Bayangkan ada seorang kakek berusia 100 tahun yang masih lincah ke sana-kemari demi pamer cerita tentang indahnya hutan, laut, gorila, hingga paus di planet ini. Bandingkan dengan kita yang baru hidup seperempat abad, tapi sudah megap-megap dan encok setelah naik tangga tiga lantai.
Kakek legendaris itu bernama David Attenborough. Lahir pada 8 Mei 1926, beliau baru saja merayakan ulang tahun yang keseratus pada Mei 2026 kemarin! Selama puluhan tahun, ia keliling dunia demi merekam denyut kehidupan alam liar.
Pada 2020 lalu, ia merilis “David Attenborough: A Life on Our Planet”. Sebuah dokumenter yang rasanya mirip seperti surat cinta sekaligus tamparan pribadi dari seorang saksi sejarah yang melihat bumi menua dan rusak di depan matanya sendiri.
Film berdurasi 83 menit garapan Silverback Films dan WWF ini bisa kamu tonton di Netflix sejak 4 Oktober 2020. Diarahkan oleh trio sutradara Alastair Fothergill, Jonnie Hughes, dan Keith Scholey, dokumenter ini sukses menyabet rating monster 8,9/10 di IMDb serta skor kritikus 96% di Rotten Tomatoes.
Melalui film ini, Attenborough tidak hanya mengajak kita cuci mata melihat pemandangan alam. Ia justru mengajak kita merenung, melihat bagaimana alam ini pelan-pelan sekarat lewat garis waktu usianya sendiri.
Spoiler mulai dari sini.
Waktu kecil, Attenborough melihat dunia sebagai tempat bermain yang super luas dan liar. Hutan masih rimbun, laut masih ramai oleh makhluk air, dan populasi manusia belum sepadat sekarang. Tapi begitu kamera mulai mengikuti perjalanan hidupnya, barulah muncul sejumlah masalah dimana jumlah manusia meroket dengan sangat cepat, sementara rumah bagi hewan liar terus tergusur dan menyusut.
Bagian paling juara dari film ini adalah saat lini masa menampilkan data horor pertumbuhan populasi manusia yang berbanding terbalik dengan sisa wilayah liar bumi. Tahun 1937, populasi dunia baru 2,3 miliar dan bumi masih punya 66 persen wilayah liar. Plot twist menyebalkan terjadi di tahun 2020 dimana populasi manusia melesat jadi 7,8 miliar, sedangkan wilayah liar yang tersisa langsung amblas tinggal 35 persen saja!
Data seseram itu sebenarnya bisa saja dikemas jadi presentasi PowerPoint isi 27 slide, lengkap dengan tiga grafik rumit. Penonton paling cuma manggut-manggut formalitas. Begitu keluar ruangan lima menit kemudian, langsung lupa lagi.
Untungnya, Attenborough memilih jalan sebagai seorang saksi mata. Itulah alasan kenapa “A Life on Our Planet” terasa beda banget dari dokumenter kebanyakan. Film ini tidak berlagak seperti guru killer yang hobi menunjuk-nunjuk murid nakal.
David datang seperti seorang kakek yang sedang bercerita, "Begini, le. Kakek sudah melihat semuanya sepanjang hidup. Kakek tahu seindah apa dunia zaman dulu, dan Kakek tahu bagian mana saja yang sekarang sudah rusak."
Ada nada kesedihan yang mendalam di sana. Sosiolog menyebutnya “ecological grief”, sebuah rasa duka dan kehilangan yang teramat sangat ketika sadar bahwa alam yang dulu megah, mungkin tak akan pernah bisa kembali seperti semula.
Kamera mengajak kita bernostalgia dengan rekaman masa lalu, lalu tiba-tiba menampar kita dengan realitas masa kini. Hutan yang dulunya ramai oleh satwa, kini menjelma jadi lahan botak yang gersang. Lautan mulai kehilangan denyutnya. Populasi hewan liar merosot tajam. Di titik ini, alam seolah sedang sekarat dan perlahan kehilangan suaranya dalam sunyi.
Plot twist-nya, film ini sama sekali tidak berniat membuat kita pulang dengan rasa bersalah yang numpuk. Di babak akhir, Attenborough justru membuka pintu harapan. Beliau membeberkan jurus-jurus penyelamatan, dari memulihkan keanekaragaman hayati, beralih ke energi bersih, merapikan manajemen laut, mengubah pola makan kita, sampai memberi waktu kepada alam untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
WWF juga menegaskan bahwa manusia wajib melibatkan alam dalam setiap keputusan, karena bagaimanapun, kita ini cuma numpang hidup di dalamnya. Pesan dari kakek David ini sebenarnya simpel banget, kita sedang menjaga alam karena urusan nyawa dan kelangsungan hidup kita sendiri bergantung pada bagaimana alam hidup.
Ingat, bumi itu sudah kenyang melewati berbagai kiamat dan kepunahan massal jauh sebelum manusia kenal teknologi Wi-Fi. Jadi, bumi bakal tetap asyik-asyik saja eksis bahkan setelah manusia selesai membuat masalah di dalamnya. Yang sebenarnya sedang kita pertaruhkan adalah nasib atap rumah kita sendiri.
Itulah alasan saya ingin menonton film ini lagi. Dokumenter ini sukses bikin alam terasa jauh lebih dekat. Kekuatan terbesar “A Life on Our Planet” adalah ia sangat bisa menumbuhkan rasa memiliki kita terhadap alam tanpa harus merasa bersalah karenanya. Kita otomatis akan menjaga sesuatu ketika kita tahu jika hal itu sangat berharga bagi kita
Makanya, film ini wajib ditonton anak muda hari ini. Di tengah dunia yang sibuk menuntut kita untuk sukses, produktif, dan kaya raya secepatnya, kakek Attenborough mengingatkan sebelum berambisi menjadi penghuni planet yang sukses, belajarlah menjadi penghuni planet yang tahu diri.
Baca Juga
-
Terdesak Pakan Mahal, Peternak Gunungkidul 'Jual Sapi Demi Sapi'
-
Tradisi Smong Simeulue: Bukti Cerita Rakyat Mampu Mitigasi Tsunami Aceh
-
Ulasan Marinaleda karya Dan Hancox: Ketika Kota Kecil Menggugat Kapitalisme
-
Mengenal Permakultur: Gaya Hidup Bertani yang Bekerja Bersama Alam
-
Dulu Benci, Sekarang Relate: Mengapa Squidward Adalah Cermin Pekerja Modern
Artikel Terkait
-
Benarkah Maskulinitas Hambat Laki-Laki Bekerja di Sektor Ramah Lingkungan?
-
Review Film Dokumenter NAZA: Ketika Nyawa Manusia Diringkas Menjadi Angka!
-
Kerugian Karhutla Bisa Capai Ratusan Triliun, Pakar Ingatkan Dampaknya Berlangsung Puluhan Tahun
-
Singapura Bikin Undang-Undang Asap Kebakaran Hutan Lintas Batas, Mau Sikat Perusahaan Perusak Alam
-
Kupu-Kupu Jarang Terlihat, Apa yang Terjadi pada Lingkungan?
Ulasan
-
Belajar Menjalani Hidup dengan Lebih Tenang melalui Hal-Hal yang Boleh dan Tak Boleh Kulakukan
-
Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang
-
Review The Mongoose: Ketika Veteran Tangguh Menghadapi Fitnah dan Maut!
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi
Terkini
-
Tecno Megabook K15S Resmi di Indonesia, Laptop Ryzen 5 dengan Baterai 70 Wh Seharga Rp8,5 Juta
-
Bingung Mulai Investasi? New BIONS by BNI Sekuritas Bikin Semua Jadi Mudah
-
Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi
-
Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me
-
Pemerintah Gemar Solusi Instan, Siapa yang Menyelesaikan Akar Masalah?