke rumah tersebut. Ada Dimas yang bertahun-tahun hidup di Paris. Ada Lintang yang tumbuh dengan cerita tentang Indonesia dari kejauhan. Ada generasi yang mewarisi pertanyaan dari orang tua mereka.
Pada akhirnya, Pulang membuat kata "merdeka" terasa sedikit lebih rumit. Bagi sebagian orang, kemerdekaan mungkin berarti bisa mengibarkan bendera di halaman rumah. Bagi orang lain, kemerdekaan mungkin sesederhana memiliki kesempatan untuk kembali ke tanah tempat ia dilahirkan. Dan mungkin, selama masih ada orang yang belum selesai dengan pertanyaan tentang rumahnya sendiri, cerita tentang pulang memang belum pernah benar-benar selesai.
Deskripsi Buku
- Judul: Pulang
- Penulis: Leila S. Chudori
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Tahun terbit: 2012
- Genre: Fiksi sejarah
Baca Juga
-
Dari Tiang Bambu hingga Merah Putih, Kisah Kecil di Balik Momen Kemerdekaan
-
Kabinet Bayangan Gelar Upacara Rakyat di Kendeng Pati
-
2026 Is the New 2016, Mengapa Gen Z Kangen Internet yang Dulu?
-
Pramuka Masa Kini, Masih Relevankah Morse ketika Semua Ada di Google?
-
Jangan Habiskan Long Weekend di Rumah Saja, 8 Film Indonesia Ini Siap Temani Liburanmu!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Coin Locker Babies: Dari Pengabaian Masa Kecil hingga Teror Kehancuran
-
Review Film Batwara 1947: Kisah Haru di Balik Perpecahan Dua Bangsa Besar
-
Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: Kisah Kelam Perempuan Indonesia di Era Pendudukan Jepang
-
Denny Sumargo Tampil Emosional di Baby Udon, Kisah Nyata Fanny dan Hajime Jadi Pesan Harapan
-
The Chosen in the Wild with Bear Grylls: Refleksi Kehidupan di Alam Bebas
Terkini
-
Satu Tumbler, Satu Pilihan untuk Mengurangi Sampah
-
Menimbang Operasional Koperasi: Cukup dengan Modal vs Model Bisnis Matang
-
5 Pilihan Hair Mist Bikin Rambut Segar dan Bebas Bau Matahari
-
Dari Tiang Bambu hingga Merah Putih, Kisah Kecil di Balik Momen Kemerdekaan
-
iQOO 16 Segera Meluncur, Bawa Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro dan Layar 165Hz