Enam tahun sudah berlalu sejak Start-Up pertama kali tayang. Saya ingat perasaan 'tiba-tiba ambisius' pada masa itu yang muncul karena drama ini.
Drama yang dibintangi Bae Suzy, Nam Joo-hyuk, Kim Seon-ho, dan Kang Han-na ini sempat menjadi salah satu tontonan yang ramai diperbincangkan. Bahkan sampai sekarang, kalau nama Start-Up disebut, rasanya hampir selalu ada satu topik yang ikut muncul, Team Do-san atau Team Ji-pyeong?
Padahal, setelah menontonnya kembali di tahun 2026, saya merasa Start-Up sebenarnya menawarkan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar cinta segitiga. Drama ini bercerita tentang anak-anak muda yang sedang mengejar mimpi di dunia startup.
Seo Dal-mi ingin menjadi pengusaha, Nam Do-san membangun perusahaan teknologi bersama dua sahabatnya, sementara Han Ji-pyeong hadir sebagai investor yang sudah lebih dulu memahami kerasnya dunia bisnis. Mereka bertemu di Sandbox, sebuah tempat yang mempertemukan para calon pengusaha dengan kesempatan, mentor, investor, sekaligus berbagai kemungkinan kegagalan.
Karena itulah, menurutku Start-Up masih layak ditonton pada tahun 2026 ini. Bukan karena ceritanya masih sempurna. Bukan juga karena semua bagian dramanya masih relevan. Tetapi karena kebingungan anak muda yang digambarkan di dalamnya ternyata belum banyak berubah.
Salah satu hal yang paling terasa ketika menonton Start-Up sekarang adalah bagaimana para karakternya terus membandingkan pencapaian mereka dengan orang lain.
Dal-mi tidak berasal dari keluarga kaya. Ia harus bekerja keras dan mencoba berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup. Sementara In-jae tumbuh dengan akses, pendidikan, dan lingkungan yang membuatnya lebih dekat dengan kesuksesan.
Perbedaan tersebut membuat keduanya punya definisi kesuksesan yang berbeda. Bukankah ini juga terasa dekat dengan kehidupan generasi sekarang alias Gen Z?
Di usia ketika media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat setiap hari, rasanya sangat mudah merasa tertinggal. Dan Start-Up mengingatkan bahwa perjalanan setiap orang memang tidak pernah dimulai dari garis yang sama.
Hal lain yang menurut saya menarik adalah bagaimana drama ini tidak menggambarkan perjalanan menuju kesuksesan sebagai sesuatu yang lurus.
Membangun perusahaan tidak langsung menghasilkan keuntungan. Ide bagus tidak otomatis berhasil. Kemampuan seseorang pun belum tentu cukup tanpa kerja sama, strategi, kesempatan, dan keberanian mengambil risiko.
Dal-mi punya mimpi besar. Do-san ingin membuktikan kemampuan dirinya. In-jae ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Ji-pyeong sudah mencapai posisi yang banyak orang impikan, tetapi masih menyimpan persoalan personal yang tidak bisa diselesaikan dengan uang atau jabatan.
Mereka semua mengejar sesuatu.
Tetapi yang menarik, setelah semakin dewasa, kita justru mulai menyadari bahwa mencapai sesuatu tidak selalu membuat kita merasa cukup.
Tentu saja kita tidak bisa membicarakan Start-Up tanpa membicarakan kisah cinta segitiganya. Tapi kalau ditonton kembali pada 2026, saya justru tidak ingin terlalu sibuk memperdebatkan siapa yang lebih pantas untuk Dal-mi.
Karena mungkin inti hubungan mereka bukan tentang siapa yang menang. Melainkan tentang bagaimana seseorang bisa hadir dalam hidup kita pada fase tertentu, memberikan sesuatu, lalu membuat kita tumbuh menjadi orang yang berbeda.
Cinta memang menjadi bagian besar dari drama ini, tetapi Start-Up pada akhirnya tetap berbicara tentang perjalanan menemukan diri sendiri. Menurut saya, itulah alasan drama ini masih pantas diberi kesempatan oleh penonton di tahun 2026.
Bukan karena semua ceritanya masih terasa baru. Justru karena sekarang kita mungkin menontonnya dengan sudut pandang yang berbeda. Dulu kita mungkin menonton Start-Up sebagai anak muda yang sedang bermimpi.
Sekarang kita mungkin menontonnya sebagai seseorang yang mulai memahami bahwa mengejar mimpi ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Jadi, apakah Start-Up masih layak ditonton di 2026? Jawabannya iya. Terutama kalau kamu sedang berada di fase hidup ketika masa depan terasa belum jelas.
Baca Juga
-
Review Film Once We Were Us: Ternyata Cinta Saja Tak Selalu Cukup
-
Ulasan Toy Story 5: Ketika Gadget Perlahan Mengambil Alih Masa Kecil Anak
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Kim Garam Unggah Foto Profil Baru, Siap Comeback dan Debut Jadi Aktris
-
Mantra untuk Cinta dan Brengseknya Dunia: Ketika Sebuah Buku Jadi Penyelamat
Artikel Terkait
-
Dari Romcom hingga Aksi, 5 Drama Korea 2026 Ini Wajib Masuk Watchlist
-
365 Repeat The Year, Thriller Time Travel dengan Alur Penuh Plot Twist
-
Drama A Bloody Lucky Day, Mimpi Buruk Sopir Taksi dan Penumpang Terakhir
-
Destined with You: Kisah Cinta yang Terhalang Kutukan dan Rahasia Masa Lalu
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
Ulasan
-
Bisnis Kriminal yang Berujung Kekacauan di Serial The Gentlemen Season 2
-
Review Resident Evil 2026: Kurir Medis Melawan Chaos di Kiamat Zombie
-
365 Repeat The Year, Thriller Time Travel dengan Alur Penuh Plot Twist
-
Shaun the Sheep: The Beast of Mossy Bottom, Komedi yang Nggak Banyak Kata
-
Review Lagu Kamu Yang Kutunggu: Bukti Chemistry Romantis Rossa dan Afgan
Terkini
-
Menelisik Pameran 'On Equal Grounds": Saat Hierarki di Dunia Seni Diruntuhkan
-
Cuaca Panas Terik? Ini 5 Mist Spray Aloe Vera untuk Menyegarkan Kulit Wajah
-
Dari Romcom hingga Aksi, 5 Drama Korea 2026 Ini Wajib Masuk Watchlist
-
Auto-Modis! 5 Inspirasi One Set ala Jo Aram untuk Tampil Stylish
-
AADC Kembali Bikin Flashback: Mengapa Nostalgia SMA Tetap Memikat Gen Z?