Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Perdjalanan Menoedjoe Djawa (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Sejarah Jawa pada masa kolonial tidak hanya tersimpan dalam arsip pemerintah Belanda, laporan pejabat, atau tulisan para penjelajah Eropa. Ada pula catatan dari orang Jepang yang datang ke Jawa pada awal abad ke-20. Salah satunya adalah Perdjalanan Menoedjoe Djawa, catatan perjalanan Marquis Yoshichika Tokugawa, seorang bangsawan sekaligus ilmuwan Jepang yang mengunjungi Jawa pada 1921 dan kembali pada 1929.

Buku ini menarik karena menawarkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat Jawa pada masa kolonial. Alih-alih datang sebagai pejabat Belanda atau penulis Eropa, Tokugawa mengamati Jawa sebagai orang Jepang yang memiliki ketertarikan kuat terhadap ilmu pengetahuan, alam, dan kebudayaan. Catatan perjalanannya kemudian menjadi dokumen yang merekam kehidupan Jawa dalam berbagai lapisan.

Isi Buku

Tokugawa tidak hanya melihat Jawa dari satu sisi. Dalam perjalanannya, ia mengamati kemegahan keraton dan kesultanan, kehidupan masyarakat, lingkungan kolonial Belanda, hingga komunitas Jepang yang mulai menetap dan menjalankan aktivitas di Jawa. Karena itu, perjalanan dalam buku ini bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan untuk mengenali masyarakat dan lingkungan yang ditemuinya.

Salah satu kekuatan buku ini adalah perpaduan antara pengamatan sosial dan ketertarikan ilmiah. Sebagai ilmuwan, Tokugawa memperhatikan alam Jawa, termasuk flora dan fauna. Pengamatannya terhadap lingkungan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang lebih luas. Jawa muncul sebagai ruang yang memiliki kekayaan alam sekaligus kompleksitas masyarakat.

Kehadiran foto dan peta juga membuat catatan tersebut semakin bernilai. Dokumentasi visual membantu pembaca membayangkan tempat-tempat yang dikunjungi Tokugawa hampir satu abad lalu. Foto-foto yang berasal dari koleksi pribadi maupun sumber lain menjadi semacam jendela menuju Jawa pada 1920-an.

Catatan perjalanan tersebut berasal dari dua perjalanan penting. Perjalanan pertama berlangsung pada 1921 dan menjadi bagian dari pengalaman Tokugawa ketika melakukan perjalanan di Asia Tenggara. Sementara perjalanan berikutnya berlangsung pada 1929, ketika ia datang ke Jawa untuk menghadiri The Fourth Pacific Science Congress yang diselenggarakan di Jawa, terutama di Bandung dan Bogor.

Kongres tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam buku ini. Kehadiran para ilmuwan dari berbagai negara menunjukkan bahwa Jawa pada masa itu bukan hanya wilayah jajahan, tetapi juga menjadi tempat berlangsungnya pertukaran pengetahuan internasional. Bandung dan Bogor menjadi ruang pertemuan ilmuwan yang membicarakan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan pada zamannya.

Kelebihan dan Kekurangan

Penerbitan kembali buku ini juga memiliki perjalanan panjang. Versi bahasa Inggrisnya, Journeys to Java, disusun kembali dan diterbitkan dalam berbagai bentuk sebelum kemudian memperoleh perhatian lebih luas. Edisi Indonesia Perdjalanan Menoedjoe Djawa diterbitkan oleh Penerbit ITB di Bandung pada 2006, sehingga catatan lama tersebut dapat dibaca kembali oleh pembaca Indonesia.

Kehadiran edisi modern ini penting karena sumber sejarah kolonial sering kali didominasi oleh perspektif Barat. Catatan Tokugawa memberikan kesempatan untuk melihat Jawa melalui mata seorang pengamat dari Asia. Meski tentu saja perspektifnya tetap dipengaruhi latar belakang, kepentingan, dan pengetahuan penulis pada zamannya, sudut pandang tersebut justru membuat buku ini menarik untuk dibaca secara kritis.

Lebih dari sekadar kisah perjalanan, Perdjalanan Menoedjoe Djawa memperlihatkan bagaimana Jawa pernah dilihat oleh orang luar yang datang dengan rasa ingin tahu terhadap alam, masyarakat, dan kebudayaannya. Buku ini mempertemukan sejarah, ilmu pengetahuan, perjalanan, fotografi, dan kebudayaan dalam satu catatan.

Membaca buku ini pada masa sekarang berarti melakukan perjalanan ke Jawa hampir seabad silam. Kita diajak melihat kembali ruang-ruang yang mungkin masih dikenali, tetapi dengan masyarakat, lanskap sosial, dan suasana zaman yang telah banyak berubah. Dari sudut pandang seorang bangsawan dan ilmuwan Jepang, Jawa bukan hanya latar perjalanan, melainkan sebuah dunia yang layak diamati, dipelajari, dan dicatat.

Identitas Buku

  • Judul: Perdjalanan Menoedjoe Djawa
  • Judul Inggris: Journeys to Java
  • Penulis: Marquis Yoshichika Tokugawa
  • Penerbit: Penerbit ITB
  • Tahun Terbit: 2006
  • ISBN: 979-3507-87-X
  • Kategori: Sejarah, Catatan Perjalanan, Kebudayaan Jawa