Lintang Siltya Utami | Athar Farha
Poster Film The Dog Stars (IMDb)
Athar Farha

Kita mungkin membayangkan kehancuran sebagai sesuatu yang mengerikan. Ledakan, gedung runtuh, jalanan disesaki kendaraan yang ditinggalkan, manusia berlarian, lalu segala macam kekacauan yang membuat dunia seperti tempat yang sudah kehilangan harapan. The Dog Stars rupanya menawarkan kehancuran dengan cara yang jauh lebih tenang.

Dunia dalam film ini masih terlihat indah. Langit masih membentang luas. Pegunungan masih berdiri kokoh. Jalan-jalan panjang masih membelah lanskap Amerika. Matahari tetap terbit seperti biasa. Alam bahkan terlihat jauh lebih lebar setelah manusia hampir menghilang dari muka Bumi.

Di situlah film The Dog Stars punya sesuatu yang menarik. Film thriller berlatar dunia pasca-apokaliptik garapan Ridley Scott yang diproduksi 20th Century Studios dan Scott Free Productions ini berdurasi sekitar 118 menit. 

Jajaran bintangnya nggak kaleng-kaleng, lho. Film ini dibintangi Jacob Elordi sebagai Hig, Josh Brolin sebagai Bangley, Margaret Qualley sebagai Cima, Guy Pearce sebagai Pops, serta Benedict Wong dan Allison Janney. 

Film ini diadaptasi dari novel The Dog Stars karya Peter Heller, dengan Mark L. Smith sebagai penulis skenario, termasuk Peter Heller, Mark L. Smith, dan Christopher Wilkinson sebagai penulis skenario. The Dog Stars resmi tayang di bioskop Indonesia pada 28 Agustus 2026 dan mendapat klasifikasi 17+. 

Ceritanya tertuju pada Hig, pilot yang bertahan hidup setelah pandemi memusnahkan sebagian besar umat manusia. Dia tinggal di hanggar pesawat terpencil di Colorado bersama Jasper, anjing kesayangannya, dan Bangley, mantan marinir yang sangat keras dalam menghadapi dunia baru mereka. Mereka punya makanan, senjata, tempat berlindung, dan aturan sendiri untuk bertahan hidup dari para Reaper, kelompok pemulung brutal yang berkeliaran di wilayah tersebut.

Kehidupan Hig sebenarnya sudah dibuat sesederhana mungkin. Terbang ketika perlu. Berburu. Menjaga persediaan. Merawat Jasper. Menghindari manusia lain. Lalu sebuah transmisi radio misterius tertangkap. Suara tersebut menjadi tanda, mungkin masih ada kehidupan di luar tempat persembunyian mereka.

Hig akhirnya terbang menuju sumber transmisi itu. Perjalanannya membawa dia keluar dari zona aman dan mempertemukannya dengan Cima dan Pops. Pertemuan tersebut perlahan membuka kemungkinan, hidup setelah kehancuran dunia masih bisa memiliki hubungan, kasih sayang, dan harapan.

Lumayan menarik, kan? Aman jauh lebih menarik bila Sobat Yoursay nonton langsung di bioskop. 

Visual dari Ridley Scott dalam Film The Dog Stars 

Ridley Scott membuat dunia yang sudah hancur terlihat begitu indah. Lanskap pegunungan terbentang luas. Langit terlihat lapang. Jalan-jalan membentang tanpa kemacetan. Bangunan dan kawasan yang dulu disesaki manusia kini terasa kosong. Pesawat bisa melintas di atas wilayah yang seolah-olah sudah dikembalikan pada alam.

Secara visual, semuanya cantik. Secara emosional, semuanya menyedihkan. Kontras itu menjadi salah satu hal yang membuat film ini punya nuansa berbeda dari film kiamat yang sibuk memperlihatkan kehancuran.

Biasanya kehancuran dibuat terlihat buruk. Kota dibakar. Bangunan runtuh. Jalanan diisi mayat. Dunia dibuat sesak oleh kekacauan supaya penonton langsung memahami bahwa peradaban sudah berakhir. Namun, film The Dog Stars punya pendekatan yang lebih tenang.

Dunia setelah kiamat bisa terlihat sangat cantik. Dan menurutku, di situlah kesedihannya muncul.

Ketika manusia sudah hampir menghilang, alam kembali mendapatkan ruangnya. Pegunungan terlihat lebih luas. Jalan raya menjadi kosong. Bandara kehilangan fungsi. Rumah-rumah yang dulu jadi tempat berkumpul berubah nggak penghuni. Keindahan tersebut akhirnya seperti sesuatu yang ironis.

Dunia ternyata tetap berjalan meskipun manusia sudah kehilangan banyak hal. Matahari masih terbit. Pegunungan masih berdiri. Langit masih berubah warna. Angin masih bergerak. Hanya manusianya yang semakin sedikit.

Aku suka cara pendekatan seperti ini membuat kesepian Hig terasa lebih besar. Dia bukan tinggal di dunia yang gelap sepanjang waktu. Dia justru hidup di dunia yang kadang-kadang sangat indah. Masalahnya, keindahan itu sudah kehilangan orang-orang yang dulu membuatnya berarti. Dan ini membuat visual filmnya lebih dari sekadar pajangan.

Ketika Hig terbang, kamera seolah menunjukkan kebebasan yang luar biasa. Pesawatnya bisa bergerak melewati lanskap luas tanpa harus berhadapan dengan lalu lintas, gedung pencakar langit, atau kerumunan manusia. Kebebasan itu seharusnya menyenangkan.

Namun, bagi Hig, kebebasan itu mengingatkan dirinya, hampir nggak ada lagi yang tersisa. Maka, di sinilah Ridley Scott bermain dengan skala. Manusia terlihat sangat kecil di tengah alam yang begitu besar. Hig punya pesawat, senjata, dan tempat berlindung. Namun semua itu tetap kecil ketika kamera memperlihatkan hamparan dunia di sekelilingnya.

Omong-omong, Ridley Scott memang memberi kita pemandangan dunia pasca-apokaliptik yang luas dan indah. Namun, semakin indah dunia terlihat, semakin jelas pula tragedinya. Kiamat ternyata bukan cuma tentang dunia yang hancur. Kiamat juga bisa berarti melihat dunia tetap indah setelah orang-orang yang kita cintai sudah nggak ada lagi di dalamnya.

Dan menurutku, film The Dog Stars paling menarik untuk dilihat sebagai drama manusia, bukan sekadar film survival. Maka dari itu, jangan terlalu berekspektasi tinggi pada level thriller aksinya, ya. Selamat menonton.