Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Ilustrasi Kebun Kelapa Sawit (Pexels)
Chairun Nisa

Bursa saham sedang punya cerita yang agak ironis. Ketika karhutla kembali membuat orang sibuk memantau titik panas dan kualitas udara, sejumlah saham perusahaan sawit justru melaju. Sepanjang 18–21 Agustus 2026, Jhonlin Agro Raya (JARR) menjadi yang paling mencolok setelah sahamnya melonjak 52,74 persen dalam sepekan. Eagle High Plantations (BWPT) naik 24,72 persen, sedangkan Triputra Agro Persada (TAPG) menguat 9,50 persen. Beberapa emiten sawit lain juga ikut bergerak naik.

Kebetulan? Bisa jadi. Tetapi jangan pula buru-buru mengatakan karhutla membuat saham sawit naik. Pasar saham tidak sesederhana itu. Harga CPO sedang tinggi, program biodiesel B50 meningkatkan kebutuhan minyak sawit, sementara kekeringan berpotensi mengganggu pasokan. Semua faktor tersebut ikut dibaca investor ketika memperkirakan masa depan perusahaan.

Justru karena hubungan keduanya tidak sesederhana sebab dan akibat, fenomena ini menarik dilihat dari jarak yang lebih jauh. Di balik angka-angka yang bergerak di layar bursa, ada sesuatu yang jauh lebih nyata: lahan yang terbakar dan cara manusia memperlakukannya.

Salah satu persoalan yang terus muncul dalam karhutla adalah pembukaan lahan. Polisi mengungkap adanya dugaan pembakaran yang dilakukan untuk membuka lahan perkebunan karena dianggap lebih murah. Pemerintah kemudian mendorong penggunaan alat berat seperti ekskavator sebagai alternatif pembukaan lahan tanpa api. Masalahnya, kalau membakar memang dianggap sebagai cara paling murah dan cepat, persoalannya tidak cukup diselesaikan dengan larangan.

Ada hitung-hitungan ekonomi di sana.

Seseorang mungkin menghemat biaya ketika memilih api. Namun api tidak pernah tahu kapan harus berhenti sesuai batas lahan yang diinginkan pemiliknya. Ketika angin berubah dan vegetasi di sekitarnya ikut terbakar, persoalannya berubah menjadi kebakaran yang jauh lebih besar. Lahan yang semula hendak dibuka bisa menjadi titik awal kerusakan yang merambat ke tempat lain.

Yang ikut kehilangan bukan hanya pohon. Hutan adalah rumah bagi berbagai jenis satwa yang tidak pernah ikut mengambil keputusan tentang bagaimana manusia membuka lahan. Ketika habitat terbakar, hewan kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan. Sebagian akan berusaha berpindah ke kawasan lain, bahkan bisa mendekati permukiman karena ruang hidupnya semakin sempit. Ada kerusakan yang tidak langsung terlihat ketika kamera hanya menyorot api dari udara.

Manusia pun tidak berada di luar cerita itu. Asap membuat masyarakat harus menjalani hari dengan udara yang tidak sehat, aktivitas sekolah dan pekerjaan dapat terganggu, jarak pandang menurun, sementara pemerintah harus mengeluarkan biaya untuk pemadaman dan penanganan dampak. Orang yang tidak pernah menyalakan api bisa ikut menerima akibat dari keputusan orang lain yang dibuat berhari-hari atau berminggu-minggu sebelumnya.

Dan asap tidak mengenal batas administrasi. Ketika angin membawa kabut asap melintasi wilayah Indonesia, persoalannya dapat ikut dirasakan Malaysia atau Singapura. Negara tetangga tidak perlu tahu siapa pemilik lahannya untuk merasakan udara yang tercemar. Mereka hanya menerima asap yang datang dari arah yang sama.

Di titik ini, karhutla seharusnya tidak lagi dipandang semata-mata sebagai bencana yang harus dipadamkan. Ada persoalan tata kelola lahan dan kepentingan ekonomi yang perlu dibicarakan. Apalagi sawit merupakan industri bernilai besar dengan perusahaan, perkebunan, dan kawasan konsesi yang luas.

Tentu tidak tepat menyamakan semua pelaku sawit dengan pembakar lahan. Banyak perusahaan memiliki kewajiban menjaga kawasan dan justru mengeluarkan biaya untuk mencegah kebakaran. Namun ketika api ditemukan di kawasan yang berkaitan dengan kegiatan usaha, publik berhak mendapatkan penjelasan yang terang: siapa yang mengelola lahan tersebut, apa yang terjadi di sana, dan siapa yang harus bertanggung jawab jika terjadi pelanggaran.

Di sinilah keberanian pemerintah diuji. Memadamkan api memang penting, tetapi penegakan hukum setelah api padam tidak kalah penting. Pemerintah tidak cukup hanya menunjukkan berapa banyak helikopter yang dikerahkan atau berapa hektare yang berhasil diselamatkan. Yang juga perlu terlihat adalah keberanian menyentuh pihak yang memiliki kepentingan ekonomi besar jika memang ditemukan pelanggaran.

Sebab memburu orang yang membakar lahan mungkin menjadi pekerjaan paling mudah. Yang jauh lebih sulit adalah memastikan bahwa kepentingan bisnis, modal, dan kekuasaan tidak membuat hukum berjalan dengan ukuran yang berbeda.

Sawit tetap penting bagi Indonesia. Industri ini menghasilkan pekerjaan, komoditas ekspor, dan kini menjadi bagian dari kebijakan energi melalui biodiesel. Tetapi nilai ekonomi tersebut tidak seharusnya membuat kerusakan lingkungan menjadi biaya yang diam-diam dipindahkan kepada masyarakat.

Saham boleh naik. CPO boleh mahal. Perusahaan boleh mengejar keuntungan. Tetapi jika sebuah keuntungan diperoleh setelah hutan kehilangan pepohonannya, satwa kehilangan habitatnya, masyarakat menghirup asap, dan negara tetangga ikut terganggu, ada harga lain yang sebenarnya sedang dibayar.

Dan mungkin pertanyaan karhutla yang paling mengganggu bukan lagi sekadar siapa yang menyalakan api.

Melainkan: siapa yang paling diuntungkan setelah api padam?