Lintang Siltya Utami | Dian Haerani
Teach You A Lesson. (Instagram/@slothbinge)
Dian Haerani

Teach You a Lesson merupakan salah satu drama Korea bergenre aksi yang mengangkat persoalan pendidikan dan kenakalan remaja. Drama yang dibintangi Kim Mu-yeol, Lee Sung-min, Jin Ki-joo, P.O, dan Ha Young ini membawa kita pada persoalan yang sebenarnya sudah tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari.

Perundungan, kekerasan di sekolah, penyalahgunaan kekuasaan, hingga hilangnya kewibawaan seorang guru dibahas dengan sedemikian menarik di drama ini. Setelah menyelesaikan drama ini, saya justru merasa bahwa Teach You a Lesson bukan hanya tentang bagaimana memberikan pelajaran kepada anak-anak bermasalah.

Drama ini seperti ingin bertanya kepada kita: sebenarnya siapa yang harus bertanggung jawab ketika sistem pendidikan sudah tidak mampu melindungi mereka yang seharusnya dilindungi?

Teach You a Lesson bercerita tentang Na Hwa-jin (Kim Mu-yeol), seorang inspektur dari Educational Rights Protection Bureau. Lembaga tersebut dibentuk untuk menangani berbagai persoalan di sekolah ketika kewenangan guru semakin melemah dan berbagai tindakan kekerasan maupun pelanggaran justru semakin sulit dikendalikan.

Hwa-jin kemudian ditugaskan untuk menangani sekolah-sekolah yang memiliki berbagai permasalahan serius. Menariknya, cara Hwa-jin menyelesaikan masalah bukanlah dengan duduk manis di ruang rapat atau memberikan nasihat panjang kepada para pelaku. Ia datang lalu menghajar mereka. Awalnya saya juga berpikir, “Ini benar-benar cara menyelesaikan masalahkah?”

Bukankah pendidikan seharusnya mengajarkan seseorang untuk menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan? Bukankah anak-anak yang melakukan kesalahan seharusnya dibimbing, bukan dihukum dengan cara yang sama kerasnya?

Pertanyaan tersebut terus muncul sepanjang saya menonton drama ini. Sebab Hwa-jin bukan karakter utama yang sepenuhnya bisa kita anggap benar. Ia memang datang untuk membela korban dan menghentikan ketidakadilan, tetapi cara yang digunakan sering kali berada di wilayah abu-abu. Ia menggunakan kekerasan untuk menghadapi kekerasan. Dan anehnya, kita sebagai penonton justru sering merasa puas ketika melihatnya melakukan hal tersebut. Mungkin di situlah letak kekuatan Teach You a Lesson.

Kita hidup dalam dunia yang sering kali membuat korban harus bersabar sementara pelaku mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita meminta korban untuk memaafkan, meminta mereka melupakan, bahkan terkadang mempertanyakan mengapa mereka tidak melawan sejak awal.

Sementara itu, orang yang melakukan kesalahan justru mendapatkan banyak alasan. Masih anak-anak, masih belum mengerti, masa depannya masih panjang, jangan sampai sekolahnya rusak, dan lain-lain.

Teach You a Lesson memang menawarkan adegan aksi yang membuat penonton merasa puas. Hwa-jin datang, menghadapi orang yang berbuat salah, lalu memberikan konsekuensi yang setimpal. Rasanya seperti melihat karma datang lebih cepat daripada biasanya. Tetapi setelah rasa puas itu hilang, drama ini justru meninggalkan pertanyaan yang lebih sulit. Apakah kekerasan bisa dibenarkan jika digunakan untuk melawan kekerasan?

Saya sendiri tidak yakin jawabannya sesederhana iya atau tidak. Sebab kalau kita mengatakan kekerasan selalu salah, lalu bagaimana ketika sistem yang seharusnya memberikan keadilan justru tidak bekerja?

Namun, kalau kita membenarkan kekerasan hanya karena dilakukan untuk alasan yang dianggap benar, bukankah kita juga sedang membuka pintu untuk membenarkan kekerasan berikutnya? Inilah yang membuat Teach You a Lesson menarik bagi saya.

Drama ini tidak hanya meminta kita untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia meminta kita melihat bagaimana seseorang bisa menjadi korban, pelaku, atau bahkan keduanya dalam keadaan yang berbeda. Pada akhirnya, saya merasa bahwa pendidikan bukan hanya tentang membuat seseorang menjadi pintar.

Pendidikan seharusnya membuat seseorang memahami bahwa dirinya hidup bersama orang lain. Bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Bahwa memiliki kekuasaan bukan berarti boleh melakukan apa saja. Dan bahwa orang yang lebih lemah bukan berarti pantas diperlakukan semena-mena.

Mungkin karena itu juga judulnya Teach You a Lesson. Sebab terkadang, orang yang paling membutuhkan pelajaran bukanlah mereka yang duduk di bangku sekolah. Bisa jadi justru orang dewasa yang sudah terlalu lama merasa bahwa dirinya tidak perlu belajar lagi.

Dan mungkin, pelajaran paling penting dari drama ini bukan tentang bagaimana menghukum seseorang yang berbuat salah. Melainkan tentang bagaimana kita seharusnya menciptakan lingkungan di mana seseorang tidak perlu menunggu datangnya 'pahlawan' hanya untuk mendapatkan perlakuan yang adil. Menurut saya, drama ini cukup pantas untuk direkomendasikan. Bagi kamu yang belum menonton, yuk saksikan juga perjalanan Na Hwa-jin menegakkan keadilan di Teach You a Lesson!