Dalam hubungan, memberi kebebasan sering terdengar seperti bentuk cinta yang paling dewasa. Kita membiarkan pasangan mencari jawaban, mengenal dirinya sendiri, bahkan melihat kemungkinan hidup di luar hubungan. Masalahnya muncul ketika kebebasan itu menghasilkan kemungkinan yang nggak kita harapkan.
Situasi semacam itulah yang dikulik Film The Sun Never Sets, drama romantis terbaru garapan Joe Swanberg yang rilis pertama kali (world premiere) di SXSW 2026 pada 13 Maret. Film produksi The Alaska Project ini dibintangi Dakota Fanning sebagai Wendy, Jake Johnson sebagai Jack, Cory Michael Smith sebagai Chuck, bersama Debby Ryan, Anna Konkle, Lamorne Morris, dan Karley Sciortino. Berdurasi 102 menit, film ini mengambil latar Anchorage, Alaska, dengan sinematografi Eon Mora.
Wendy merupakan perempuan berusia awal 30-an yang bekerja sebagai manajer konstruksi dan sedang menjalani hubungan dengan Jack, pria yang lebih tua, sudah bercerai, serta memiliki anak. Kehidupan mereka terlihat cukup stabil. Jack menjanjikanbWendy rumah tangga yang relatif aman, sementara Wendy mulai terbiasa dengan kehidupan yang sudah dibangun Jack sebelumnya.
Di balik kenyamanan itu, Wendy menyimpan kegelisahan. Dia ingin membeli kapal untuk menghidupkan kembali kenangan masa kecil bersama ayahnya yang telah meninggal. Di saat bersamaan, teman Wendy yang masih lajang mengumumkan kehamilannya. Kabar tersebut membuat Wendy semakin memikirkan masa depan dan posisi dirinya sendiri dalam kehidupan yang sedang dijalani.
Melihat kegelisahan Wendy, Jack mengambil keputusan yang menurutnya masuk akal. Dia meminta mereka mengambil jarak selama beberapa bulan agar Wendy bisa berkencan dengan orang lain dan memastikan apakah kehidupan bersamanya memang benar-benar pilihan yang dia inginkan.
Niat Jack terdengar romantis, lho. Dia ingin Wendy memilihnya karena memang mau, bukan karena takut kehilangan hubungan yang sudah nyaman.
Masalahnya, kebebasan punya konsekuensi. Saat menjalani masa jeda tersebut, Wendy bertemu kembali dengan Chuck, mantan kekasihnya yang kembali ke Anchorage. Chuck itu beda banget sama Jack. Chuck lebih spontan dan dekat dengan sisi Wendy yang masih ingin berpetualang. Hubungan yang awalnya cuma bagian dari proses mencari jawaban kemudian berkembang menjadi sesuatu yang membuat Jack mulai panik. Uh, ngaduk-ngaduk emosi banget, deh!
Kebebasan yang Keterlaluan dalam Hubungan
Yup, di sini Jack memang lebih siap memberikan kebebasan ketika kebebasan itu masih berupa gagasan. Begitu Wendy memiliki kemungkinan untuk memilih kehidupan lain, rasa takut kehilangan mulai mengambil alih.
Menurutku, film ini cukup jeli memperlihatkan ironi tersebut. Jack ingin menjadi pasangan yang dewasa dengan memberikan ruang kepada Wendy, lalu harus menghadapi kenyataan bahwa (kebebasan maupun toleransi hubungan) itu bisa membuat Wendy bergerak semakin jauh darinya.
Kondisi tersebut juga memperlihatkan, kecemburuan nggak selalu muncul karena seseorang merasa pasangannya berbuat salah. Kecemburuan bisa muncul karena kita sadar bahwa orang yang kita cintai memang punya kebebasan untuk memilih, termasuk memilih kehidupan tanpa kita.
Di sisi lain, kegelisahan Wendy juga menarik karena sumbernya bukan hubungan yang buruk. Jack bukan pasangan yang digambarkan sebagai ‘dominan’. Hubungan mereka punya kehangatan dan rasa aman. Yang pada akhirnya memunculkan konflik. Untung, konfliknya terasa masuk di akal.
Film ini ibarat ngingetin, nyaman dan bahagia merupakan dua hal yang bisa berjalan beriringan, tapi keduanya bukan sesuatu yang otomatis sama.
Wendy bisa mencintai Jack sekaligus merasa masih ada bagian dari hidupnya yang belum dijalani. Dia bisa menikmati kestabilan sambil tetap merindukan petualangan. Bisa merasa aman sekaligus takut, yup, takut keamanan itu perlahan membuat hidupnya berhenti berkembang.
Nah, bagiku, bagian paling menarik dari film ini justru terletak di sana. Di sini, Chuck bukan sekadar saingan Jack, tapi juga jadi representasi dari kemungkinan hidup lain yang selama ini masih tersimpan dalam diri Wendy.
Sementara Jack mewakili kehidupan yang sudah terbentuk, Chuck membawa kembali sisi Wendy yang lebih spontan. Konfliknya akhirnya terasa jauh lebih besar ketimbang sebatas memilih antara dua pria. Iya. Wendy sedang berhadapan dengan pilihan tentang dirinya sendiri, lho.
Joe Swanberg juga cukup konsisten membuat konflik tersebut terasa natural. Dialog para karakter mengalir seperti percakapan sehari-hari, lengkap dengan kecanggungan, perubahan pikiran, dan keputusan impulsif. Gaya ini membuat hubungan Wendy dan Jack tampak relevan dengan kehidupan nyata, ketika orang sering mengambil keputusan berdasarkan emosi lalu baru memahami akibatnya setelah semuanya berjalan.
Maka dari itu, buat Sobat Yoursay yang nggak mau asal kasih kebebasan ke pasangan, tonton deh Film The Sun Never Sets. Selamat menonton, ya.
Baca Juga
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
-
Simbolisme Angel dan Lucifer, Detective Conan: Fallen Angel of the Highway
-
Review Hope: Ketika Ketidaktahuan Manusia Jadi Kekacauan yang Mematikan
-
Review Chronovisor: Saat Kebenaran dan Teori Konspirasi Sulit Dibedakan
Artikel Terkait
-
Unabomber Tayang 25 September di Netflix, Bawa Kisah Kelam Ted Kaczynski
-
Menjelajahi Kedalaman Cerita dan Visual dalam Film Moana (2026)
-
Tayang 20 September, RuPaul Pimpin Komedi Drag Kacau di Stop! That! Train!
-
Menjelajahi Retorika dan Diplomasi Politik Perempuan dalam Film The Odyssey
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
Ulasan
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?