Ada anime yang selesai ditonton, lalu selesai begitu saja. Ada juga anime yang ceritanya mungkin sudah lama berakhir, tetapi beberapa adegannya masih tiba-tiba muncul di kepala ketika kita sedang menjalani kehidupan sendiri. Your Lie in April adalah salah satunya.
Anime yang tayang pada tahun 2014 ini bercerita tentang Kousei Arima, seorang pianis muda berbakat yang kehilangan keinginannya bermain piano setelah kematian sang ibu. Hari-harinya menjadi monoton sampai ia bertemu Kaori Miyazono, seorang pemain biola dengan gaya bermain yang bebas dan penuh warna.
Pertemuan mereka perlahan membuat Kousei kembali melihat musik dan kehidupannya dari sudut pandang yang berbeda. Sekilas, kita mungkin mengira ini hanya cerita tentang cinta pertama. Padahal menurut saya, Your Lie in April berbicara tentang bagaimana seseorang belajar untuk kembali hidup setelah kehilangan.
Kousei tidak berhenti bermain piano karena ia tidak lagi menyukai musik. Ia berhenti karena musik telah menjadi sesuatu yang menyakitkan. Dulu, piano adalah tempatnya menunjukkan kemampuan. Namun setelah kehilangan ibunya, piano justru mengingatkannya pada trauma dan tekanan yang pernah ia alami.
Bukankah kita juga sering begitu?
Ada hal-hal yang sebenarnya kita sukai, tetapi pengalaman buruk membuat kita takut mendekatinya lagi. Kita pernah gagal, lalu takut mencoba lagi. Pernah ditolak, lalu memilih tidak berharap. Pernah kehilangan seseorang, lalu takut terlalu dekat dengan orang baru.
Akhirnya kita menciptakan zona nyaman. Tidak terlalu bahagia, tetapi setidaknya tidak terlalu sakit. Kousei hidup dalam ruang seperti itu. Sampai Kaori datang dan memaksanya keluar.
Yang menarik, Kaori tidak serta-merta 'menyembuhkan' Kousei. Ia hanya memberinya alasan untuk mencoba lagi. Dan mungkin, dalam kehidupan nyata, kita juga tidak selalu membutuhkan seseorang yang bisa menyelesaikan semua masalah kita.
Kadang kita hanya membutuhkan seseorang yang berkata, “Coba sekali lagi.”
Salah satu pelajaran terbesar dari anime ini adalah tentang bagaimana kita menjalani sesuatu. Kousei terbiasa bermain dengan aturan, ketepatan, dan kesempurnaan. Ia ingin memainkan musik sebagaimana seharusnya. Sementara Kaori justru bermain dengan perasaan.
Perbedaan mereka terasa relevan dengan kehidupan Gen Z. Kita hidup di zaman ketika semuanya mudah dibandingkan. Entah itu nilai kuliah, pekerjaan, gaji, penampilan, jumlah followers, pencapaian, bahkan usia ketika seseorang dianggap sudah 'berhasil.'
Kita sering merasa harus melakukan semuanya dengan benar. Padahal hidup bukan ujian yang memiliki satu jawaban benar. Kita boleh salah memilih jalan. Boleh berubah pikiran. Boleh memulai dari awal. Dan yang paling penting, kita boleh menikmati perjalanan meskipun hasil akhirnya belum sempurna.
Kaori mengajarkan Kousei untuk bermain bukan demi menjadi yang terbaik, tetapi demi benar-benar merasakan musik itu sendiri. Mungkin kita juga perlu belajar hal yang sama.
Ada satu kesedihan yang perlahan dibangun sepanjang cerita Your Lie in April, yaitu waktu.
Kita melihat karakter-karakternya tumbuh, mengejar impian, bertengkar, tertawa, bermain musik, dan menikmati masa muda. Namun semuanya terasa semakin berharga karena kita tahu bahwa waktu tidak pernah berhenti. Dan di sinilah anime ini terasa begitu menyakitkan.
Kita sering berpikir masih punya banyak waktu. Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu kapan 'nanti' itu akan datang. Mungkin karena itulah Your Lie in April terasa seperti pengingat untuk tidak terlalu lama menunda hal-hal yang berarti.
Kalau ingin mengatakan sayang, katakan. Kalau ingin meminta maaf, jangan selalu menunggu. Kalau punya mimpi, setidaknya mulai dari sesuatu yang kecil. Kalau ada orang yang berarti dalam hidup kita, jangan menunggu kehilangan mereka untuk menyadari betapa pentingnya keberadaan mereka.
Your Lie in April pada akhirnya membuat kita berpikir tentang arti kehadiran seseorang. Ada orang yang mungkin hanya hadir sebentar dalam hidup kita. Tetapi pengaruhnya bisa bertahan jauh lebih lama. Kaori hadir dalam kehidupan Kousei dan mengubah sesuatu yang sudah lama ia tinggalkan.
Karena itu, menurut saya Your Lie in April bukan sekadar anime tentang cinta. Ini adalah cerita tentang kehilangan, persahabatan, ambisi, trauma, musik, dan keberanian untuk kembali membuka hati terhadap kehidupan.
Pelajaran paling berharga dari Your Lie in April bukan tentang bagaimana menemukan cinta. Melainkan bagaimana berani hidup sepenuhnya ketika kesempatan itu masih ada. Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah kehidupan berarti bukan seberapa panjang kita menjalaninya.
Tetapi berapa banyak warna yang sempat kita berikan di dalamnya. Ada yang sudah menonton Your Lie in April dan menangkap pesan yang sama?
Baca Juga
-
April, Come She Will: Cinta Tidak Hilang, Kita Hanya Berhenti Merasakannya
-
Ulasan Exhuma: Tentang Dosa Masa Lalu yang Tak Bisa Dikubur Sedalam Apa Pun
-
After The Storm: Bahagia Tak Harus Menunggu Semua Impian Menjadi Kenyataan
-
Review Shoplifters: Bahwa Keluarga Tak Selalu Dibentuk oleh Hubungan Darah
-
Review Unlocked: Satu Ponsel Hilang, Seluruh Kehidupan Berubah Jadi Teror
Artikel Terkait
-
Review Lupin Part 4: Kolaborasi Teknologi Modern dan Trik Penyamaran Klasik
-
Pemerintah Pamer Pertumbuhan Ekonomi RI Lebih Baik dari China-Jepang
-
Bersiap! Film Naruto Live-Action Siap Diproduksi Mulai Awal Tahun 2027
-
April, Come She Will: Cinta Tidak Hilang, Kita Hanya Berhenti Merasakannya
-
Serial Sleeping With The Enemy Hadir dengan Standar Internasional, Cinta Laura Bicara Adegan Intim
Ulasan
-
Review Lupin Part 4: Kolaborasi Teknologi Modern dan Trik Penyamaran Klasik
-
Sibuk Parah tapi Tetap Butuh Kafein? Kopi Susu Botolan Ini Siap Bikin Harimu Auto Produktif
-
Novel Chronicles of Natha: Misi Balas Dendam dan Penyamaran Putri Ayana
-
Menelusuri Benang Merah Kekerasan dalam Kisah-kisah Absurd Tiga dalam Kayu
-
Manuskrip yang Ditemukan di Accra: Tentang Kehidupan dan Keberanian Menghadapi Ketidakpastian
Terkini
-
Bukan Cuma Melindungi, 4 Dark Spot Sunscreen yang Bikin Warna Kulit Merata
-
Sinopsis Bad Day, Kisah Seorang Ibu yang Ditimpa Kesialan Bertubi-tubi
-
Belajar Menelaah Kejamnya Realita Dunia Kerja melalui Perpisahan CR7 dengan Timnas Portugal
-
BPS Catat Ekonomi Tumbuh 5,47%: Mengapa Dapur Rakyat Justru Makin Tercekik?
-
Stop Menunggu Sempurna! Membenahi Mindset di Buku Strategi Menuju Sukses