Pernahkah kamu menyimpan sesuatu hanya karena benda itu pernah menjadi milik seseorang yang kamu sayangi? Bukan karena benda itu mahal. Bukan pula karena benda itu memiliki nilai istimewa bagi orang lain. Tapi karena ketika melihatnya, kita seperti bisa sedikit lebih dekat dengan seseorang yang sudah tidak lagi ada di dunia ini. Entah itu sebuah foto, baju lama, aroma parfum yang tertinggal, atau kalau dalam Mantra untuk Cinta dan Brengseknya Dunia, sebuah buku.
Buku karya Megakata ini dimulai dari sebuah kehilangan. Kepergian Kakek meninggalkan banyak pertanyaan bagi tokoh utamanya. Ia tidak hanya kehilangan seseorang yang disayangi, tetapi juga harus melihat bagaimana keluarganya perlahan membereskan segala sesuatu yang berkaitan dengan Kakek.
Bahkan perpustakaan yang selama ini menjadi ruang yang masih menyimpan aroma dan kehadiran sang Kakek ikut dibongkar. Mungkin bagi orang lain, membongkar sebuah ruangan hanyalah bagian dari kehidupan. Tapi bagi seseorang yang sedang berduka, rasanya bisa berbeda. Karena terkadang kita belum siap untuk merasa kehilangan yang kedua kalinya.
Seseorang memang sudah pergi, tetapi setidaknya kita masih punya tempat untuk mengenangnya. Kita masih punya hal yang membuat kita merasa bahwa ia pernah ada. Dan ketika benda-benda itu ikut disingkirkan, rasanya seperti dunia sedang meminta kita untuk segera menerima sesuatu yang belum siap kita lepaskan.
Untungnya, tokoh utama berhasil menyelamatkan sebuah buku. Buku yang sering dibaca Kakek berulang kali dan bahkan ditulis kembali menggunakan mesin tik tua. Awalnya, ia mengira sedang menyelamatkan peninggalan terakhir Kakek. Ia membaca halaman demi halaman karena ingin menemukan kembali sosok yang sudah pergi. Ingin merasakan kehadirannya melalui tulisan. Ingin memahami apa yang dulu begitu sering dibaca oleh Kakeknya.
Tapi semakin jauh ia membaca, buku tersebut justru membawanya kepada sesuatu yang tidak ia duga. Kebingungan, ketakutan, kesepian, dan berbagai perasaan yang mungkin selama ini juga ada di dalam dirinya sendiri.
Di sinilah saya merasa judul buku ini menjadi semakin menarik. Mantra untuk Cinta dan Brengseknya Dunia. Ada cinta, tetapi ada juga dunia yang brengsek. Ada hal-hal indah yang membuat kita ingin bertahan, tetapi ada pula kenyataan yang memaksa kita menerima bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai keinginan.
Bukankah memang begitu hidup?
Kita bisa mencintai seseorang sedalam-dalamnya dan tetap harus kehilangan mereka. Kita bisa menyayangi sebuah tempat, tetapi suatu hari tempat itu harus berubah. Kita bisa ingin mempertahankan sebuah kenangan, sementara waktu terus berjalan dan tidak pernah meminta izin kepada kita.
Mungkin karena itu, buku ini terasa bukan hanya tentang kehilangan Kakek. Ia juga berbicara tentang bagaimana manusia bertahan setelah kehilangan sesuatu yang tidak bisa dikembalikan. Dan menurut saya, bagian paling menarik justru bukan ketika tokohnya menemukan buku tersebut.
Melainkan ketika ia menyadari bahwa selama ini ia salah. Ia mengira dialah yang menyelamatkan buku itu. Padahal, pada akhirnya, buku itulah yang menyelamatkan dirinya. Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, cukup lama tinggal di kepala saya.
Selama ini membaca sering dianggap sebagai kegiatan untuk mencari pengetahuan atau hiburan. Padahal, ada kalanya kita membuka sebuah buku bukan karena ingin mendapatkan jawaban. Kita hanya ingin ditemani. Dan mungkin itu fungsi buku yang paling sederhana sekaligus paling indah.
Menemani.
Mantra untuk Cinta dan Brengseknya Dunia juga tidak mencoba mengatakan bahwa kehilangan akan menjadi mudah. Sebab kenyataannya, kehilangan memang tidak pernah benar-benar mudah. Yang berubah mungkin bukan rasa sakitnya, tetapi cara kita hidup bersamanya.
Hari-hari terus berjalan. Orang-orang kembali bekerja, sekolah, bercanda, dan menjalani kehidupan masing-masing. Dunia tidak berhenti hanya karena seseorang sedang berduka.
Bagi saya, Mantra untuk Cinta dan Brengseknya Dunia bukan buku yang menawarkan jawaban besar tentang bagaimana menghadapi hidup. Justru kekuatannya ada pada hal yang lebih sederhana, ia mengajak kita melihat bahwa terkadang sesuatu yang kecil bisa menjadi alasan seseorang untuk bertahan.
Setelah membaca buku ini, saya jadi percaya bahwa tidak semua hal yang kita pertahankan harus berakhir dengan kita memilikinya kembali. Ada yang cukup disimpan, ada yang cukup dikenang, ada yang cukup dibaca berulang kali sampai akhirnya kita mengerti mengapa ia pernah hadir dalam hidup kita.
Karena pada akhirnya, mungkin bukan soal seberapa lama kita bisa mempertahankan sesuatu. Tetapi tentang apa yang sesuatu itu tinggalkan di dalam diri kita setelah ia pergi.
Tag
Baca Juga
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Kim Garam Unggah Foto Profil Baru, Siap Comeback dan Debut Jadi Aktris
-
Memaknai The Stoic Way of Not Giving A Damn: Kita Terlalu Banyak Peduli
-
1 Kakak 7 Ponakan: Saat Menjadi Dewasa Bukan Lagi Sebuah Pilihan
-
Ulasan Love Untangled: Pentingnya Mencintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap
Terkini
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2
-
Lawan Kulit Kering! 4 Hydrating Mist Jaga Wajah Tetap Lembap Sepanjang Hari
-
Tayang Oktober, Drakor Final Table Bagikan Keseruan Pembacaan Naskah