Bagaimana rasanya menjalani kehidupan dengan nama keluarga yang terus berubah? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal menarik yang ditawarkan Maiko Seo melalui novel Lalu, Baton Diserahkan. Buku ini menghadirkan kisah kehidupan Yuko, seorang perempuan yang sejak kecil harus beradaptasi dengan perubahan keluarga dan orang-orang yang menjadi tempatnya bertumbuh. Pergantian nama yang dialaminya bukan sekadar perubahan identitas administratif, tetapi juga menjadi penanda dari setiap fase kehidupan dan keluarga yang pernah menaunginya.
Yuko awalnya dikenal sebagai Mito Yuko. Setelah kehilangan ibunya ketika masih berusia tiga tahun, ia tinggal bersama ayah kandungnya. Kehidupan mereka kemudian berubah setelah sang ayah menghadirkan Rika sebagai pasangan baru. Bagi Yuko, Rika perlahan menjadi sosok ibu yang mengisi ruang penting dalam kehidupannya. Namun, kebersamaan tersebut tidak berlangsung selamanya. Ketika ayah Yuko harus meninggalkan Jepang untuk bekerja di Brasil, Yuko dihadapkan pada pilihan sulit: ikut bersama ayahnya atau tetap tinggal di Jepang bersama Rika. Ia akhirnya memilih untuk menetap di Jepang.
Perjalanan keluarga Yuko kembali mengalami perubahan ketika Rika menikah dengan seorang pria bernama Izumigahara. Sejak saat itu, identitas Yuko pun berubah menjadi Izumigahara Yuko. Namun, hubungan tersebut pada akhirnya mengalami keretakan. Yuko kemudian kembali memasuki keluarga baru bersama Morimiya dan menggunakan nama Morimiya Yuko. Serangkaian pergantian ini membuat perjalanan hidup Yuko terasa berbeda dari kebanyakan orang.
Meski premisnya terdengar cukup kompleks, novel ini dikemas sebagai cerita slice of life yang mengikuti kehidupan Yuko sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. Konflik terbesar justru muncul ketika Yuko bersiap memasuki kehidupan pernikahan. Ia harus berhadapan dengan sebuah situasi yang tidak biasa: meminta restu kepada orang-orang yang pernah menjadi orang tuanya.
Di sinilah makna judul Lalu, Baton Diserahkan terasa semakin kuat. Baton atau tongkat estafet menjadi simbol kasih sayang yang berpindah dari satu orang dewasa kepada orang dewasa lainnya. Setiap orang tua dalam kehidupan Yuko seolah meneruskan tanggung jawab untuk menjaga dan membahagiakannya. Mereka tidak melihat Yuko sebagai beban yang harus diperebutkan, melainkan sebagai seseorang yang kebahagiaannya perlu dijaga bersama.
Ini merupakan buku pertama Maiko Seo yang saya baca. Sebelumnya, nama penulis tersebut sama sekali belum familiar bagi saya. Namun, konsep ceritanya yang tidak biasa membuat saya tertarik untuk membacanya. Saya cukup sering membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Yuko, seseorang yang harus menjalani hidup dengan beberapa nama keluarga sekaligus.
Dengan ketebalan 408 halaman, buku ini menurut saya tergolong cukup tebal. Bahkan, ada beberapa bagian yang terasa mungkin dibuat lebih ringkas tanpa menghilangkan inti cerita. Meski demikian, perjalanan Yuko tetap memberikan refleksi yang menarik tentang arti keluarga. Saya menyadari bahwa kedekatan antara anak dan orang tua tidak selalu lahir dari pertalian darah ataupun kesamaan nama belakang. Kepedulian, kehadiran, dan kesediaan untuk berkorban justru dapat menciptakan ikatan yang jauh lebih kuat.
Yuko juga memperlihatkan ketangguhan dalam menghadapi perubahan. Alih-alih terus melihat pergantian keluarga sebagai kemalangan, ia mampu menemukan sisi positif dari keadaan tersebut. Baginya, banyaknya sosok yang pernah menjadi orang tua berarti semakin banyak pula orang yang memberikan kasih sayang kepadanya.
Pada akhirnya, Lalu, Baton Diserahkan bukan hanya bercerita tentang seorang anak yang berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain. Novel ini mengajak pembaca melihat keluarga dari sudut pandang yang lebih luas: rumah bukan semata tempat yang diikat oleh hubungan biologis, melainkan ruang yang tercipta melalui cinta, perhatian, tanggung jawab, dan pengorbanan. Kisah Yuko menunjukkan bahwa kasih sayang dapat diteruskan dari satu orang ke orang lain tanpa pernah benar-benar berkurang.
Identitas Buku
Judul: Lalu, Baton Diserahkan
Penulis: Maiko Seo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020673622
Baca Juga
-
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film: Ketika Cinta Nyata Tak Selalu Seindah Skenario
-
Ulasan Novel Sang Pemanah: Menemukan Makna Hidup dari Sebuah Anak Panah
-
Review Film Fiksi.: Ketika Cinta Berubah Menjadi Obsesi Mematikan
-
7 Tahun Kegelapan: Ketika Rahasia Masa Lalu Menghantui Anak yang Tak Bersalah
-
Ulasan Novel Iblis dan Miss Prym: Ketika Moralitas Diuji oleh Keserakahan
Artikel Terkait
Ulasan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap
-
Ketika Cinta Bertemu Realitas: Ulasan Film Before Sunset yang Mengiris Hati
-
Saat Cinta Datang Terlambat: Belajar Merelakan dari Lagu Raim Laode "Dunia yang Nanti"
-
Belajar dari The Early Spring: Jangan Meremehkan Orang yang Sedang Berjuang
-
Review The Potato Lab: Kisah Cinta di Balik Laboratorium Kentang
Terkini
-
Pepatah Lama Kini Dibantah Gen Z, Benarkah Nasihatnya Tak Lagi Relevan?
-
A Wild Last Boss Appeared! Season 2 Ungkap Karakter Baru dan Jadwal Tayang
-
Kembalinya Heiji Hattori dan Kasus Uang Palsu Warnai Spesial 30 Tahun Detective Conan
-
Komodifikasi Paras di Kampus: Ketika Estetika Menggerus Marwah Mahasiswa
-
Redmi Note 17 Series Siap Hadir di Indonesia, Apa yang Membuatnya Istimewa?