Hayuning Ratri Hapsari | Ken Hitana
Klip Drama Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo (Youtube/STONE MUSIC)
Ken Hitana

Pernahkah kamu merasa sedih saat kamu lebih familiar sama kimchi atau sejarah Dinasti Joseon daripada budaya Indonesia? Atau ketika lebih lancar membaca aksara Hangeul tapi kesulitan berbicara dengan bahasa daerah sendiri? Padahal, niat awalnya bukan belajar. Hanya menikmati tontonan drama atau film Korea.

Nah, ternyata drakor tak hanya berperan sebagai hiburan saja, tapi juga media untuk melestarikan sekaligus mengenalkan budaya Korea kepada dunia. Tanpa sadar, kita jadi ingin ikut paham apa saja yang sedang terjadi dalam drama lewat cerita dan kehidupan para karakternya.

Penasaran bagaimana cara drakor membuat penontonnya ingin mempelajari budaya Korea? Dan pernahkah kamu berpikir kalau Indonesia akan bisa mencontohnya dengan kekayaan budaya yang kita miliki?

Budaya Korea Diselipkan secara Natural Lewat Cerita

Klip Drama Mr. Queen (Youtube/tvN D Indonesia)

Hampir seperti promosi soft-selling, budaya Korea diselipkan secara natural seiring cerita berjalan. Bahkan dalam drama sageuk atau drama kerajaan yang kental dengan budaya Korea masa lampau, unsur tersebut tetap diperlihatkan tanpa terlalu mengganggu jalan cerita. Tidak sedikit penonton yang akhirnya hafal nama hingga silsilah keluarga raja-raja yang pernah memerintah Korea berabad-abad lalu. Padahal, saat di sekolah, mungkin kita hampir tidak pernah mendapat pelajaran khusus tentang sejarah Korea atau Dinasti Joseon. Melalui visualisasi sejarah yang nyata lewat arsitektur istana, hanbok (pakaian tradisional), hingga tata krama yang berlaku zaman itu, penonton seakan dibawa kembali ke masa lalu Korea.

Tak hanya sageuk, drakor berlatar modern juga banyak menggunakan unsur budaya di dalamnya. Seperti makanan tradisional khasnya yang hampir selalu muncul, contohnya kimchi, tteokbokki, atau kimbap. Selain itu, dari drakor kita juga tahu Korea memiliki beberapa hari perayaan penting yang sering muncul, seperti Seollal dan Chuseok.

Tanpa harus menjelaskan secara panjang lebar, budaya Korea mudah menempel pada audiensnya karena kehidupan para karakternya yang seakan dekat dengan kita. Alhasil, banyak penonton yang mendadak menjadi 'ahli' budaya Korea setelah mempelajarinya secara otodidak.

Apakah Indonesia Bisa Meniru Korea?

Klip Drama Queen of Tears (Youtube/Netflix K-Content)

Berbicara soal budaya, Indonesia seharusnya bisa mengenalkan budayanya yang beragam lewat karya drama atau film seperti Korea. Dengan ratusan suku dan daerah yang tersebar, Indonesia memiliki beragam tradisi, makanan, pakaian, hingga bahasa yang bisa diangkat menjadi bagian dari sebuah cerita. Bahkan, setiap daerah memiliki identitas budaya yang berbeda dan menarik untuk dikenalkan kepada masyarakat luas.

Lalu, kenapa budaya Indonesia tak sepopuler Korea di mata dunia? Namun, ketika membicarakan Indonesia di mata dunia, budaya yang muncul dalam ingatan orang asing masih sering terbatas pada Bali, rendang, atau nasi goreng.

Mirisnya lagi, banyak generasi muda yang mulai melupakan cerita rakyat atau bahasa daerah mereka sendiri. Saat ini, tidak sedikit generasi muda yang mulai meninggalkan cerita rakyat atau bahasa daerah karena dianggap kuno dan bahkan 'kampungan'. Di sisi lain, kemampuan berbahasa asing sering kali dianggap lebih keren atau menunjukkan bahwa seseorang lebih modern, tanpa diimbangi dengan pengetahuan tentang bahasa dan budaya daerahnya sendiri.

Tentu hal ini jadi tantangan. Bagaimana budaya Indonesia bisa dikenal masyarakat dunia jika sebagian dari masyarakatnya sendiri mulai merasa asing dengan budayanya?

Di sini, media film atau seri drama bisa membantu 'romanticize' agar budaya Indonesia bisa jadi sesuatu yang direfleksikan lewat kehidupan sehari-hari. Bahasa daerah, logat, makanan tradisional, pakaian, kebiasaan, hingga tradisi lokal bisa hadir secara natural melalui karakter dan cerita.

Lewat drakor, kita bisa melihat bahwa belajar sejarah tak mesti dilakukan di kelas. Dengan kekayaan budaya yang kita miliki sekarang, bukan tidak mungkin masyarakat Indonesia mengenalkan budayanya seperti drakor. Namun, ini masih menjadi tantangan untuk konsisten memasukkan unsur budaya tanpa menampilkannya secara khusus. Sebab, budaya yang ingin dikenal dunia bukan hanya perlu dilestarikan, tetapi juga perlu terus diceritakan dan dibuat relevan dengan kehidupan sehari-hari.