Sekar Anindyah Lamase | aisyah khurin
Drama The Devil Judge (mydramalist.com)
aisyah khurin

Kisah "The Devil Judge" (2021) membawa pembaca dan penonton ke dalam lanskap distopia Korea Selatan pascakrisis, tempat ketimpangan sosial dan ketidakpercayaan publik terhadap institusi pemerintah telah mencapai titik terendah.

Menghadapi kekacauan sosial yang meluas, para penguasa merancang sebuah format peradilan publik yang disiarkan secara langsung di televisi nasional, lengkap dengan aplikasi ponsel pintar bernama DIKE agar seluruh rakyat dapat memberikan suara vonis secara instan.

Konsep peradilan bergaya pertunjukan realitas ini seketika mengubah mekanisme hukum menjadi tontonan massal yang menggugah emosi publik. 

Sinopsis Drama The Devil Judge

Latar cerita dimulai ketika pemerintah Korea Selatan memperkenalkan Live Court Show, sebuah program persidangan terbuka yang dipimpin oleh Kang Yo-han (Ji Sung) untuk mengadili kasus-kasus korupsi dan ketidakadilan yang melibatkan figur berpengaruh.

Pada persidangan pertamanya, Yo-han langsung menarik perhatian publik dengan menuntut seorang konglomerat pemilik pabrik kimia yang mencemari lingkungan dan menewaskan banyak warga miskin.

Melalui kemampuan retorika dan manipulasi opini publik, Yo-han berhasil meyakinkan 97 persen peserta voting digital untuk mendukung vonis hukuman penjara kumulatif selama 235 tahun, yang seketika melambungkan namanya menjadi pahlawan nasional. 

Di balik kemilau popularitas ruang sidang tersebut, Hakim Anggota Kim Ga-on (Park Jin Young) ditempatkan oleh Hakim Mahkamah Agung Min Jeong-ho untuk mengawasi setiap gerak-gerik Yo-han yang dicurigai melanggar etika hukum konstitusional. Ga-on, yang percaya pada aturan hukum yang bersih, kerap merasa terganggu oleh metode agresif Yo-han yang menghalalkan segala cara.

Ketegangan moral semakin meruncing ketika Yo-han menggelar persidangan terhadap putra Menteri Kehakiman Cha Kyung-hee atas kasus kekerasan terhadap warga, dan mengeksekusi hukuman cambuk terbuka secara langsung di hadapan publik. Peristiwa demi peristiwa ini mulai menggoyahkan pandangan Ga-on mengenai batas keadilan formal. 

Konflik cerita kian mendalam tatkala tabir masa lalu keluarga Yo-han tersingkap, terutama insiden kebakaran gereja yang menewaskan kakak tirinya, Kang Isaac, serta melumpuhkan keponakannya, Kang Elijah. Tragedi tersebut ternyata memiliki keterkaitan erat dengan para elite di balik Yayasan Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility Foundation), sebuah perkumpulan pemegang kekuasaan yang sesungguhnya dikendalikan secara rahasia oleh Jung Sun-ah (Kim Min Jung).

Sun-ah, yang memiliki latar belakang sebagai mantan pelayan di kediaman masa kecil Yo-han, menggunakan pengaruh politiknya untuk mendikte para pejabat tinggi dan menantang Yo-han dalam pertarungan kekuasaan yang penuh intrik. 

Klimaks cerita memuncak saat Sun-ah dan para elite yayasan memanipulasi situasi, memicu kerusuhan berdarah di daerah kumuh, serta membunuh sahabat masa kecil Ga-on, Yoon Soo-hyun (Park Gyu Young), untuk menjebak Yo-han ke dalam penjara. Setelah menyadari kekeliruannya karena sempat mempercayai musuh, Ga-on bekerja sama kembali dengan Yo-han yang berhasil merekayasa pelariannya.

Yo-han kemudian mengumpulkan seluruh elite korup di ruang sidang yang telah dipasangi bahan peledak, membongkar kejahatan yayasan secara langsung ke layar televisi nasional, dan meledakkan tempat tersebut demi mengakhiri tirani. Kisah ditutup dengan Yo-han yang bertahan hidup dan membawa Elijah berobat ke luar negeri, meninggalkan Ga-on untuk meneruskan perjuangan peradilan yang bermartabat. 

Kelebihan

Kelebihan dalam drama ini ada pada tokoh utama yang memiliki lapisan psikologis yang kaya dan abu-abu secara moral. Penggambaran distopia sangat kuat dalam memotret bahaya populisme digital. Rangkaian plot twist juga berjalan cepat dan menjaga tensi ketegangan secara konsisten.

Kekurangan

Meski memiliki beberapa kelebihan, drama ini tak luput dari beberapa kekurangan. Karakter antagonis lapis kedua terkadang terasa satu dimensi dan klise. Beberapa elemen lingkungan terasa agak terlalu teatrikal dan bernuansa gotik. Adanya kebetulan dramatis (plot convenience) yang menyederhanakan penyelesaian konflik.

Kesimpulan

Secara menyeluruh, drama "The Devil Judge" menghadirkan studi naratif yang berani mengenai konsep keadilan substantif di hadapan sistem hukum yang tumpul.

Melalui penggambaran panggung persidangan yang provokatif, narasi ini mengajak setiap pembaca untuk merenungkan apakah cara-cara di luar hukum dapat dibenarkan ketika seluruh instrumen kelembagaan negara telah dikuasai oleh kepentingan jahat.

Bagi para penikmat fiksi bertema intrik kekuasaan, teka-teki moral, dan pertempuran strategi hukum, drama ini merupakan sebuah drama yang sangat memuaskan.

Hubungan emosional yang erat antartokoh, rahasia masa lalu yang terurai secara perlahan, serta klimaks yang dramatis menjadikan karya ini sangat layak untuk ditonton.