Hayuning Ratri Hapsari | Ken Hitana
Cover Buku Le Petit Prince (Goodreads)
Ken Hitana

Sekilas, novel Le Petit Prince atau dalam versi bahasa Indonesia Pangeran Cilik ini terlihat seperti buku anak biasa. Tak salah memang, buku tipis dengan ilustrasi warna-warni dan cerita penuh imajinasi ini memang lekat dengan pembaca anak. Namun, Le Petit Prince ternyata memiliki daya tarik yang jauh lebih luas. Di balik ceritanya yang sederhana, Antoine de Saint-Exupéry menyelipkan berbagai kritik tentang kehidupan yang justru terasa seperti tamparan bagi orang dewasa.

Dari kacamata sang pangeran cilik, pembaca diajaknya untuk menemui beberapa orang dengan masalah yang berbeda, mulai dari kesepian, cinta, hingga kehilangan. Menariknya, pangeran justru heran mengapa mereka terlihat terlalu memusingkan masalah yang menurutnya sederhana itu. Dari sini, pembaca akan disadarkan bahwa mungkin orang dewasa terlalu rumit memandang masalah yang dihadapinya dan melupakan sisi polos nan sederhana anak-anak yang mulai bergeser.

Sinopsis Le Petit Prince

Ilustrasi Buku Le Petit Prince (unsplash/Dmitry Spravko)

Le Petit Prince menceritakan kisah seorang anak yang terdampar di sebuah gurun karena pesawatnya yang rusak. Di sana, ia bertemu dengan seorang Pangeran Cilik yang datang dari asteroid B-612. Sang pangeran bercerita kepada si anak bahwa ia baru saja pergi ke beberapa planet dan bertemu orang-orang aneh di sana.

Dalam perjalanannya, sang Pangeran Cilik mengunjungi beberapa asteroid dan bertemu dengan berbagai orang dewasa, seperti raja, pria sombong, pemabuk, pebisnis, hingga penjaga lampu. Setiap pertemuan membuatnya semakin bingung dengan cara orang dewasa memandang kehidupan. Dari kisah perjalanan Pangeran Cilik, novel ini tak hanya menghibur anak-anak dengan dongeng fantasinya, tapi juga mengajarkan aspek apa saja yang penting dalam kehidupan kepada orang dewasa.

Dunia Dewasa yang Terlalu Serius vs Dunia Anak-anak yang Sederhana

Ilustrasi Anak Tersenyum (unsplash/Rajesh Rajput)

Sepanjang perjalanannya, Pangeran Cilik bertemu dengan berbagai orang dewasa yang memiliki kesibukan dan obsesi masing-masing. Ada raja yang ingin selalu berkuasa, pria sombong yang haus pujian, pebisnis yang sibuk menghitung bintang sebagai miliknya, hingga penjaga lampu yang terus menjalankan tugas tanpa mempertanyakannya. Baginya, ini terasa aneh. Orang dewasa seolah terlalu sibuk dengan hal-hal yang tidak benar-benar membuat mereka bahagia.

Melalui tokoh-tokoh tersebut, Saint-Exupéry seperti menyindir cara orang dewasa memandang kehidupan. Kita sering kali terlalu fokus pada angka, pekerjaan, status, kepemilikan, atau pengakuan dari orang lain sampai lupa menikmati hal-hal sederhana. Sementara itu, Pangeran Cilik justru melihat dunia dengan rasa ingin tahu yang sederhana dan tulus.

Le Petit Prince menyadarkan kita para pembaca dewasa yang mulai kehilangan cara pandang polos dan sederhana seiring bertambahnya usia. Orang dewasa hanya berpikir apa yang dapat dihasilkannya, bukan lagi apa yang dapat membuatnya bahagia.

Cinta Tak Selalu Terlihat

Ilustrasi Dua Anak Berpelukan (unsplash/Joice Kelly)

Di planet asalnya, Pangeran Cilik memiliki sebuah tanaman mawar yang ia rawat sepenuh hati. Namun, karena mawar tersebut terlihat tak membalas 'cintanya'. Akhirnya, ia memutuskan untuk berkelana ke planet-planet lain. Sesampainya di Bumi, ia terkejut melihat taman yang dipenuhi bunga mawar serupa miliknya. Ia kira, bunga mawar hanya ada satu, yang ada di planetnya.

Pangeran Cilik merasa sedih, mawarnya tak lagi spesial. Tiba-tiba, datanglah seekor rubah yang meminta untuk dijinakkan. Setelah panjang lebar bercerita pada rubah, sang Pangeran mulai menyadari sesuatu menjadi istimewa bukan karena keberadaannya, tapi dari semua upaya yang sudah dilakukan. Pangeran Cilik menghabiskan waktunya untuk merawat, membangun hubungan, dan mencintai mawar di planetnya. Satu hal yang tak dimiliki oleh sekumpulan mawar di taman itu. 

Pangeran Cilik belajar bahwa cinta tumbuh perlahan lewat tanggung jawab, waktu, kasih sayang, dan perhatian yang tulus. Hubungan ini tidak bisa diukur hanya dari apa yang terlihat. Meskipun orang lain memiliki 'mawar' yang sama, bukan berarti 'mawar' kita sendiri itu tidak berarti.

Sebagai orang dewasa yang membaca Le Petit Prince, kisah ini memang menjadi tamparan keras untuk menyindir kehidupan nyata orang dewasa yang lebih mementingkan aspek lain selain kebahagiannya sendiri. Dengan bahasa yang sederhana, Antoine de Saint-Exupéry tetap mampu menyampaikan pesan mendalamnya tanpa membuat para pembaca cilik kesulitan. Kalian mulai 'tertampar' di halaman berapa?