M. Reza Sulaiman | Chairun Nisa
Seri Komik Why (Dok. Pribadi/ Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Bagaimana membuat anak mau membaca tentang sains ketika layar ponsel menawarkan video, permainan, dan segala macam hiburan dalam hitungan detik? Pertanyaan seperti ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum kecerdasan buatan ramai digunakan. Salah satu jawabannya pernah saya temukan di rak buku sekolah: Why? Series.

Sekitar 2018, ketika masih SMP, saya mengenal komik pengetahuan asal Korea Selatan ini. Di sekolah, Why? termasuk bacaan yang sering dicari. Masalahnya sederhana: bukunya tidak sebanding dengan jumlah siswa yang ingin membaca. Kalau seorang teman sudah selesai, yang lain menunggu giliran. Kadang harus mengantre hanya untuk mendapatkan satu buku.

Saya waktu itu tidak pernah memikirkan kenapa buku pengetahuan bisa diperlakukan seperti itu. Yang saya tahu, membaca Why? jauh lebih menyenangkan daripada berhadapan dengan halaman penuh istilah ilmiah. Gambarnya berwarna, tokohnya lucu, ceritanya bergerak, lalu pengetahuan diselipkan sepanjang perjalanan.

Seri ini diterbitkan oleh YeaRimDang di Korea Selatan dan diterbitkan di Indonesia oleh Elex Media Komputindo. Cakupannya juga luas. Why? Science membawa pembaca mengenal berbagai hal dalam ilmu pengetahuan alam, mulai dari tubuh manusia, dinosaurus, tumbuhan, hingga astronomi. Ada Why? People yang mengangkat tokoh-tokoh penting dunia. Why? Country bergerak ke wilayah sejarah, kebudayaan, politik, dan kondisi alam berbagai negara. Sementara Why? Math & Social Science memuat matematika dengan pendekatan STEAM serta pengetahuan sosial dan kemasyarakatan.

Judul-judulnya kemudian berkembang ke tema yang lebih khusus. Why? The Sea, misalnya, mengajak pembaca melihat laut dari berbagai sisi. Isinya menyentuh kehidupan bawah laut, hewan, terumbu karang, hingga kedudukan laut bagi kehidupan di bumi. Why? Human Body membawa pembaca masuk ke tubuh manusia dan mengenal bagian-bagian serta proses biologis yang berlangsung di dalamnya. Ada pula Why? Universe, Why? Philosophy, Why? Literature, Why? Climate Change, Why? Human Being, dan Why? Robot.

Saya sendiri punya satu judul yang paling saya ingat: Why? People: Marie Curie. Dari buku itu saya mengenal Marie Curie sebagai ilmuwan asal Polandia yang melakukan penelitian bersama Pierre Curie. Pembaca diperkenalkan pada penemuan polonium dan radium serta penelitian mengenai radioaktivitas yang kemudian mengantarkan Curie memperoleh dua Nobel. Informasi tersebut terasa berbeda ketika datang melalui kisah seorang tokoh. Ada kehidupan yang mengikuti fakta-fakta ilmiahnya.

Itulah salah satu kekuatan format Why?. Anak tidak perlu duduk menghadapi definisi demi definisi. Karakter berjalan, berbicara, melakukan sesuatu, lalu informasi muncul mengikuti adegan. Gambar membantu menjelaskan objek yang sulit dibayangkan. Lelucon membuat halaman terasa ringan. Cerita membuat pembaca punya alasan untuk terus membalik halaman.

Bahkan topik seperti laut yang luas atau anatomi tubuh yang rumit bisa terasa dekat karena pembaca melihatnya melalui karakter dan ilustrasi. Pengetahuan tidak berdiri sendirian di halaman. Ia punya konteks.

Tetapi setelah bertahun-tahun, saya juga melihat beberapa hal yang dulu luput dari perhatian. Materi yang ditujukan untuk anak tentu mengalami penyederhanaan. Penjelasan dalam komik tidak bisa menggantikan buku ilmiah yang membahas suatu bidang secara mendalam. Beberapa humor dan gaya visual yang dahulu terasa akrab juga bisa terlihat kekanak-kanakan bagi pembaca yang sudah lebih dewasa.

Bagi saya, keterbatasan itu justru perlu ditempatkan sesuai fungsinya. Why? adalah bacaan pengantar. Ia membuat anak mengenal sebuah topik, lalu rasa penasaran dapat membawa mereka mencari bacaan yang lebih serius. Tidak semua pertanyaan harus selesai di dalam satu buku.

Itu pula yang baru terasa ketika saya mengingat kembali masa SMP. Dulu saya membaca karena ingin tahu isi komiknya. Saya tidak sedang mencari teori tentang radioaktivitas, anatomi, atau sejarah berbagai negara. Saya hanya ingin membaca. Namun beberapa tahun kemudian, ketika melihat kembali judul-judulnya, saya sadar betapa banyak pintu pengetahuan yang pernah dibuka oleh buku-buku itu.

Sekarang informasi memang jauh lebih mudah dicari. Anak bisa menemukan penjelasan sains melalui video, mesin pencari, maupun berbagai teknologi baru. Persoalannya tinggal satu: apakah mereka cukup penasaran untuk mencari?

Why? Series punya cara sederhana untuk memulainya. Beri anak cerita. Beri mereka gambar. Buat satu pertanyaan terasa menarik. Setelah itu, biarkan mereka membalik halaman berikutnya. Barangkali itu yang membuat kami dulu rela mengantre di sekolah. Kami tidak merasa sedang berebut buku pelajaran. Kami sedang berebut sebuah komik yang ingin segera kami baca. Pengetahuan datang bersamanya, halaman demi halaman.