Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Teror Diari Tua (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Apa jadinya jika sebuah diari tua yang ditemukan di halaman belakang sekolah tiba-tiba terus kembali meskipun sudah berusaha dimusnahkan? Bagi Kara, benda sederhana itu justru menjadi awal dari serangkaian kejadian aneh yang mengubah kehidupannya.

Gadis yang dikenal sangat berhati-hati dan selalu mengandalkan logika tersebut harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara masuk akal.  Novel Teror Diari Tua adalah buku karya Arumi E. yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada 2017.

Sinopsis Novel

Kara sebagai tokoh utama yang sebenarnya bukan gadis ceroboh. Pengalamannya berteman dengan Kresta selama lebih dari setahun membuatnya terbiasa berpikir rasional dan mempertimbangkan segala sesuatu dengan hati-hati. Ia bahkan berusaha menjaga sikap agar tidak mempermalukan dirinya sendiri di depan orang banyak. Namun, semua prinsip itu mulai goyah setelah ia menemukan sebuah diari tua bersampul ungu di halaman belakang sekolah.

Sejak saat itu, kesialan datang bertubi-tubi. Salah satu masalah yang harus dihadapi Kara adalah Gladys, gadis yang sejak tahun sebelumnya memang sudah membencinya. Perseteruan mereka semakin rumit karena Kara berhasil mengambil posisi di klub menari sekolah yang sebelumnya ditempati Gladys. Ditambah lagi, Kresta, laki-laki yang disukai Gladys, justru menunjukkan ketertarikan kepada Kara.

Perselisihan keduanya bahkan semakin kacau ketika Kara tidak sengaja bersenggolan dengan Gladys saat jam istirahat hingga kuah soto mengotori seragamnya. Peristiwa yang tampaknya sepele itu menjadi bagian dari rentetan masalah yang harus dihadapi Kara. Namun, persoalan sebenarnya jauh lebih besar karena keselamatannya mulai terancam.

Hal yang menarik adalah Kara tidak sendirian menemukan diari tua. Sahabatnya, Erika, juga menemukan sebuah diari dengan sampul merah muda. Anehnya, pengalaman Erika justru berbanding terbalik dengan Kara. Jika Kara mengalami kesialan demi kesialan, Erika malah memperoleh keberuntungan setelah menemukan diari tersebut.

Ia memenangkan berbagai perlombaan dan hubungannya dengan Rafa semakin dekat. Seolah-olah diari yang ditemukan Erika membawa keberuntungan, sementara diari Kara justru mendatangkan petaka.

Keduanya kemudian menyadari bahwa diari tersebut bukan benda biasa. Diari Kara diketahui merupakan milik Anjelika, sedangkan milik Erika adalah Ajeng. Keduanya memiliki kesamaan: sama-sama berusia 17 tahun pada 1994.

Tahun 1994 sendiri menjadi bagian penting dalam cerita. Pada masa tersebut, menulis diari merupakan salah satu kebiasaan remaja untuk menyimpan cerita pribadi, perasaan, maupun kejadian sehari-hari. Belum ada media sosial dan telepon pintar seperti sekarang. Karena itu, diari menjadi semacam ruang pribadi untuk mencatat kehidupan.

Ajeng dan Anjelika ternyata pernah menguburkan diari mereka di halaman belakang sekolah. Bertahun-tahun kemudian, benda tersebut ditemukan kembali oleh Kara dan Erika. Masalahnya, bukan hanya tulisan masa lalu yang ikut muncul, tetapi juga persoalan yang belum selesai.

Sejak menemukan diari, Kara dan Erika mulai mengalami gangguan dari sosok perempuan berwajah menyeramkan. Yang membuat situasinya semakin mengerikan, mereka ternyata melihat sosok yang sama. Keduanya kemudian mencurigai diari tua tersebut sebagai sumber teror.

Bersama Kresta dan Raka, mereka berusaha mencari tahu siapa sebenarnya Ajeng dan Anjelika serta apa yang terjadi pada keduanya. Penyelidikan itu membawa mereka semakin dekat dengan sebuah rahasia lama. Mereka bahkan tiba di tempat penuh ilusi, tempat batas antara kehidupan dan kematian menjadi sulit dibedakan.

Kelebihan dan Kekurangan

Di sinilah cerita terasa semakin mencekam. Sekolah yang biasanya identik dengan kegiatan belajar, pertemanan, dan masa remaja berubah menjadi ruang penuh misteri. Halaman belakang, diari tua, sosok perempuan menyeramkan, hingga tempat yang dipenuhi ilusi menjadi rangkaian elemen yang membuat pembaca terus bertanya-tanya.

Bagi saya, daya tarik kisah ini justru terletak pada perpaduan antara horor sekolah dan misteri masa lalu. Cerita tentang kamar mandi sekolah yang dianggap angker, sumur tua, atau sosok penasaran memang sudah akrab dalam cerita masyarakat. Namun, kisah Ajeng dan Anjelika memberikan alasan yang lebih personal: sebuah masa lalu yang belum terselesaikan.

Kara dan Erika bukan hanya harus menyelamatkan diri dari teror. Mereka juga harus menyelesaikan persoalan yang diwariskan oleh dua pemilik diari dari masa lalu. Sebab, terkadang sesuatu yang telah dikubur bertahun-tahun bukan berarti benar-benar selesai. Ada rahasia yang tetap mencari jalan untuk kembali ditemukan.

Identitas Buku

  • Judul: Teror Diari Tua
  • Penulis: Arumi E.
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2017
  • ISBN: 9786020333410
  • Genre: Fiksi, TeenLit, Horor