Suanggi: Ilmu Kutukan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 10 September 2026. Film horor garapan sutradara Dom Dharmo ini diproduksi Mutiara Films bersama Subtube Studio. Karya tersebut mengangkat legenda Suanggi, warisan budaya lisan masyarakat Indonesia Timur yang dikenal di Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan sebagian Sulawesi.
Suanggi dipercaya sebagai sosok atau ilmu yang dapat berwujud nenek atau kakek tua, bermata merah, atau bola api. Ilmu tersebut pada dasarnya tidak selalu bersifat jahat, namun menjadi sangat berbahaya jika disalahgunakan.
Malapetaka Besar Akibat Ritual Terlarang
Sinopsis film berpusat pada Beni (Pangeran Lantang), mantan penyanyi yang karirnya pudar dan terlilit utang ratusan juta rupiah. Setelah 13 tahun meninggalkan kampung halaman, ia kembali ke Pulau Kladum atau Karangkas di Papua bersama kekasihnya, Gia (Carissa Perusset). Alasan resmi yang dikemukakan adalah menjenguk ibu angkatnya, Mama Lin (Dayu Wijanto), yang sedang sakit keras. Namun, di balik niat tersebut tersimpan rencana tersembunyi untuk menguasai harta keluarga guna menyelesaikan masalah keuangannya. Kepulangan Beni justru membangkitkan teror supranatural yang dikirim oleh Aroba (Iwa K), seorang Suanggi. Kutukan tersebut menyerang keluarga Mama Lin dan penduduk pulau, sekaligus membuka rahasia kelam masa lalu yang selama ini disembunyikan.
Ulasan Film Suanggi: Ilmu Kutukan
Durasi film sekitar 88 menit. Pemeran pendukung mencakup John Yewen, Stany Imbiri, Obimesak Nubatonis, Endhita, Keanu Azka, Ian Williams, serta almarhum Pace Cello dalam peran dukun Tinus. Produksi melibatkan riset budaya lokal dan syuting di Papua untuk menghadirkan autentisitas visual serta suasana. Dom Dharmo menekankan bahwa film ini tidak sekadar mengejar teror, melainkan juga menyinggung nilai keluarga, kepercayaan, ketakutan, dan konsekuensi dari pilihan manusia. Pendekatan tersebut membedakannya dari banyak film horor Indonesia yang lebih sering berlatar mitos Jawa.
Dari segi penceritaan, Suanggi: Ilmu Kutukan menggabungkan konflik keluarga dan ambisi pribadi dengan unsur mistis. Beni digambarkan sebagai tokoh yang diliputi tekanan ekonomi dan rasa bersalah. Gia sebagai orang luar (outsider) memberikan sudut pandang yang netral sekaligus rentan. Aroba sebagai sumber kutukan menjadi representasi kekuatan yang tidak terkendali. Film memanfaatkan latar pulau terpencil, hutan, dan kehidupan masyarakat setempat untuk membangun ketegangan secara bertahap. Penggunaan dialek dan elemen budaya Timur Indonesia memperkuat nuansa yang berbeda.
Adegan yang paling bikin aku merinding berkaitan dengan manifestasi kutukan Aroba. Salah satu unsur yang digambarkan adalah wabah lalat pemakan daging yang menyerang keluarga dan penduduk pulau. Visualisasi serangga yang mengerumuni tubuh, disertai suasana gelap dan suara-suara yang tidak wajar, menciptakan teror yang bersifat fisik sekaligus psikologis. Momen ketika kehadiran Suanggi dirasakan melalui tanda-tanda seperti mata merah atau bola api di malam hari juga mampu menahan napasku sejenak. Penggunaan efek suara dan pencahayaan yang minim memperkuat kesan bahwa ancaman tersebut hadir di mana-mana dan tidak dapat dihindari.
Untuk adegan yang paling kuingat setelah nonton terletak pada pengungkapan rahasia kelam Beni dan konsekuensi dari niatnya. Momen ketika niat jahat bertemu dengan kekuatan gaib yang sudah lama tersembunyi di pulau tersebut memberikan dampak positif yang lebih dalam daripada sekadar kejutan visual. Interaksi antara Beni, Mama Lin, dan tokoh-tokoh lokal yang memahami ilmu Suanggi juga meninggalkan kesan kuat karena menyentuh tema pengkhianatan, perlindungan keluarga, serta batas antara ilmu sebagai warisan dan ilmu sebagai kutukan. Kehadiran tokoh seperti Tinus menambah lapisan kepercayaan tradisional yang memperkaya cerita.
Jadi kesimpulannya, Suanggi: Ilmu Kutukan menawarkan pendekatan horor yang menghormati akar budaya Indonesia Timur. Kekuatan film terletak pada upaya menghadirkan mitos yang jarang diangkat ke layar lebar, disertai konflik manusiawi yang relevan. Pemeranan Pangeran Lantang dan Carissa Perusset diharapkan mampu menyampaikan ketegangan emosional, sementara Iwa K membawa bobot sebagai sumber teror. Keterbatasan yang mungkin muncul adalah kedalaman pengembangan karakter sampingan dalam durasi yang relatif singkat, tapi fokus pada suasana dan legenda tetap menjadi daya tarik utama.
Film ini cocok buat kamu yang mencari horor berbasis folklor lokal dengan nuansa berbeda. Ia tidak hanya menakutkan, tetapi juga mengajak refleksi tentang akibat keserakahan dan pentingnya menghormati warisan budaya. Dengan rilis pada 10 September 2026, Suanggi: Ilmu Kutukan menjadi salah satu kontribusi penting dalam memperluas peta cerita horor Indonesia ke wilayah Timur. Rating pribadi: 7.8/10.
Baca Juga
-
Ulasan Film Uniform: Dilema Antara Integritas Seragam dan Urusan Hati
-
Review Film Sierra Madre: Teror Mencekam Kartel Narkoba yang Sangat Kejam!
-
Ulasan Film Lingsir Wengi: Motel Malioboro, Tembang Mistis Pemanggil Arwah!
-
Lupin Part 2: Trik Cerdik Membongkar Kejahatan Korupsi Hubert Pellegrini
-
Ulasan Film Beautiful Pain: Mahakarya Drama Terbaru dari Dmaz Brodjonegoro
Artikel Terkait
-
Ulasan Pirunduk: Kisah Tragis Siti dan Teror Ilmu Hitam Kalimantan Selatan!
-
Mulai Syuting, Arin dan Yoon Chan Young Bintangi Film Bongcheon-dong Ghost
-
Diambil dari Urban Legend Babakan Siliwangi, Budget The Doll Ghawiah Disebut Setara 3 Film Horor
-
Taruhan Berujung Petaka, Ini Cerita Seru Pemain 'Warga Rusun 609'
-
Lagi Tayang! Review Film Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki, Horor Jepang yang Mengusik Pikiran
Ulasan
-
Terjebak di Sarang Penjahat: Petualangan Menegangkan yang Mengajarkan Arti Keberanian
-
Butterscotch Minggir Dulu! Sudah Coba Markas Sebatok Jahe Merah di Nganjuk?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
-
Lonely Planet: Kisah Cinta Penulis Novel dan Pekerja Kantoran di Maroko
-
Ulasan The Good Son: Rahasia Kelam di Balik Sosok Anak yang Sempurna
Terkini
-
Bahaya Laten Diskon Ongkir: Jangan Korbankan Nasib Perusahaan demi Sekadar Persaingan
-
Pernikahan: Antara Komitmen, Tuntutan Ekonomi, dan Perubahan Zaman
-
Kupu-Kupu Jarang Terlihat, Apa yang Terjadi pada Lingkungan?
-
Mengenal New BIONS, Langkah Awal Mahasiswa Memahami Dunia Investasi
-
Lee Jung Jae dan Mun Ka Young Dilirik untuk Film Baru Sutradara The Thieves