M. Reza Sulaiman | Fathorrozi ๐Ÿ–Š๏ธ
Novel Kereta Pagi Jam 5 karya Hamsad Rangkuti (Bacabuku)
Fathorrozi ๐Ÿ–Š๏ธ

Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia baru saja kita rayakan bersama. Bendera Merah Putih berkibar di berbagai tempat, lagu-lagu perjuangan kembali terdengar, upacara digelar, dan semangat tentang kemerdekaan terasa lebih dekat dari biasanya.

Suasana tersebut terasa klop ketika saya membaca novel anak Kereta Pagi Jam 5 di iPusnas. Buku karya Hamsad Rangkuti ini membawa saya kembali ke masa ketika kemerdekaan bukan sekadar upacara, pidato, atau perayaan, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan dengan keberanian, kecerdikan, bahkan taruhan nyawa.

Hamsad Rangkuti menghadirkan kisah perjuangan melalui sosok seorang anak bernama Mardan. Ia bukan tentara, bukan pula tokoh besar yang memiliki pangkat atau senjata lengkap. Mardan hanyalah seorang anak yang berada di tengah suasana perjuangan di daerah Tanjung Balai dan sekitarnya. Namun, justru dari sosok kecil inilah Hamsad memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak selalu dilakukan oleh mereka yang namanya tercatat dalam sejarah.

Pada bagian awal cerita, Mardan digambarkan sedang melakukan tindakan sederhana tetapi berbahaya. Ia menempelkan sebuah pelakat di dinding kios tembakau milik Pak Nongah. Tulisan pada pelakat itu cukup provokatif: โ€œDicari Tentara NICA untuk Dikirim ke Neraka.โ€ (hlm. 2).

Adegan tersebut menurut saya menjadi pintu masuk yang menarik untuk mengenalkan karakter Mardan. Ia masih anak-anak, tetapi keberaniannya sudah jauh melampaui usianya. Bahkan dalam keadaan sederhana (lem kanji yang terlalu encer, dinding papan yang sulit ditempeli kertas, hingga ancaman tentara NICA) Mardan tetap menjalankan tugasnya.

Hamsad tidak langsung membawa pembaca pada aksi besar. Ia justru membangun suasana secara perlahan. Kota Tanjung Balai digambarkan sebagai kota pantai dengan angin laut yang keras, air sungai yang meluap, kios tembakau, nelayan, pedagang, serta aktivitas warga yang tampak biasa. Di balik kehidupan sehari-hari itu, ternyata terdapat ketegangan karena tentara NICA mengawasi gerak-gerik masyarakat.

Di sinilah kekuatan cerita Hamsad Rangkuti terasa. Perjuangan tidak hanya terjadi di medan perang yang penuh tembakan. Kios tembakau, stasiun kereta, pasar kecil, rawa-rawa, bahkan perjalanan seorang anak juga dapat menjadi bagian dari perjuangan.

Mardan kemudian terlibat dalam sebuah tugas yang jauh lebih berbahaya. Ia bertemu dengan tiga pemuda pejuang yang mendapatkan perintah untuk menyabotase kereta api yang membawa tangki-tangki minyak milik Belanda. Percakapan ketiga pemuda itu tanpa sengaja didengar Mardan. Dari sana, ia mengetahui bahwa tugas peledakan harus tetap dilakukan meskipun orang-orang yang sebelumnya ditugaskan sudah tertangkap.

Saya melihat bagian ini sebagai titik penting perkembangan karakter Mardan. Ia sebenarnya bisa saja memilih pergi dan menyelamatkan dirinya sendiri. Namun, rasa ingin membantu perjuangan membuatnya mengikuti ketiga pemuda tersebut. Ia berjalan menyusuri rel, memasuki kawasan rawa, dan perlahan mendekati situasi yang semakin berbahaya.

Salah satu penggambaran yang saya sukai terdapat ketika Mardan menyusuri rel.

Rentangan rel itu membentang. Tampak oleh Mardan rentangan rel itu seperti tangga bambu yang panjang. (hlm. 74).

Petikan ini sederhana, tetapi berhasil membuat perjalanan Mardan terasa hidup. Rel yang bagi orang biasa hanyalah jalur kereta, bagi Mardan berubah menjadi jalan menuju sebuah tugas besar.

Hamsad juga cukup teliti menggambarkan dunia perkeretaapian masa itu. Pembaca diajak mengenal kereta uap, lokomotif yang membutuhkan air, pedagang ikan yang membawa tong-tong kayu, penumpang dari berbagai kalangan, hingga asap dan bara yang keluar dari lokomotif. Detail-detail tersebut membuat latar cerita terasa nyata sekaligus membantu pembaca memahami kehidupan masyarakat pada masa itu.

Namun, inti ketegangan cerita berada pada aksi Mardan ketika ia berusaha meledakkan tangki minyak. Adegan ini menjadi bagian yang paling menegangkan bagi saya. Mardan harus bergantung pada rangka besi gerbong yang terus bergerak. Tubuhnya basah kuyup, mancisnya terkena air, sementara tentara NICA berada tidak jauh darinya.

Bayangkan saja, seorang anak harus berusaha menyalakan mancis dalam keadaan basah sambil bergelantungan di kereta yang sedang melaju. Ia bukan hanya menghadapi musuh, tetapi juga berhadapan dengan rasa takut, keterbatasan alat, dan kemungkinan kehilangan nyawa.

Ketegangan itu semakin terasa ketika Mardan akhirnya menemukan cara untuk menyalakan sumbu. Ia berulang kali mencoba menghidupkan mancis. Setelah beberapa kegagalan, api akhirnya menyala. Bahkan bajunya ikut terbakar ketika ia berusaha melindungi api dari terpaan angin.

Momen tersebut menjadi puncak keberanian Mardan. Ia kemudian berhasil menyulut sumbu dinamit dan segera menyelamatkan diri. Tak lama kemudian, ledakan besar terjadi. Tangki-tangki minyak terbakar dan meledak secara beruntun.

Mardan melihatnya dari jauh. Semua serdadu itu mati terbakar. (hlm. 84).

Bagi saya, keberhasilan Mardan meledakkan kereta bukan hanya soal kemenangan dalam sebuah operasi sabotase. Lebih dari itu, adegan tersebut menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu berbanding lurus dengan usia, kekuatan fisik, atau kedudukan seseorang. Mardan masih anak-anak, tetapi ia memiliki keberanian yang membuatnya mampu melakukan sesuatu yang bahkan mungkin tidak sanggup dilakukan oleh orang dewasa.

Di sinilah Kereta Pagi Jam 5 menjadi menarik jika dibaca dalam suasana kemerdekaan Indonesia ke-81. Setelah puluhan tahun Indonesia merdeka, generasi sekarang tentu tidak lagi menghadapi penjajah dengan senjata atau dinamit. Bentuk perjuangan telah berubah. Anak-anak muda hari ini berhadapan dengan tantangan yang berbeda, yakni pendidikan, kemiskinan, ketimpangan, informasi palsu, krisis lingkungan, budaya konsumtif, hingga persaingan di dunia digital.

Oleh karena itu, nilai utama buku ini masih relevan. Mardan mengajarkan bahwa seseorang tidak harus menunggu menjadi hebat untuk memberikan sesuatu bagi lingkungannya. Ia bergerak dengan kemampuan yang dimilikinya. Generasi muda masa kini pun demikian. Perjuangan dapat dilakukan melalui belajar dengan sungguh-sungguh, menghasilkan karya, menjaga lingkungan, menggunakan media sosial secara bijak, membantu sesama, dan mempertahankan persatuan.

Hal lain yang saya rasakan setelah membaca buku ini adalah pentingnya melihat sejarah dari sudut pandang rakyat biasa. Selama ini, cerita perjuangan sering kali identik dengan tokoh besar, nama pahlawan, perang besar, dan peristiwa bersejarah. Padahal, kemerdekaan juga dibangun oleh masyarakat biasa yang membantu para pejuang, menyembunyikan informasi, menyediakan makanan, menyelundupkan senjata, menjadi kurir, atau bahkan mempertaruhkan nyawa seperti Mardan.

Hamsad Rangkuti berhasil menyampaikan hal tersebut melalui cerita yang sederhana. Ia tidak terasa sedang menggurui pembaca tentang nasionalisme. Nilai-nilai perjuangan justru tumbuh dari tindakan para tokohnya. Pembaca diajak menyaksikan sendiri bagaimana ketakutan, keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan bercampur dalam perjalanan Mardan.

Dari sisi bahasa, buku ini juga relatif mudah diikuti. Deskripsi yang diberikan cukup detail, tetapi tetap terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dialog antartokoh membuat cerita tidak terasa kaku. Sementara itu, suasana stasiun, pasar, rel, rawa, kios tembakau, hingga kereta api berhasil menjadi bagian penting dari cerita, bukan sekadar tempelan latar.

Menurut saya, salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah keberhasilannya membuat pembaca peduli terhadap seorang anak bernama Mardan. Kita tidak hanya melihatnya sebagai tokoh dalam cerita, tetapi juga sebagai gambaran anak-anak yang hidup dalam situasi perang dan harus tumbuh lebih cepat daripada seharusnya.

Identitas Buku

  • Judul: Kereta Pagi Jam 5
  • Penulis: Hamsad Rangkuti
  • Penerbit: Balai Pustaka (Persero), Jakarta Timur
  • Cetakan: I, 1993
  • Tebal: 94 Halaman
  • ISBN: 979-407-522-1
  • Genre: Fiksi/Novel Anak