Sekar Anindyah Lamase | Athar Farha
Poster Film The Salt Path (IMDb)
Athar Farha

Kehilangan rumah bisa membuat hidup kehilangan arah. Bagi Raynor dan Moth Winn, keadaan jadi jauh lebih rumit karena kehilangan tempat tinggal datang bersamaan dengan persoalan ekonomi dan kabar Moth mengidap penyakit neurodegeneratif. Mereka lalu memilih berjalan sejauh 630 mil menyusuri South West Coast Path, dari Minehead di Somerset melewati Devon dan Cornwall hingga Poole di Dorset. Perjalanan itu menjadi inti Film The Salt Path, drama Inggris yang di permukaan biasa, tapi menyimpan gagasan cukup dalam tentang rumah dan arti pulang.

Film ini disutradarai Marianne Elliott dalam debutnya sebagai sutradara film panjang, dengan skenario Rebecca Lenkiewicz yang diadaptasi dari memoir Raynor Winn. Produksinya melibatkan Number 9 Films dan Shadowplay Features, dengan dukungan BBC Film, Elliott & Harper, Lipsync Productions, serta Rocket Science. 

Film berdurasi sekitar 115 menit ini dibintangi Gillian Anderson sebagai Raynor Winn dan Jason Isaacs sebagai Moth Winn, bersama James Lance sebagai Grant, Hermione Norris sebagai Polly, Rebecca Ineson sebagai Rowan Winn, Denis Lill sebagai Dog Walker, dan Megan Placito sebagai Bea. Filmnya sudah world premiere di Toronto International Film Festival pada 2024 sebelum akhirnya dirilis secara luas pada 2026 ini. 

Cerita dimulai ketika kehidupan Raynor dan Moth mendadak runtuh. Mereka kehilangan rumah dan berada dalam kondisi finansial yang serba terbatas. Pada saat yang hampir bersamaan, Moth menghadapi diagnosis penyakit serius. Daripada menyerah pada keadaan, keduanya memutuskan membawa ransel dan perlengkapan seadanya untuk menjalani perjalanan panjang dengan berjalan kaki. Mereka tidur di tenda, melewati tebing dan pantai, bertemu orang-orang asing, menghadapi keterbatasan uang, kelelahan fisik, serta ketidakpastian tentang masa depan. Se-biasa itu ceritanya, Sobat Yoursay!

Dua Manusia yang Saling Menguatkan

Film ini sebenarnya nggak sedang bercerita tentang dua orang yang berhasil menaklukkan alam. Raynor dan Moth,terlihat seperti dua manusia biasa yang sedang berusaha bertahan. Mereka lelah, kesal, khawatir, sesekali bertengkar, lalu kembali berjalan. Perjalanan mereka lebih seperti proses menerima kenyataan daripada usaha untuk memenangkan pertarungan melawan kehidupan.

Tema rumah menjadi bagian paling kuat dari perjalanan tersebut. Pada awalnya, rumah ibarat sesuatu yang konkret: bangunan, tempat tidur, barang-barang pribadi, dan tempat berlindung. Begitu semuanya hilang, definisi itu ikut runtuh. Raynor dan Moth kemudian hidup tanpa alamat yang jelas, berpindah dari satu titik ke titik lain, sementara alam menjadi tempat singgah yang mereka tempati.

Menariknya, film ini nggak buru-buru memberikan jawaban bahwa alam adalah rumah baru mereka. Alam di sini, digambarkan sebagai tempat yang indah sekaligus keras. Tebing dan laut terlihat memukau, tapi perjalanan ratusan mil juga menghadirkan rasa sakit, kelelahan, dan keterbatasan. Lanskap tersebut akhirnya jadi cerminan kehidupan mereka: luas, bebas, tapi diisi ketidakpastian. South West Coast Path bahkan diposisikan sebagai salah satu ‘karakter’ penting dalam perjalanan mereka.

Aku paling menikmati bagaimana Gillian Anderson dan Jason Isaacs membuat hubungan Raynor dan Moth begitu manusiawi. Mereka bukan pasangan yang setiap saat saling menguatkan dengan kalimat-kalimat indah. Tekanan hidup membuat mereka bisa frustrasi dan berkonflik. Dari situ hubungan keduanya jadi lebih masuk akal. Ketika rumah sudah hilang dan masa depan Moth semakin kabur, satu hal yang masih mereka punya adalah kebersamaan.

Di titik itu, ‘pulang’ dalam film ini perlahan berubah makna. Rumah bukan lagi sekadar tempat yang mereka tinggalkan. Rumah menjadi seseorang yang tetap berjalan bersama ketika tempat tinggal, uang, rutinitas, bahkan kepastian masa depan sudah nggak bisa diandalkan.

Meski begitu, aku merasa Film The Salt Path juga perlu dilihat secara kritis karena fondasi kisah nyatanya kemudian menghadapi kontroversi serius. Bagiku, kisah film ini lebih aman dibaca sebagai adaptasi drama dari sebuah memoir yang sedang dipertanyakan, bukan sebagai catatan fakta yang sudah selesai diverifikasi.

Film The Salt Path jelas ingin menunjukkan bahwa manusia bisa menemukan harapan setelah kehilangan segalanya. Pesan tersebut tetap bekerja sebagai gagasan sinematik, meskipun kisah nyata yang menjadi fondasinya punya lapisan persoalan sendiri.

Bisa disimpulkan bahwa, ini bukan semata-mata film tentang kehilangan rumah. Film ini berbicara tentang bagaimana manusia membangun kembali rasa memiliki ketika semua yang dulu pasti, sudah runtuh. Rumah bisa berupa bangunan, alamat, atau tanah yang kita miliki.

Namun, dalam perjalanan Raynor dan Moth, rumah diartikan lebih filosofis, yakini seseorang yang tetap berada di sebelah kita ketika jalan di depan masih panjang dan belum ada kepastian tentang tempat berhenti. Semanis itu memb. 

Buat Sobat Yoursay yang penasaran, selamat menonton.