Sekar Anindyah Lamase | Athar Farha
Poster Film Motor City (IMDb)
Athar Farha

Film aksi biasanya punya cara mudah untuk membuat penonton mengikuti cerita: karakter bicara, konflik dijelaskan, lalu keputusan mereka membawa cerita menuju benturan berikutnya. Namun. Film Motor City yang rilis di bioskop Indonesia sejak 26 Agustus 2026 terbilang lebih nekat. 

Film garapan Potsy Ponciroli ini hampir membuang dialog dari seluruh ceritanya dan menggantinya dengan tatapan, gerakan tubuh, musik, suara, darah, serta kekerasan. Bikin penasaran, ya?

Motor City mengambil latar Detroit pada 1977. Alan Ritchson menjadi John Miller, veteran Perang Vietnam dan mantan narapidana yang bekerja di pabrik dan ingin memulai kehidupan baru bersama Sophia, diperankan Shailene Woodley. 

Selain dua bintang utama, ada Ben Foster tampil sebagai Reynolds, gangster yang pernah memiliki hubungan dengan Sophia, sementara Pablo Schreiber memerankan Savick, polisi korup yang membantu menjebak John. Ben McKenzie menjadi Detective Kent, dengan Lionel Boyce sebagai Youngblood dan Amar Chadha-Patel sebagai Singh. 

Film berdurasi 103 menit ini ditulis Chad St. John dan diproduksi antara lain oleh Stampede Ventures, Peachtree Media Partners, dan Gramercy Park Media. Jon Berg, Cliff Roberts, Greg Silverman, dan Joshua Harris tercatat sebagai produser.

Cerita bermula ketika John akhirnya merasa hidupnya mulai kembali ke jalur yang benar. Setelah menyelesaikan masa hukumannya dan bekerja sebagai buruh pabrik, dia pulang menemui Sophia dan berniat melamarnya. Kebahagiaan itu langsung dihancurkan ketika John dijebak dalam kasus narkoba oleh Reynolds dan Savick. Dia kembali dipenjara untuk kejahatan yang sama sekali bukan perbuatannya.

Reynolds kemudian mengambil Sophia dan bahkan mengirimkan foto dirinya bersama perempuan tersebut kepada John. Tahun-tahun berlalu. John keluar dari penjara dengan kehidupan yang sudah hancur dan hanya membawa satu tujuan: membalas orang-orang yang merampas masa depannya. Di tengah semua itu, Detective Kent mulai mencurigai kasus John dan mencoba membongkar jaringan korupsi yang membuat pria tersebut masuk penjara.

Ambisi Film Motor City 

Yup, Motor City jelas punya ciri khas. Bahkan sejak menit-menit awal, kita langsung tahu, Sutradara Potsu Ponciroli nggak ingin membuat film aksi kriminal yang berjalan seperti biasanya.

Menurutku, keberanian tersebut adalah daya pikat terbesar Motor City sekaligus kelemahan terbesarnya.

Film ini ibarat eksperimen visual yang sangat sadar bentuknya sendiri. Para karakter hampir nggak berbicara. Mereka harus menyampaikan kemarahan melalui wajah, tubuh, dan tindakan. Ben Foster bahkan mendapatkan ruang besar untuk bermain dengan gestur-gestur kecil yang terasa aneh sekaligus mengganggu sebagai Reynolds. Misalnya dalam scene memutar teko kopi atau menjatuhkan tanah dari tangannya, untuk membangun karakter tanpa bantuan dialog.

Alan Ritchson juga perlahan menemukan bentuk permainan yang cocok dengan konsep tersebut. Pada bagian awal, John tampak masih agak sulit dipercaya sebagai pekerja biasa karena tubuh Ritchson terlalu besar dan mengintimidasi. Setelah John dipenjara dan kehidupannya berubah jadi kayak di neraka, barulah dirinya tampak meyakini jadi ‘mesin’ yang hanya tahu satu tujuan.

Masalahnya muncul ketika gaya tersebut mulai meminta perhatian lebih besar ketimbang ceritanya.

Iya, Motor City memang punya visual noir yang kuat, Detroit yang terasa seperti neraka kriminal, kekerasan yang kasar, akting yang sengaja ekspresif, serta musik yang terus mendorong emosi. Semua elemen itu bekerja untuk menciptakan pengalaman yang intens. Namun treatment semacam ini juga membuat karakter harus berjuang mendapatkan ruang untuk berkembang.

Karakter Sophia jadi contoh paling jelas. Shailene Woodley ngasih energi yang menarik dan membuat karakternya lebih hidup, tapi posisi Sophia dalam cerita tetap sangat terikat pada konflik John dan Reynolds. Dia jadi pusat perebutan, sementara film lebih tertarik melihat bagaimana dua laki-laki tersebut saling menghancurkan.

Di sinilah Motor City kayak film yang tahu banget bentuk yang diinginkannya, tapi belum selalu tahu bagaimana membuat penonton peduli dengan kedalaman setiap karakternya.

Musiknya pun memperlihatkan persoalan serupa. Lagu-lagu Bill Withers, Fleetwood Mac, Donna Summer, dan David Bowie memang menciptakan momen yang kuat. Hanya saja, jatuhnya film jadi jauh lebih menyatu karena musik yang mengikuti emosi visual, bukan karena plot yang bagus. 

Beginilah paradoks Motor City. Film ini memang sengaja mengorbankan sebagian kekuatan cerita demi menciptakan gaya yang berbeda. Hasilnya bukan kegagalan total. Sebaliknya, beberapa bagian sangat kuat karena semua elemennya menyatu. Selebihnya, ya cuma jadi kayak film bisu yang dilengkapi efek suara. Bukan berarti nggak ada yang bicara ya. Intinya minim dialog banget, deh!

Bila Sobat Yoursay penasaran, jangan ragu ke bioskop mumpung belum turun layar. Selamat menonton.