M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Poster film Iyus Jenius (IMDb)
Ryan Farizzal

Iyus Jenius adalah film musikal keluarga Indonesia yang akhirnya tayang di bioskop mulai 10 September 2026. Setelah menunggu lama sejak proses syuting selesai pada 2023 dan sempat diputar di Madani International Film Festival pada Oktober 2024, film ini hadir di sekitar 80 layar di seluruh Indonesia, termasuk sejumlah bioskop XXI di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan. Durasi sekitar 82–83 menit, film ini diproduksi Creator Media bersama Seru Juga Film Studio dan MAXStream, dengan Gandhi Fernando sebagai salah satu produser utama. Disutradarai Achmad Romie (dengan kontribusi Adnan Putra Djani), film ini dibintangi Kevin Abadio sebagai Iyus, Babah Tbob sebagai Babah T.Bob, Wichita Satari sebagai Mina, Brian Mahesa, Fernando Hany Putra, Jonathan Alvaro, Rasendrya Adwa Syah Putra, Mireille Grimonia, dan Adnan Djani.

Perjuangan Anak Cerdas yang Penuh Cerita Haru

Tangkapan layar adegan di film Iyus Jenius (youtube.com/CINEMA 21)

Sinopsisnya sederhana namun menyentuh: Iyus, bocah berusia sepuluh tahun, hidup bersama ibunya setelah ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kehilangan itu membuatnya kehilangan semangat belajar, kepercayaan diri, dan prestasi di sekolah. Ia juga mengalami perundungan. Di tengah keterpurukan, muncul Babah T.Bob, teman imajiner yang hanya bisa dilihat Iyus. Sosok penuh energi dan keceriaan itu membimbing Iyus melalui lagu, permainan, dan pelajaran hidup. Perlahan Iyus tumbuh menjadi anak yang lebih berani, cerdas, dan mampu menginspirasi orang di sekitarnya. Film ini mengadaptasi semangat serta lagu-lagu legendaris mendiang Papa T.Bob, seperti Diobok-obok dan Jangan Marah, dengan aransemen yang lebih modern agar relevan bagi generasi Alpha.

Sebagai film musikal anak, Iyus Jenius mencoba melawan arus dominasi horor di bioskop Indonesia. Produser Gandhi Fernando secara terbuka menyatakan ingin menghadirkan keberagaman genre. Hasilnya adalah film yang hangat, penuh pesan pendidikan karakter, dan bernostalgia. Tema kehilangan, imajinasi sebagai pelipur lara, pentingnya percaya diri, serta kekuatan musik dalam menyembuhkan luka emosional menjadi tulang punggung cerita. Bagi orang tua yang tumbuh di era 90-an, lagu-lagu Papa T.Bob memicu kenangan masa kecil. Bagi anak-anak masa kini, film ini menawarkan petualangan imajinatif yang mengajak mereka bermimpi dan berani menghadapi kesulitan.

Ulasan Film Iyus Jenius

Tangkapan layar adegan di film Iyus Jenius (youtube.com/CINEMA 21)

Kevin Abadio berhasil menggambarkan transisi emosional Iyus dari anak yang murung menjadi sosok yang lebih cerah. Ekspresinya jujur, meski terkadang terasa agak kaku di beberapa adegan dialog. Babah Tbob hadir sebagai elemen komedi dan semangat yang mewarnai hampir setiap momen musikal. Interaksi keduanya menjadi jantung film. Sayangnya, beberapa aspek teknis masih terasa kurang matang. Keeluhanku sih  soal sinkronisasi bibir saat menyanyi atau berbicara (hampir full dubbing), efek visual yang terkesan sederhana, serta momen musikal yang kadang muncul di timing kurang pas sehingga terasa Broadway berlebihan. Shot-shot goofy dan VFX yang tidak selalu mulus, kalau buat aku sih film ini kukategorikan ke so bad it’s good. Namun justru kelemahan teknis itu justru menambah kesan naif dan tulus yang cocok untuk tontonan keluarga.

Adegan paling emosional terjadi saat Iyus berada di puncak kesedihan setelah kehilangan ayah. Dalam suasana sunyi di rumah, ia duduk sendirian sambil memegang barang kenangan ayah. Air mata mengalir pelan, tanpa dialog berlebihan. Saat itulah Babah T.Bob muncul untuk pertama kali dengan lembut, bukan dengan keceriaan berlebihan, melainkan dengan kehadiran yang menenangkan. Momen ketika Iyus mulai terbuka tentang rasa sepi dan takut ditinggalkan terasa tulus. Adegan itu diperkuat oleh musik lembut yang perlahan beralih ke nada lebih hangat. Kalau boleh jujur, aku merasakan getaran nostalgia sekaligus empati terhadap anak yang harus menghadapi duka di usia terlalu dini. Hubungan Iyus dengan ibunya (Mina) juga mendapat porsi emosional yang kuat, terutama ketika ibu mencoba menyembunyikan kesedihannya sendiri demi anak.

Sementara itu, adegan paling berkesan adalah rangkaian nomor musikal di mana Iyus bersama Babah T.Bob dan teman-teman sekelasnya menyanyikan lagu-lagu Papa T.Bob dalam suasana penuh warna dan imajinasi. Adegan itu seperti membuka pintu ke dunia fantasi anak-anak: gerakan tubuh yang lincah, ekspresi gembira, dan pesan sederhana tentang jangan marah serta semangat bermain. Klimaks ketika Iyus berhasil menunjukkan kemampuan dan kepercayaan dirinya di depan teman-teman serta guru juga meninggalkan kesan mendalam. Bukan karena spektakuler, melainkan karena transisi karakter yang terasa jujur. Aku pun meninggalkan bioskop dengan senyum dan sedikit nostalgia.

Jadi bisa kusimpulkan, Iyus Jenius bukan film sempurna. Keterbatasan anggaran pun jelas terlihat, pacing kadang tidak rata, dan elemen musikal belum sepenuhnya matang. Akan tetapi film ini memiliki niat baik yang terasa: menghidupkan kembali lagu anak legendaris, memberi ruang bagi cerita keluarga yang jarang, serta menanamkan nilai percaya diri dan daya imajinasi. Bagi keluarga yang mencari tontonan ringan, hangat, dan sarat pesan positif, film ini layak disaksikan bersama. Ia mengingatkan bahwa imajinasi bisa menjadi sahabat terbaik saat dunia terasa berat, dan bahwa lagu-lagu masa lalu masih mampu menyentuh hati generasi baru.

Dengan durasi yang tidak terlalu panjang, Iyus Jenius mudah dinikmati anak-anak dan orang tua. Setelah menonton, yang tersisa bukan hanya lagu yang terus terngiang, melainkan juga rasa bahwa setiap anak butuh ruang untuk merasa didengar dan didukung, bahkan jika dukungan itu datang dari teman imajiner yang penuh warna. Film ini mungkin tidak akan menjadi blockbuster besar, tetapi ia berhasil menjadi tawaran segar di tengah industri yang didominasi genre lain.

Rating pribadi: 8/10.