Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Poster film Detective Conan The Movie: Fallen Angel of the Highway (IMDb)
Ryan Farizzal

Detective Conan The Movie: Fallen Angel of the Highway merupakan film ke-29 dalam seri layar lebar Detektif Conan yang diadaptasi dari manga karya Gosho Aoyama. Film ini disutradarai oleh Takahiro Hasui dengan naskah karya Takahiro Okura serta musik oleh Yugo Kanno. Berdurasi 109 menit, film ini dirilis di Jepang pada 10 April 2026 dan berhasil meraih pendapatan box office yang sangat tinggi, menempatkannya di antara film-film Conan dengan performa terbaik.

Di Indonesia, film ini mulai tayang di bioskop secara reguler pada 9 September 2026, setelah digelar fans screening pada 5 September 2026 di sejumlah lokasi, termasuk CGV. Penayangan disertai format spesial seperti 4DX dan ScreenX di beberapa bioskop, serta program stamp rally di kota-kota tertentu.

Misteri Kasus Lama Polisi Kanagawa di Jalan Bebas Hambatan

Tangkapan layar adegan di film Detective Conan The Movie: Fallen Angel of the Highway (youtube.com/Trinity CineAsia)

Cerita berpusat pada perjalanan Conan Edogawa, Ran Mouri, Sonoko Suzuki, dan Kogoro Mouri menuju Festival Sepeda Motor Kanagawa di Minato Mirai, Yokohama, bersama Masumi Sera yang merupakan penggemar motor. Di tengah perjalanan, mereka menyaksikan penampilan sepeda motor hitam misterius yang bergerak dengan kecepatan ekstrem dan bahkan melompati kendaraan mereka. Polisi lalu lintas Kanagawa, Chihaya Hagiwara—yang digelari Dewi Angin atau Angel karena kemampuan mengendarainya yang luar biasa—mengejar kendaraan tersebut, tapi gagal menangkapnya. Sepeda motor hitam itu kemudian disebut Lucifer karena kemiripannya dengan prototipe motor polisi canggih bernama Angel yang dipamerkan di festival tersebut.

Penyelidikan mengungkap hubungan kasus ini dengan masa lalu Chihaya, khususnya adiknya Kenji Hagiwara dan rekan Kenji, Jinpei Matsuda, yang keduanya telah gugur dalam tugas. Konspirasi yang melibatkan teknologi asisten mengemudi otomatis, data besar, serta motif pembalasan dendam menjadi inti misteri. Conan bekerja sama dengan Chihaya, sementara karakter seperti Jugo Yokomizo, Ai Haibara, dan Detective Boys turut berperan. Film ini berhasil menyeimbangkan elemen misteri klasik Conan dengan aksi berkecepatan tinggi yang menonjolkan tema sepeda motor sebagai simbol kebebasan, risiko, dan beban emosional.

Review Film Detective Conan The Movie: Fallen Angel of the Highway

Tangkapan layar adegan di film Detective Conan The Movie: Fallen Angel of the Highway (youtube.com/Trinity CineAsia)

Dari segi produksi, animasi TMS Entertainment menampilkan visual kota yang tajam dan dinamis, khususnya dalam adegan jalan raya dan jembatan. Penggunaan efek deep-focus serta koreografi kejar-kejaran motor memberikan kesan sinematik yang kuat. Skor musik Yugo Kanno memperkuat intensitas dengan ritme yang cepat dan elemen elektronik yang sesuai dengan tema teknologi modern. Pengisi suara, termasuk Minami Takayama sebagai Conan, Miyuki Sawashiro sebagai Chihaya, serta penampilan tamu Ryusei Yokohama, memberikan performa yang solid. Film ini juga menjadi penampilan terakhir Wakana Yamazaki sebagai Ran Mouri sebelum beliau berpulang.

Adegan aksi paling menegangkan terjadi dalam rangkaian kejar-kejaran di jalan raya dan jembatan, khususnya saat Lucifer muncul kembali dan menciptakan kekacauan di lalu lintas. Salah satu puncaknya adalah adegan di mana Conan harus berurusan dengan bom pada sepeda motor yang bergerak dengan kecepatan tinggi, sementara Chihaya melakukan manuver ekstrem untuk menghindari ledakan dan menangkap pelaku. Kecepatan kamera yang mengikuti gerakan motor, ledakan yang terasa nyata, serta ketegangan waktu yang terus berdetak menciptakan momen yang membuatku dan penonton yang lain tegang hingga akhir. Koreografi ini termasuk yang paling rumit dalam seri film Conan, dengan perpaduan antara aksi fisik dan penalaran cepat Conan.

Adegan paling emosional muncul melalui kilas balik Chihaya mengenai Kenji Hagiwara dan Jinpei Matsuda. Kenangan tentang persahabatan, pengorbanan, serta rasa kehilangan yang ditanggung Chihaya disampaikan dengan lembut namun mendalam. Resolusi yang melibatkan percakapan dengan Jugo Yokomizo, di mana ia mengungkapkan pesan masa lalu dari Kenji, memberikan penutup yang menyentuh. Momen ini tidak hanya memperkuat karakter Chihaya, tetapi juga menghubungkan film dengan lore panjang Detective Conan mengenai anggota polisi yang gugur. Emosi yang muncul dari kombinasi kesedihan, kebanggaan, dan penerimaan membuat adegan tersebut terasa personal dan berkesan.

Secara keseluruhan, Fallen Angel of the Highway menawarkan hiburan yang seimbang antara aksi spektakuler, misteri yang terstruktur, dan kedalaman emosional. Film ini cocok bagi penggemar lama yang menghargai kontinuitas karakter, sekaligus dapat dinikmati penonton baru berkat alur yang relatif mandiri. Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan menyajikan kejar-kejaran berkecepatan tinggi tanpa mengorbankan elemen penalaran khas Conan. Meskipun beberapa pengungkapan plot terasa padat, eksekusi visual dan emosional berhasil menjaga keterlibatan penonton hingga kredit akhir.

Dengan penayangan yang masih berlangsung di bioskop Indonesia, film ini layak ditonton di layar besar, terutama dalam format yang mendukung efek visual dan suara. Ia menegaskan bahwa seri Detective Conan tetap mampu berevolusi sambil tetap setia pada akarnya sebagai misteri yang penuh ketegangan dan kemanusiaan. Rating pribadi: 8/10.