Di tengah riuhnya tren fashion anak muda, Ayu Rianna justru menemukan caranya sendiri untuk tampil. Kebaya menjadi pakaian yang dikenakannya dalam keseharian, termasuk ketika sedang duduk santai di coffee shop sambil mengobrol dan merekam aktivitas untuk media sosial.
Bagi Ayu, kebaya bukan kostum untuk menghadiri acara tertentu. Pakaian tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya sebagai penulis novel sekaligus content creator. Tim Yoursay.id menemui Ayu di Kopi Kolonjono, Condongcatur, untuk mengulik cerita di balik identitasnya sebagai “penulis berkebaya”.
Berawal dari Promosi Novel
Julukan “penulis berkebaya” ternyata tidak lahir dari strategi branding yang dirancang sejak awal. Identitas itu muncul secara tidak sengaja ketika Ayu menggunakan media sosial untuk mempromosikan karya-karya novelnya.
Karena kebaya memang menjadi pakaian sehari-hari, pakaian yang dikenakannya ketika membuat konten buku pun otomatis kebaya. Lama-kelamaan, perhatian audiens justru bergeser dari karya ke pakaian yang dikenakannya.
“Yang ditanyakan bukan cuma ‘Ayu sekarang lagi nulis apa?’ atau ‘lagi punya karya apa?’, tapi juga ‘Ayu bajunya beli di mana?’, ‘Kebayanya merek apa?’, ‘Harganya berapa?’,” ujar Ayu ketika diwawancarai tim Yoursay.id.
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, identitas “penulis berkebaya” terbentuk dengan sendirinya. Kebaya yang semula hanya menjadi pakaian sehari-hari kemudian ikut melekat pada citra Ayu sebagai penulis.
Melawan Stigma, Membangun Percaya Diri
Bagi Ayu, tantangan mengenalkan kebaya kepada anak muda berawal dari cara pandang terhadap pakaian itu sendiri. Kebaya kerap ditempatkan sebagai busana wisuda, undangan, atau acara formal.
Menurutnya, kebaya perlu kembali dilihat sebagai bagian dari budaya yang dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari. Rasa bangga terhadap budaya sendiri menjadi langkah awal sebelum kebaya bisa terasa relevan bagi generasi muda.
“Tidak perlu takut dan tidak perlu malu, mari kita pakai kebaya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ayu.
Pada awal mengenakannya setiap hari, Ayu mengaku sempat minder. Ia kerap mendapat pertanyaan seperti, “Mbak, habis acara atau kontenan dari mana?” Kekhawatiran terlihat terlalu heboh membuatnya sempat merasa tidak percaya diri.
Kini, situasinya berubah. Sekitar 70 sampai 80 persen isi lemarinya merupakan kebaya. Seiring kebiasaan tersebut, pertanyaan orang-orang pun bergeser menjadi apresiasi. “Mbak, bajunya bagus beli di mana?” menjadi pertanyaan yang lebih sering ia dengar.
Kampanye dari Keseharian hingga Novel
Ayu memilih cara yang sederhana untuk mengenalkan kebaya. Ia memakainya secara jujur dalam keseharian, lalu membagikan pengalaman tersebut melalui media sosial.
Saat berada di coffee shop, misalnya, ia merekam obrolan santai menggunakan kebaya dan membagikannya melalui Instagram Story. Dari praktik sederhana itu, beberapa temannya justru mengaku ikut tertarik mengenakan kebaya.
“Lihat kamu pakai kebaya jadi pengen ikut pakai juga,” ujar Ayu mengutip respons teman-temannya.
Kampanye tersebut juga ingin ia lanjutkan melalui karya fiksi. Novel-novel Ayu yang telah terbit memang belum mengangkat kebaya sebagai tema utama. Namun, ia berencana membuat novel pop bertema kebaya untuk memperkenalkan budaya tersebut melalui jalur lain.
Proses menulisnya sendiri tidak sebentar. Ayu terbiasa melakukan riset selama berbulan-bulan dengan menemui komunitas dan orang-orang yang memiliki profesi tertentu. Ia meminta izin sebelum mengangkat pengalaman mereka ke dalam naskah.
Di tengah proses panjang itu, Ayu memegang satu prinsip bahwa “Naskah yang baik adalah naskah yang selesai.”
Pada akhirnya, pesan Ayu tidak berhenti pada kebaya. Sebagai penulis, ia berharap masyarakat semakin rajin membaca, bahkan untuk hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, membaca pesan berantai WhatsApp secara saksama dapat membantu seseorang membedakan hoax dan fakta. Membaca berita juga tidak cukup hanya dari judulnya.
“Semoga kebaya dan wastra Nusantara bisa terus lestari, selalu ada, dan terus dipakai oleh masyarakat Indonesia,” pungkas Ayu.
Baca Juga
-
Fenomena Split Bill Gen Z: Mengurai Relasi Kuasa Patriarki di Meja Makan
-
Ulasan Novel 'Partikel': Formula Hollywood di Balik Karya Dee Lestari
-
Rela Lepas Cuan Jutaan Dolar demi Privasi Anak, Keputusan PewDiePie Patut Ditiru Ortu Zaman Now!
-
Dari Warkop DKI hingga Pandji: Menelusuri Komedi Sebagai Alat Perlawanan
-
Salah Kaprah Filosofi Teras: Menggugat Apatisme Gen Z Berkedok Stoikisme
Artikel Terkait
-
Peran AI di Dunia Kepenulisan: Ancaman atau Partner Kerja bagi Penulis?
-
Ubah Keresahan Jadi Karya, Ayu Rianna Berbagi Tips di Yoursay Writing Class
-
Bye Warna Kalem! Tren Cewek Buah Bikin Tampilan jadi Lebih Segar
-
Bukan Oversharing, Tulisan yang Jujur dan Personal Tetap Punya Batasan
-
Upcycling Clothes: Solusi agar Baju Lama Tak Berakhir jadi Kain Lap
Lifestyle
-
5 Eye Serum untuk Atasi Mata Panda, Garis Halus dan Mata Lelah
-
Praktis Lembapkan Kulit, Ini 5 Sunscreen Spray Ceramide untuk Skin Barrier
-
4 Acne Serum Centella Asiatica, Kurangi Rasa Gatal pada Jerawat Meradang
-
4 Micellar Water Lokal Glycerin Jaga Skin Barrier agar Lembap Bebas Iritasi
-
Samsung Rilis Galaxy Tab S12 Series, Harganya Ada yang Tembus Rp27 Juta
Terkini
-
Ulasan Film Lobang Buaya: Babak Baru Sinema Horor Sejarah Garapan Hanung
-
Homo Homini Humor: Tertawa Dulu, Baru Sadar yang Ditertawakan Diri Sendiri
-
Bermula dari Syuting MV, Agensi Konfirmasi T.O.P dan Nana Pacaran
-
Jeritan Ekonomi Akar Rumput: Pertumbuhan yang Gagal Menetes
-
Tazza: The Song of Beelzebub, Balas Dendam Mantan Raja Kasino di Meja Poker