Ketika menjalin hubungan dengan seseorang, kita pasti pernah berada di situasi yang penuh perdebatan. Apa pun yang kita atau pasangan kita katakan, rasanya selalu gagal menyampaikan maksud yang ingin disampaikan. Sampai akhirnya kita memilih untuk diam seribu bahasa.
Barangkali, masalah dalam sebuah hubungan memang bukan selalu karena tidak adanya komunikasi. Kadang-kadang, kita sudah berbicara panjang lebar, tetapi tetap gagal memahami perasaan yang ada di balik kata-kata. Hal itulah yang membuat Can This Love Be Translated? terasa cukup menarik untuk ditonton.
Drama Korea yang dibintangi Kim Seon-ho dan Go Youn-jung ini memang dikemas sebagai kisah romantis antara seorang penerjemah multibahasa dan aktris terkenal. Namun, semakin jauh ceritanya berjalan, semakin terasa bahwa drama ini sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus rumit, yaitu tentang bagaimana caranya benar-benar memahami seseorang?
Serial 12 episode ini mengikuti Joo Ho-jin (Kim Seon-ho), seorang penerjemah yang menguasai berbagai bahasa, dan Cha Mu-hee (Go Youn-jung), seorang aktris yang popularitasnya melejit hingga menjadi bintang global.
Keduanya kembali dipertemukan ketika Ho-jin menjadi penerjemah dalam sebuah acara televisi yang melibatkan Mu-hee dan aktor Jepang bernama Hiro. Dari sinilah hubungan mereka berkembang.
Ironisnya, Ho-jin yang pekerjaannya adalah menerjemahkan bahasa justru mengalami kesulitan ketika harus memahami perasaan manusia. Dan menurut saya, di situlah daya tarik terbesar drama ini. Kita mungkin bisa memahami bahasa Inggris, Jepang, Korea, atau bahasa lainnya setelah belajar bertahun-tahun.
Tetapi memahami seseorang? Tidak ada kamus yang benar-benar bisa membantu. Sebab seseorang bisa mengatakan “aku baik-baik saja” sambil sebenarnya sedang hancur.
Seseorang bisa mengatakan “terserah” ketika sebenarnya ia berharap kita mengerti apa yang sedang ia rasakan. Seseorang juga bisa terlihat sangat bahagia di depan banyak orang, tetapi menyimpan persoalan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Mu-hee adalah contoh yang cukup jelas.
Sebagai seorang aktris terkenal, ia terlihat percaya diri dan memiliki kehidupan yang mungkin diimpikan banyak orang. Tetapi di balik citra tersebut, ada pengalaman masa lalu dan rasa tidak layak dicintai yang memengaruhi cara pandangnya terhadap hubungan.
Hal ini membuat karakter Mu-hee terasa lebih manusiawi. Ia bukan sekadar perempuan cantik yang kemudian jatuh cinta kepada pemeran utama laki-laki. Ia adalah seseorang yang membawa luka dan ketakutannya sendiri ke dalam sebuah hubungan.
Dan bukankah kita semua kurang lebih seperti itu?
Kita masuk ke hubungan baru bukan sebagai manusia yang benar-benar kosong. Kita membawa pengalaman dari hubungan sebelumnya, luka dari keluarga, rasa tidak aman, pengalaman ditolak, bahkan cara kita melihat diri sendiri.
Itulah mengapa dua orang yang saling menyukai belum tentu otomatis bisa memahami satu sama lain. Can This Love Be Translated? seperti ingin mengatakan bahwa cinta tidak hanya membutuhkan perasaan, tetapi juga kemauan untuk belajar memahami.
Menariknya, drama ini tidak buru-buru membuat hubungan Ho-jin dan Mu-hee menjadi sempurna. Justru ada banyak momen ketika keduanya harus berhadapan dengan kesalahpahaman dan perasaan yang sulit diungkapkan.
Di era sekarang, hal ini terasa semakin relevan. Kita hidup ketika komunikasi menjadi sangat mudah. Tinggal mengetik pesan, mengirim voice note, melakukan video call, atau memberikan emoji untuk menunjukkan perasaan.
Tetapi anehnya, semakin mudah kita berkomunikasi, bukan berarti semakin mudah kita saling memahami. Satu pesan singkat bisa ditafsirkan dengan banyak cara. Satu tanda titik bisa dianggap sebagai kemarahan. Satu pesan yang tidak dibalas bisa membuat kita membuat seribu asumsi.
Kita terlalu sering menebak-nebak perasaan orang lain daripada bertanya secara langsung. Karena itu, Can This Love Be Translated? bagi saya bukan hanya drama tentang mencari pasangan. Ini adalah drama tentang belajar mendengarkan.
Bukan sekadar mendengar apa yang dikatakan seseorang, tetapi mencoba memahami alasan di baliknya.
Dari segi visual, perjalanan Ho-jin dan Mu-hee juga terasa semakin menarik karena cerita membawa mereka melewati sejumlah lokasi, termasuk Korea, Jepang, Kanada, dan Italia. Perpindahan tempat tersebut membuat kisah mereka terasa seperti perjalanan, bukan hanya secara geografis tetapi juga secara emosional.
Chemistry Kim Seon-ho dan Go Youn-jung juga menjadi salah satu alasan hubungan kedua karakter ini mudah diikuti. Keduanya memiliki energi yang cukup berbeda, Ho-jin lebih tenang dan tertutup, sementara Mu-hee lebih ekspresif dan emosional.
Namun justru perbedaan itulah yang membuat mereka saling melengkapi. Meski begitu, drama ini bukan tanpa kekurangan. Beberapa ulasan menilai alurnya terkadang terlalu berputar dan perpaduan beberapa elemen cerita membuat fokus romansa terasa kurang konsisten.
Tetapi bagi saya, Can This Love Be Translated? tetap punya satu pertanyaan yang menarik untuk dibawa pulang setelah menonton, "kalau cinta adalah sebuah bahasa, apakah kita benar-benar sudah belajar cara menerjemahkannya?"
Karena mungkin, mencintai seseorang bukan tentang menemukan orang yang selalu memahami kita tanpa perlu bicara. Melainkan menemukan seseorang yang bersedia terus belajar memahami kita, bahkan ketika bahasa yang kita gunakan terkadang berantakan.
Baca Juga
-
Review Kaiji: Final Game, Ketika Hidup Hanya Bisa Dimenangkan Orang Kaya
-
Review Serial 10 PM: Ketika Teknologi Membuka Pintu Menuju Dunia Lain
-
Our Beautiful Summer: Ketika Kita Sibuk Bertahan Sampai Lupa Menikmati Hidup
-
Review You Will Die in 6 Hours: Saat Kematian Mengajarkan Kita Cara Menjalani Hidup
-
Review Time To Hunt: Keinginan untuk Kabur yang Membawa Kita Pada Perburuan
Artikel Terkait
-
I Hate Going to Work: Realita Dunia Kantor yang Dikemas dalam Komedi Satir
-
Banyak Ulasan Negatif, Ji Chang Wook Mengaku Tak Malu Bintangi The Scandal
-
Sinopsis Take Charge of My Heart: Romansa Fantasi, Tayang 9 Oktober
-
Drakor Makin Pendek, Benarkah Efek Samping TikTok Bikin Penonton Susah Fokus?
-
Our Beautiful Summer: Ketika Kita Sibuk Bertahan Sampai Lupa Menikmati Hidup
Ulasan
-
I Hate Going to Work: Realita Dunia Kantor yang Dikemas dalam Komedi Satir
-
Review Film The Love Hypothesis: Trik Pacaran Pura-Pura yang Bikin Baper
-
Tak Semudah Hompimpa: Nostalgia yang Berujung Nyesek di Playlist Galau
-
Review Serial Ted Lasso Season 1: Drama Olahraga yang Sangat Menginspirasi
-
Review A Sun: Pilih Kasih dan Ekspektasi Orang Tua yang Menorehkan Luka
Terkini
-
Jigsaw Kembali di Saw 11! Permainan Mengerikan Kembali Dimulai
-
Park Ji Hyun Cetak Sejarah Masuk Nominasi International Emmy Awards 2026
-
Musim Kedua Anime The Cat and the Dragon Diumumkan Tayang pada 2027
-
Katanya Lowongan Kerja Banyak, Kenapa Cari Kerja Tetap Susah?
-
Di Balik Emas Asian Games: Alarm Regenerasi Bulu Tangkis Kita