Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Relationshit (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Ketika mendengar kata relationship, yang terbayang biasanya adalah hubungan romantis antara dua orang. Namun, Alitt Susanto justru memperluas makna tersebut melalui buku Relationshit. Diterbitkan oleh Bukuné pada Mei 2014, buku ini tidak hanya membicarakan kisah cinta, tetapi juga menghadirkan cerita tentang hubungan dengan keluarga, sahabat, bahkan sebuah mobil tua yang diberi nama Jeni.

Terdiri atas 11 bab, Relationshit menjadi semacam kumpulan pengalaman personal Alitt dalam memahami berbagai hubungan yang pernah mengisi hidupnya. Dengan gaya bahasa yang ringan, santai, dan sesekali mengundang tawa, cerita-cerita di dalamnya terasa seperti seseorang sedang membagikan pengalaman kepada teman sendiri. Di balik kelucuan dan gaya bercerita yang sederhana, terdapat refleksi mengenai kasih sayang, kehilangan, kesalahan, tanggung jawab, hingga proses menjadi lebih dewasa.

Isi Buku

Cerita dibuka dengan kisah Alitt dan Nina. Keduanya merasa nyaman karena memiliki pandangan yang hampir sama mengenai kehidupan, termasuk keinginan untuk tidak terjebak dalam pekerjaan kantoran dan memilih berkarya. Percakapan yang awalnya menyenangkan kemudian berubah ketika Alitt mengantar Nina pulang dan justru menjadi sasaran prospek bisnis MLM dari keluarga Nina.

Pengalaman tersebut menjadi semacam pengingat bahwa seseorang tidak selalu bisa mengenal keseluruhan diri orang lain hanya dari percakapan yang menyenangkan. Kenyamanan dapat hilang ketika kita melihat sisi lain seseorang yang sebelumnya tidak pernah diperlihatkan.

Hubungan berikutnya bahkan bukan dengan manusia, melainkan dengan Jeni, mobil Honda Genio keluaran 1995 milik Alitt. Jeni merupakan mobil pertama yang dibeli menggunakan uangnya sendiri. Hubungan mereka jauh dari kata romantis. Jeni sering mogok, masuk bengkel, menghabiskan biaya, dan membuat pemiliknya berpikir untuk menjualnya.

Namun, persoalan Jeni tidak sesederhana mobil tua yang merepotkan. Alitt menyadari bahwa sebagian masalah tersebut muncul karena dirinya sendiri yang memodifikasi Jeni. Dari sini muncul pelajaran menarik: terkadang kita mengeluhkan akibat dari keputusan yang sebenarnya kita buat sendiri.

Ada pula kisah tentang Trisna, sahabat Alitt sejak masa STM. Hubungan persahabatan dalam buku ini memperlihatkan bahwa tidak semua orang hadir untuk memberikan keuntungan. Beberapa orang menjadi penting justru karena pernah menemani kita melewati fase tertentu dalam hidup.

Salah satu bab yang paling menyentuh adalah “Adik Gue Jagoan Gue”. Alitt menceritakan kedekatannya dengan Andi, adiknya. Setelah orang tua mereka tidak lagi bersama mereka, Alitt ikut mengambil peran dalam memenuhi kebutuhan Andi. Namun, ketika Alitt mulai sibuk kuliah dan kemudian bekerja sebagai penulis, perhatian kepada sang adik berkurang.

Alitt sempat mencoba mengganti kehadiran dengan materi. Namun, perubahan Andi menjadi semakin bandel membuatnya melakukan introspeksi. Ia menyadari bahwa anak tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga tempat untuk bercerita dan merasa diterima. Keputusan memindahkan Andi ke Batam, bahkan dengan membuatnya belajar mandiri melalui pekerjaan membantu pamannya berjualan gorengan, menjadi bagian penting dari proses mendidik dan membentuk karakter.

Kelebihan dan Kekurangan

Kisah tentang Eyang juga memberikan warna berbeda. Kasih sayang tidak selalu disampaikan melalui kata-kata manis. Ada orang-orang yang mencintai dengan cara diam-diam, tetapi menunjukkannya melalui tindakan.

Sementara itu, kisah Long Distance Relain-ship memperlihatkan sisi lain hubungan romantis. Setelah bertunangan dengan Wina, Alitt harus menghadapi jarak dan kesibukan. Aktivitas sebagai penulis dan pembicara membuat perhatian kepada Wina berkurang hingga sebuah kesalahan fatal menyebabkan hubungan mereka berakhir.

Buku ini kemudian ditutup dengan “Love in Different Religion”, kisah hubungan beda agama yang menghadirkan persoalan cinta sekaligus pilihan hidup. Kehadiran Maria menjadi salah satu bagian yang meninggalkan kesan karena pembaca diajak melihat bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya.

Yang membuat Relationshit menarik adalah keberagamannya. Buku ini tidak menjadikan cinta sebagai satu-satunya pusat kehidupan. Hubungan dengan keluarga, sahabat, kendaraan, bahkan diri sendiri ternyata sama-sama bisa memberikan luka sekaligus pelajaran.

Setiap hubungan memang punya “shit”-nya masing-masing. Ada yang berakhir dengan tawa, ada yang meninggalkan penyesalan, dan ada pula yang membuat kita belajar menjadi manusia yang lebih baik. Relationshit mengingatkan bahwa kedewasaan bukan tentang memiliki hubungan yang selalu sempurna, melainkan tentang bagaimana kita bertanggung jawab terhadap setiap hubungan yang pernah kita jalani.

Identitas Buku

  • Judul: Relationshit
  • Penulis: Alitt Susanto
  • Penerbit: Bukuné
  • Tanggal Terbit: Mei 2014
  • Tebal: 236 halaman
  • ISBN: 978-602-220-124-3
  • Genre: Fiksi populer, humor