Bayangkan menerima warisan dari keluarga yang bahkan nyaris tidak pernah kamu kenal, lalu mendapati bahwa yang diwariskan bukan rumah, tanah, atau uang, melainkan sebuah toko roti tua beserta adonan biang yang sudah dirawat selama puluhan tahun. Premis semacam itu menjadi pintu masuk Dee Lestari dalam Madre. Buku ini bukan sebuah novel tunggal, melainkan kumpulan 13 prosa dan karya fiksi yang menawarkan cerita dengan warna berbeda-beda. Ada kisah tentang keluarga, cinta, persahabatan, kebebasan, kehidupan, hingga pencarian terhadap sesuatu yang membuat seseorang merasa benar-benar hidup. Namun, di antara seluruh karya tersebut, cerita Madre menjadi bagian yang paling panjang sekaligus menjadi judul buku ini.
Cerita Madre memperkenalkan Tansen, seorang pemuda yang hidup bebas dan lebih dekat dengan dunia selancar daripada urusan toko roti. Hidupnya berubah setelah ia menerima surat wasiat dari kakek dan neneknya yang telah meninggal. Ia kemudian mengetahui bahwa dirinya mendapatkan warisan berupa Tan de Bakker, toko roti tua, serta Madre, adonan biang yang selama bertahun-tahun dirawat seperti sesuatu yang hidup. Bagi Tansen, semua itu terasa asing. Ia tidak datang dengan pengetahuan tentang membuat roti ataupun keinginan untuk meneruskan usaha keluarga. Namun, warisan tersebut perlahan menyeretnya untuk mengenal masa lalu yang selama ini tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Dari sinilah perjalanan Tansen menjadi menarik. Ia yang sebelumnya terbiasa mengejar ombak harus belajar menghadapi dunia yang sama sekali berbeda. Dengan bantuan orang-orang yang pernah mengenal Tan de Bakker, ia mulai memahami bagaimana Madre diolah dan mengapa adonan tua itu begitu berharga. Kehadiran Mei, perempuan yang memiliki ketertarikan terhadap roti dan dunia yang sedang dijalani Tansen, kemudian memperluas cerita ke persoalan hubungan, passion, dan pilihan hidup. Tansen tidak sekadar sedang mencoba menyelamatkan sebuah toko roti dari keterpurukan, tetapi juga perlahan menemukan hubungan antara dirinya, keluarganya, dan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia cari.
Madre sendiri terasa lebih dari sekadar adonan biang roti. Ia seperti jejak masa lalu yang tetap hidup karena terus dirawat oleh tangan-tangan berbeda. Ada sejarah keluarga yang melekat di dalamnya, ada kenangan orang-orang yang pernah membuat Tan de Bakker berdiri, dan ada keputusan tentang apakah sesuatu dari masa lalu masih layak dibawa ke masa depan. Karena itu, warisan Tansen sebenarnya bukan hanya sebuah benda. Ia seperti menerima bagian dari kehidupan keluarganya yang selama ini hilang, lalu diberi kesempatan untuk menentukan sendiri apa yang ingin ia lakukan terhadap warisan tersebut.
Namun, kekuatan Madre tidak berhenti pada cerita Tansen. Sebagai kumpulan 13 prosa dan karya fiksi, buku ini memberikan pengalaman membaca yang jauh lebih beragam. Cerita-cerita di dalamnya tidak semuanya memiliki suasana seperti Madre. Ada yang membawa persoalan cinta dan persahabatan, ada yang bermain dengan hubungan manusia, sementara beberapa karya lainnya terasa lebih dekat dengan prosa liris. Perpindahan dari satu cerita ke cerita lain membuat buku ini seperti kumpulan potongan kehidupan: pendek, berbeda-beda, tetapi sama-sama menyimpan sesuatu yang bisa direnungkan setelah halaman terakhirnya.
Kelebihan Dee Lestari dalam buku ini terletak pada caranya menyelipkan gagasan tanpa membuat cerita berubah menjadi ceramah. Renungan tentang hidup, pilihan, hubungan, dan pencarian makna muncul melalui pengalaman tokoh-tokohnya. Beberapa kalimat bahkan terasa seperti sesuatu yang sederhana ketika pertama dibaca, tetapi kemudian tinggal lebih lama di kepala. Meski begitu, cerita Madre sendiri terasa cukup cepat selesai. Dengan dunia, sejarah keluarga, dan hubungan antartokoh yang sebenarnya bisa dikembangkan lebih jauh, saya sempat merasa kisah tersebut masih menyisakan ruang untuk digali.
Madre bukan sekadar buku tentang toko roti tua atau seorang pemuda yang tiba-tiba menerima warisan. Ia adalah kumpulan cerita tentang manusia yang sedang berhadapan dengan sesuatu: masa lalu, cinta, pilihan, kehilangan, kebebasan, ataupun keinginan untuk menemukan tempatnya sendiri. Dan mungkin itu sebabnya sebuah adonan roti bisa menjadi pusat perhatian dalam salah satu ceritanya. Sebab sesuatu yang terus dirawat ternyata tidak hanya mempertahankan rasa, tetapi juga menyimpan sejarah tentang siapa saja yang pernah menjaganya.
Baca Juga
-
Luntang-Lantung Si Gadis Taat: Saat Iman Diuji Realitas Sosial
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut
-
The Magician's Nephew: Menelusuri Penciptaan dan Asal Mula Dunia Narnia
-
Jika 1984 Adalah Dunia yang Dikendalikan, Lalu Apa Itu Dunia dalam IQ84?
-
The Dragon Republic: Dari Pejuang Menjadi Bidak dalam Permainan Kekuasaan
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel Supernova Akar, Petualangan Bodhi Mencari Jati Diri
-
Ditanya Soal Kemungkinan Jatuh Cinta Lagi, Dee Lestari Beri Jawaban Unik
-
Bikin Terkejut! Titi DJ Bocorkan Rencana Konser Perdana Dee Lestari
-
Dari Proyek Rahasia Keluarga Jadi Karya Publik, Dee Lestari Siap Rilis Buku Anak 'Bintang Utara'
-
Disadarkan Musik Sembuhkan Luka, Dee Lestari Bikin Album Lagi Usai 18 Tahun Vakum
Ulasan
-
Drama The Devil Judge, Topeng Keadilan di Tengah Konspirasi Elite Politik
-
Ulasan Novel Special Order, Menyeduh Asmara di Antara Kepulan Asap Restoran
-
Perangkap Nostalgia dan Cinta Tak Terbalas dalam Novel 'White Nights'
-
Review Freefall: A Reckoning for Boeing, Bongkar Tuntas Persoalan Boeing
-
Bingung Urutan Nonton Insidious? Ini Timeline Lengkap dari Awal hingga Out of the Further
Terkini
-
Tubuh Perempuan di Balik Energi Bersih dan Ketidakadilan Geografis
-
Didominasi Genre Self-Help, Intip 4 Buku Rekomendasi Sungjin DAY6!
-
Prediksi Al-Ettifaq vs Al-Nassr: Duel Tim Teratas, Akankah Ronaldo Main?
-
15 Jam Jalan Membuka Mata: Potret Ketimpangan Layanan Kesehatan Indonesia
-
Call My Agent! Kembali dengan Cast Lama, Tayang di Netflix 10 September