Hayuning Ratri Hapsari | Ken Hitana
Cover Buku The Great Gatsby (Goodreads)
Ken Hitana

Bagaimana perasaanmu jika sudah punya rumah mewah, mobil mahal, hingga bisa menggelar pesta tiap minggu, tapi hal yang paling kamu inginkan tak juga tercapai? Itulah yang terjadi pada Jay Gatsby dalam novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald yang terbit pada 1925.

Diceritakan lewat sudut pandang Nick Carraway, Gatsby terlihat seperti pria mapan yang hidup bergelimang harta. Namun, di balik itu, ia masih memiliki impian yang belum terpenuhi. Daisy Buchanan yang sejak dulu menjadi pujaan hatinya, tidak kunjung tertarik padanya meskipun ia bisa membeli semuanya dengan kekayaannya. 

Lewat kisah Gatsby, Fitzgerald tidak hanya membicarakan cinta dan impian, tetapi juga mempertanyakan satu hal: benarkah uang bisa membeli kebahagiaan?

Gatsby Punya Segalanya, Kecuali Kebahagiaan

Ilustrasi Menghitung Uang (unsplash/Alexander Mils)

Jay Gatsby dikenal karena kekayaannya yang luar biasa. Rumah mewah, mobil mahal, harta tak terbatas, semuanya ada dalam genggamannya. Ia juga rutin mengadakan pesta besar di rumahnya setiap minggu. Pesta itu selalu dihadiri oleh banyak tamu untuk menikmati sajian dan hiburan tanpa ada satu pun yang Gatsby kenal.

Namun, setelah American dream-nya sudah tercapai, masih ada satu hal mengganjal yang menurutnya masih kurang. Kekayaannya tidak membuatnya mendapatkan hal yang paling ia inginkan. Lantas, untuk apa ia mengumpulkan semua kekayaan itu?

Kekayaan Gatsby Tidak Bisa Membeli Masa Lalu

Ilustrasi Tumpukan Koin (unsplash/Mathieu Stern)

Jay Gatsby merupakan cerminan dari prinsip American dream, orang dari kalangan mana pun bisa mencapai kesuksesan. Ternyata, kekayaan yang selama ini Gatsby kumpulkan untuk merebut kembali perhatian dari cinta masa lalunya, Daisy Buchanan. Sayangnya, Daisy sudah menikah dengan Tom Buchanan sewaktu Gatsby tengah pergi berperang. 

Gatsby pertama kali bertemu dengan Daisy pada 1917 saat ia masih merupakan seorang tentara muda yang miskin. Di pertemuan itu, mereka langsung jatuh cinta. Namun, mereka harus berpisah karena tuntutan pekerjaan Gatsby.

Gatsby percaya bahwa kekayaan dan kesuksesannya dapat membawanya kembali kepada Daisy. Ia membeli rumah mewah di West Egg, tepat di seberang rumah Daisy, serta mengadakan pesta besar dengan harapan suatu hari Daisy akan datang. Namun, yang sebenarnya dikejar Gatsby bukan hanya Daisy, melainkan masa lalu yang ia impikan. Ia ingin mengulang hubungan mereka seolah waktu tidak pernah berlalu.

Selalu Kesepian di Tengah Meriahnya Pesta

Ilustrasi Pesta (unsplash/Filip Rankovic Grobgaard)

Setiap pesta yang diadakan Gatsby selalu dipenuhi banyak orang. Para tamu datang menikmati makanan, minuman, dan kemewahan yang ia sediakan, meski sebagian besar bahkan tidak benar-benar mengenal siapa Gatsby. Di tengah keramaian tersebut, Gatsby justru sering terlihat sendirian dan sibuk menunggu Daisy datang.

Hal ini semakin terasa menyedihkan saat Gatsby meninggal. Tidak ada satu pun orang-orang yang pernah datang ke pestanya, terlihat saat ia hendak dimakamkan. Rupanya, tamu-tamu Gatsby hanya datang untuk menikmati kemewahan pestanya, bukan benar-benar interaksi dengan tulus.

Dari novel The Great Gatsby, Fitzgerald bukannya mau mengatakan kalau lebih baik hidup tanpa kekayaan. Harta memang bisa membuat hidup menjadi sedikit lebih nyaman. Namun, ada poin penting tentang suatu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Meskipun Gatsby hidup lebih dari berkecukupan, saya justru merasa kasihan dengannya. Setelah apa yang ia upayakan hanya terasa sia-sia ketika masa lalunya tidak bisa kembali padanya.