Ada pengalaman membaca buku yang terasa biasa saja, tetapi ada pula buku yang menarik perhatian bahkan sebelum kita membacanya. Antologi sajak dan puisi Dari Waktu ke Waktu karya Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. termasuk yang kedua. Bukan semata karena isinya, melainkan karena ada cerita personal yang membuat buku ini terasa lebih dekat.
Saya menemukan buku ini secara tidak sengaja di perpustakaan sebuah kafe langganan. Yang membuat saya cukup kaget adalah nama penulisnya. Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. merupakan mantan rektor kampus tempat saya pernah kuliah pada masa pandemi. Memang kami tidak pernah bertemu langsung karena sebagian besar masa perkuliahan berlangsung secara daring, bahkan masa jabatannya berakhir ketika aktivitas kampus masih banyak dilakukan secara online. Namun, namanya tentu sangat familiar bagi mahasiswa pada masa itu.
Buku ini memiliki judul Antologi Sajak dan Puisi dari Waktu ke Waktu, diterbitkan UIN-Maliki Press pada 2019. Dari identitasnya, buku ini bukan sekadar kumpulan puisi personal, tetapi juga menjadi semacam rekaman pemikiran penulis mengenai pendidikan, kehidupan akademik, agama, pemerintahan, masyarakat, hingga berbagai persoalan yang berkembang di zamannya.
Isi Buku
Menariknya, sajak-sajak di dalam buku ini tidak selalu berbicara tentang cinta atau perasaan personal sebagaimana yang sering ditemukan dalam antologi puisi. Abd. Haris justru membawa pembaca ke wilayah yang lebih luas. Ia menulis tentang cendekiawan, tugas dosen, perguruan tinggi, UIN Maliki, bahkan fenomena hoaks dan kehidupan sosial.
Puisi berjudul “Cendekiawan, Pejuang Kemajuan Sendirian”, misalnya, terasa seperti refleksi mengenai posisi intelektual di tengah masyarakat. Cendekiawan digambarkan sebagai sosok yang sering kali berpikir melampaui zamannya, menawarkan gagasan, tetapi justru tidak selalu mudah dipahami. Dalam kondisi tertentu, intelektual bahkan dapat menjadi sasaran penghinaan dan ketidakpercayaan.
Di sinilah puisi tersebut terasa menarik. Tema yang dibicarakan memang sangat serius, tetapi disampaikan dalam bentuk sajak yang sederhana. Penulis seperti sedang mencatat kegelisahannya terhadap kondisi masyarakat yang mudah percaya pada informasi tanpa dasar sekaligus mudah mencela orang lain.
Tema pendidikan dan dunia akademik juga mendapatkan ruang cukup besar. Dalam “Tugas Dosen”, misalnya, penulis menyoroti persoalan pemangku jabatan akademik, peraturan pendidikan tinggi, kewajiban dosen, jurnal ilmiah, penelitian, hingga kontribusi profesor dan lektor kepala. Puisi ini terasa seperti catatan seorang akademisi yang tidak hanya menjalani dunia pendidikan tinggi, tetapi juga memikirkan bagaimana sistem tersebut seharusnya berkembang.
Bagi pembaca yang pernah menjadi mahasiswa, bagian seperti ini mungkin terasa cukup familiar. Perguruan tinggi bukan hanya soal ruang kelas dan nilai. Di belakangnya ada penelitian, jurnal, kebijakan, jabatan akademik, serta tuntutan agar dosen terus berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah puisi “Ulul Albab, Representasi UIN Maliki”. Di sini, istilah ulul albab tidak dipahami sekadar sebagai orang pintar atau cendekiawan. Penulis mengaitkannya dengan manusia yang menggunakan akal dan hati sekaligus, mengingat Allah dalam berbagai keadaan, serta merenungkan ciptaan-Nya sebagai bukti kebesaran Tuhan.
Gagasan tersebut kemudian dikaitkan dengan identitas UIN Maliki yang memiliki semangat membentuk generasi ulul albab. Dengan demikian, puisi tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan gagasan pendidikan dan nilai spiritual.
Kelebihan dan Kekurangan
Hal menarik lainnya adalah keberanian penulis memasukkan isu-isu yang sangat kontekstual ke dalam puisi. Ada peraturan akademik, kehidupan kampus, perkembangan teknologi informasi, hoaks, hingga posisi intelektual dalam masyarakat. Karena itu, membaca buku ini seperti membuka catatan perjalanan pemikiran seorang akademisi dari waktu ke waktu.
Dari segi bentuk, pembaca mungkin tidak akan menemukan puisi yang penuh metafora rumit atau permainan bahasa yang sangat eksperimental. Justru kekuatan buku ini terletak pada kesederhanaannya. Sajak-sajaknya terasa seperti media untuk menyampaikan gagasan secara langsung. Ada kesan bahwa penulis lebih mementingkan pesan daripada kerumitan estetika.
Buku yang sangat tebal ini pada akhirnya terasa seperti arsip pemikiran. Ia merekam apa yang dipikirkan seorang akademisi tentang kampus, masyarakat, agama, dan masa depan. Terlebih bagi seseorang yang pernah menjadi bagian dari lingkungan UIN Maliki, buku ini dapat memberikan pengalaman membaca yang berbeda: mengenali kampus bukan hanya melalui gedung dan aktivitas perkuliahan, tetapi juga melalui gagasan orang yang pernah berada di pucuk kepemimpinannya.
Mungkin itulah alasan Dari Waktu ke Waktu terasa menarik ketika ditemukan secara tidak sengaja. Kadang sebuah buku tidak perlu kita cari untuk akhirnya menemukan sesuatu di dalamnya. Cukup membukanya, membaca beberapa halaman, lalu menyadari bahwa di antara sajak-sajak tersebut tersimpan potongan zaman, pemikiran, dan kenangan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan sebuah institusi.
Identitas Buku
- Judul: Dari Waktu ke Waktu
- Penulis: Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag.
- Penyunting: Ahmad Ghozi, M.A.
- Design Cover: Dahril Anjas Triatmiko
- Design Isi: RGB
- Cetakan: Cetakan I (19 September 2019)
- ISBN: 978-623-232-341-4
- Penerbit: UIN-MALIKI PRESS
Baca Juga
-
Misterius, Seksi, dan Berbahaya: Pesona Patch dalam Hush, Hush
-
Ketika Utang Menjadi Jerat: Pelajaran Penting di Buku Merah MTR
-
Membaca Perang Paregrek 1: Saat Konflik Kerajaan Majapahit Berubah Jadi Thriller Politik
-
How to Master Your Habits: Bukan Malas, Mungkin Kebiasaan Kita yang Salah!
-
Bukan Tak Sanggup: Perbedaan Antara Merawat Anak Kecil vs Lansia
Artikel Terkait
Ulasan
-
Dibalik Aksi Copet Massal, Ada "Arsip Zaman" Skena Musik Indonesia di Film Operasi Pesta Copet
-
Review Film Motor City: Sengaja Mengorbankan Cerita demi Gaya
-
Lagi Capek-capeknya Hidup? Lagu 'Bersenja Gurau' Raim Laode Ini Wajib Kamu Dengar
-
Jangan Asal Buka Kiriman Misterius! Review Paket Santet: Petaka Belanja Online Mistik yang Kejam
-
Dari Marie Curie hingga Dinosaurus: Bagaimana Buku Ini Membuka Pintu Dunia Sains untuk Anak-Anak?
Terkini
-
Rekomendasi 7 Sepatu Gunung Terbaik dan Awet: Mulai 500 Ribuan Aja!
-
SEVENTEEN Akan Hiatus untuk Wajib Militer, Sisa 5 Member yang Tetap Aktif
-
Rutin Tiap Tahun, Thailand Kirim Film 9 Temples to Heaven ke Oscar 2027
-
RUU Perampasan Aset dan Ujian Keseriusan Negara Melawan Korupsi
-
Gaji Pas-pasan Tapi Mau Financial independence, Emangnya Bisa?