Hayuning Ratri Hapsari | Ken Hitana
Ilustrasi patung (unsplash/K. Mitch Hodge)
Ken Hitana

Berada di tengah banyak orang, tetapi rasanya tidak benar-benar menjadi bagian dari mereka. Atau justru mempertanyakan siapa diri kita dan apa sebenarnya arti menjadi manusia? Relate, ya?

Pengalaman terasing dari lingkungan ini telah lama diangkat dalam karya sastra klasik melalui penggambaran tokoh maupun pengalaman pribadi penulisnya. Lewat kisah yang absurd hingga menyakitkan, novel ini mengajak pembaca mempertanyakan kembali tentang identitas, keberadaan, dan makna menjadi manusia. Berikut 4 rekomendasi novel tentang alienasi yang wajib masuk reading list kamu!

1. The Castle - Franz Kafka

Cover Buku The Castle (Goodreads)

Kalau kamu pernah membaca Metamorfosis karya Franz Kafka, The Castle punya tema besar yang hampir sama. Novel ini mengikuti K., seorang laki-laki yang datang ke sebuah desa untuk bekerja sebagai surveyor. Namun, sejak awal kedatangannya, K. justru kesulitan mendapatkan akses ke kastel yang menjadi pusat pemerintahan desa.

Yang menarik, keterasingan K. bukan hanya karena ia seorang pendatang. Ia juga seperti tidak pernah benar-benar memahami dunia yang sedang ia masuki. Setiap kali mencoba mendapatkan jawaban, ia justru menemukan lebih banyak pertanyaan. 

Uniknya lagi, meskipun judul novel ini The Castle, K. tak pernah benar-benar sampai ke kastel tujuannya. Novel ini juga berakhir di tengah kalimat ketika K. lelah dan akhirnya menyerah untuk mendapat akses ke kastel.

2. The Stranger - Albert Camus

Cover Buku The Stranger (Goodreads)

The Stranger merupakan novel karya Albert Camus yang terbit pada 1942. The Stranger menceritakan kisah Mersault sebagai seseorang yang tidak terlalu terikat dengan nilai dan aturan sosial di sekitarnya. Ia menjalani hidup tanpa berusaha menyesuaikan diri dengan emosi yang dianggap wajar oleh masyarakat seperti saat ia sama sekali tak bereaksi ketika ibunya meninggal. Karenanya, Mersault benar-benar menjadi orang asing di dunia yang ia tempati.

3. Kafka on the Shore - Haruki Murakami

Cover Buku Kafka on the Shore (Goodreads)

Dalam Kafka on the Shore, Haruki Murakami menghadirkan 2 tokoh yang mengalami keterasingan dengan cara berbeda. Kafka Tamura melarikan diri dari rumah dan berusaha mencari jawaban tentang dirinya sendiri, sementara Nakata menjalani hidup dengan keterbatasan yang membuatnya sulit memahami dunia seperti orang lain.

Murakami dikenal sebagai salah satu penulis kafkaesque yang memasukkan unsur absurdisme khas Franz Kafka dalam karyanya. Bedanya, Murakami memberikan sedikit harapan untuk tokoh-tokohnya tidak seperti dalam karya-karya Kafka. Contohnya dalam novel Kafka on the Shore yang berakhir penerimaan diri atas trauma yang dialami kedua tokoh.

4. No Longer Human - Osamu Dazai

Cover Buku No Longer Human (Goodreads)

Dalam No Longer Human, Dazai menggambarkan tokoh Yozo yang sejak kecil merasa tidak mampu memahami manusia di sekitarnya. Ia kesulitan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Karena itu, ia selalu memasang 'topeng' agar bisa diterima oleh orang lain.

Semakin lama memakai 'topeng', Yozo semakin jauh dari dirinya sendiri. Ia terlalu dalam memainkan peran yang diharapkan orang lain tanpa pernah dianggap menjadi bagian dari masyarakat.

Dari deretan buku di atas, saya semakin menyadari kalau pertanyaan "Siapa aku sebenarnya?" atau "Apa peran yang aku pegang di sini?" sudah sejak lama muncul. Novel-novel tadi juga tidak semata-mata menjawab pertanyaan tentang eksistensi diri. Sebaliknya, lewat tokoh-tokoh ini, menunjukkan kalau pertanyaan tadi valid dan kamu tidak pernah sendiri.