Sobat Yoursay, apa yang terpikirkan di benak kalian saat mendengar kata Iqro'?
Dalam bahasa Arab, kata Iqro' merupakan kata perintah yang berarti "bacalah". Frasa yang sama digunakan dalam ayat Al-Qur'an yang pertama kali diturunkan di surat Al-Alaq ayat 1. Perintah membaca yang ada dalam ayat tersebut bukan sekadar membaca sebuah teks. Lebih dari itu, membaca di sini memiliki makna menelaah, memahami, merenungkan, dan selalu mengingat tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Sebagaimana makna Iqro’, dalam lagu ini, Raim Laode mengajak kita untuk merenungi kebesaran Allah. Sebuah lagu yang juga menjadi pengingat bahwa manusia hanyalah bagian kecil di antara semua ciptaan-Nya.
Sebagai penyanyi sekaligus penulis lagunya sendiri, Raim menyebutkan bahwa lagu ini berangkat dari kekagumannya terhadap kebesaran alam semesta. Di mana bintang, pepohonan, langit, dan semua ciptaan Allah bersujud kepada-Nya. Selaras dengan hal itu, ia tuliskan dalam bait pertama lagu Iqro’: “Bintang-bintang dan pepohonan, kedua bersujud pada-Nya. Masih kukagum tentang langit, kokoh dan tinggi tak bertiang. Siapakah aku sebenarnya?”
Kalimat tanya di bait pembuka tersebut seolah menyimpan sebuah kesadaran. Di antara alam semesta ciptaan Tuhan, siapa sebenarnya diri kita? Jawabannya tepat berada di bait berikutnya: “Hanya atom yang kecil besar sombongnya.” Di sini, Raim mengumpamakan manusia seperti halnya atom kecil, tetapi memiliki kesombongan yang begitu besar. Padahal jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta, manusia hanyalah makhluk yang sangat kecil.
Kesadaran itulah yang kemudian membawanya untuk terus mencari makna hidup, memohon petunjuk agar mampu berjalan menuju cahaya, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagaimana ia tuliskan dalam lirik berikutnya, “Sampai di masa ini, ku masih mencari tentang arti dunia yang ramai nan sunyi. Bantu aku berjalan menuju cahaya, lalu aku berjanji menjadi yang baik.”
Lirik di atas terasa seperti sebuah pengakuan. Mengakui bahwa ia pun sampai hari ini masih mencari makna kehidupan di dunia yang ramai oleh aktivitas manusia, tetapi sering kali membuat seseorang merasa kosong. Karena itu, lirik berikutnya “bantu aku berjalan …” menjadi doa dan harapan agar Allah selalu membimbingnya menemukan cahaya kebenaran sehingga bisa menjadi seseorang yang terus belajar dan memperbaiki diri.
Di bait berikutnya, Raim menyebutkan “Semua Kau cipta berpasang, sebab hanya Engkau yang satu. Seluruh bima sakti bersujud, tak ada satu pun yang luput.” Sebuah frasa yang mengajak kita merenungkan kebesaran Allah. Semua makhluk diciptakan berpasang-pasangan, sementara hanya Allah Yang Maha Esa. Bahkan seluruh galaksi pun tunduk kepada-Nya. Gambaran ini semakin mempertegas betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta.
Menariknya, bait kemudian ditutup dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya “Siapakah aku sebenarnya?” Lalu diikuti dengan pengulangan bagian reff. Melalui lirik ini, Raim seolah ingin mengingatkan bahwa semakin kita mengenal kebesaran Allah, semakin kita menemukan kesadaran tentang diri kita sendiri. Di saat yang sama, pengulangan ini juga menegaskan bahwa pencarian makna hidup memerlukan proses yang panjang. Manusia terus belajar memahami dirinya, melawan kesombongan, dan memohon petunjuk agar tidak tersesat di dunia. Menjadi pribadi yang baik juga merupakan bagian dari perjalanan yang harus terus kita usahakan.
Bagian terakhir menjadi bagian favorit saya dari lagu ini. “Baru aku mengerti, ternyata bahagia bukan perkara nanti, tetapi sekarang. Harta paling berharga bukanlah materi, tetapi tentang waktu tak bisa ku tahan.” Penutup lagu yang sekaligus memberikan satu kesimpulan mendalam dari keseluruhan lagu Iqro’. Setelah melalui proses panjang dalam mencari arti kehidupan, Raim menemukan bahwa waktu paling tepat untuk berbahagia adalah sekarang, bukan nanti. Dan cara paling sederhana untuk merasa bahagia hari ini, yaitu dengan mensyukuri apa yang sudah kita miliki.
Pada bait yang sama, Raim mengingatkan kita bahwa harta paling berharga bukanlah materi, melainkan waktu. Sebab uang yang hilang masih bisa dicari kembali, tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diulang. Ketika membaca lirik tersebut, terlintas di pikiran saya sebuah hadis yang pernah diajarkan oleh guru saya di asrama yang kurang lebih berbunyi: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” Hadis ini selaras dengan lirik lagu Iqro’ yang menyebut waktu sebagai harta paling berharga. Sebab banyak manusia yang baru menyadari betapa berharganya waktu ketika semua sudah berlalu.
Secara keseluruhan, lagu Iqro’ menyimpan makna yang begitu mendalam dari liriknya yang ditulis dengan sederhana. Lagu ini bukan hanya berisi tentang kekaguman terhadap alam semesta dan ciptaan-Nya. Melalui bait-bait liriknya, Raim mengajak kita merenungi kebesaran Tuhan, mengingat kembali bahwa di antara semua makhluk-Nya, kita hanyalah bagian yang sangat kecil. Lalu di bagian akhir, ia juga mengingatkan kita untuk bersyukur dan menghargai waktu yang kita miliki di dunia ini.
Baca Juga
-
Review Kill Boksoon: Pembunuh Bayaran yang Sulit Memahami Putrinya Sendiri
-
Review Juvenile Justice: Ketika Usia Menjadi Tameng bagi Pelaku Kejahatan
-
Ulasan The Devil Judge: Ketika Pengadilan Jadi Tontonan Publik
-
Film Na Willa dan Masa Ketika Masalah Terbesar Hanya Tak Bisa Bermain
-
A Shop for Killers Season 2: Pertarungan Sengit Murthehelp Melawan Babylon
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bukan Cuma Kopi, 5 Kafe di Nganjuk Ini Punya Konsep Unik yang Menarik
-
Thousand Cranes: Luka Masa Lalu dalam Karya Peraih Nobel Yasunari Kawabata
-
Novel Three Sisters, Dinamika Kehidupan Tiga Saudara dengan Status Berbeda
-
Buku The Baby Who Stayed Awake Forever, Ketika Bayi Menolak Tidur Semalaman
-
Ulasan Drama Key To The Phoenix Heart: Penuh Intrik dan Konflik Kekuasaan
Terkini
-
Ada Tangled Hingga Princess Diaries 3, Disney-Pixar Umumkan Proyek Terbaru!
-
Sung Hoon Resmi Bintangi Drakor Romantis Baru Berjudul What a Boss Wants
-
5 Rekomendasi Body Lotion Argan Oil yang Ampuh Melembapkan Kulit Kering
-
Fenomena Pejabat Asbun: Dead Cat Strategy atau Kegagalan Komunikasi?
-
Ma Dong Seok Gabung Film Extraction 3, Satu Layar dengan Chris Hemsworth