Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Salah satu adegan di serial Dark Matter Season 2 (IMDb)
Ryan Farizzal

Dark Matter Season 2 adalah kelanjutan ambisius dari serial sci-fi Apple TV+ yang diadaptasi dari novel Blake Crouch. Setelah Season 1 yang fokus pada perjalanan Jason Dessen (Joel Edgerton) menemukan jalan pulang ke keluarganya di tengah labirin realitas paralel, Season 2 melangkah jauh melampaui sumber material asli. Cerita dimulai dengan keluarga Dessen yang mencoba menetap di dunia yang tampak aman setelah peristiwa chaotik di akhir musim pertama. Namun, kehidupan tenang itu segera retak.

Konsekuensi Multiverse yang Kian Rumit

Salah satu adegan di serial Dark Matter Season 2 (IMDb)

Jason semakin terobsesi dengan The Box—perangkat yang memungkinkan perjalanan antar dimensi—sementara Daniela (Jennifer Connelly) digambarkan semakin paranoid dan trauma. Hubungan mereka diuji berat. Di jalur paralel, Amanda (Alice Braga) dan Ryan (Jimmi Simpson) berjuang mencari jalan pulang, sementara Leighton Vance (Dayo Okeniyi) mengejar visi dunia sempurna dengan teknologi yang sama. Blair Caplan (Amanda Brugel) dan karakter-karakter baru menambah lapisan konflik. Dengan 10 episode yang dirilis mingguan, musim ini lebih ekspansif, lebih berani, dan kadang lebih rumit dibanding pendahulunya.

Secara keseluruhan, Season 2 berhasil mempertahankan ketegangan emosional yang menjadi kekuatan utama serial ini. Edgerton kembali memukau dalam memerankan berbagai versi Jason yang berbeda—ada yang lembut, ada yang obsesif, ada yang hancur. Connelly memberikan performa yang intens sebagai istri yang harus menghadapi trauma berulang melihat wajah suami di tubuh orang yang mengancam.

Review Serial Dark Matter Season 2

Salah satu adegan di serial Dark Matter Season 2 (IMDb)

Produksi visual tetap elegan, dengan desain The Box yang ikonik dan transisi antar realitas yang membingungkan sekaligus memikat. Kritik utamaku sih, mengarah pada kompleksitas plot yang kadang membuatku sebagai penonton harus sangat fokus, serta beberapa jalur cerita yang terasa tersebar. Akan tetapi, justru ambisi itulah yang membuat musim ini terasa segar: ia tidak lagi sekadar mengejar pulang ke rumah, melainkan menggali konsekuensi dari teknologi yang membuka kemungkinan tak terbatas.

Dari sisi tema, serial ini tetap setia pada pertanyaan klasik Crouch: apa arti pilihan, penyesalan, dan identitas ketika ada versi lain dari diri kita di luar sana? Season 2 lebih banyak mengeksplorasi grief, keinginan untuk love and be loved, serta harga yang harus dibayar ketika seseorang terlalu lama bermain dengan realitas. Ada episode-episode standalone yang berfungsi seperti perumpamaan kecil tentang kehilangan dan penerimaan, yang justru menjadi momen paling kuat.

Season 2 sudah tayang secara global sejak 28 Agustus 2026. Episode baru rilis setiap Jumat hingga final episose pada 30 Oktober 2026. Di Indonesia, serial ini tersedia eksklusif di Apple TV+ (termasuk melalui app Apple TV). Pelanggan bisa menonton dengan langganan bulanan atau trial 7 hari. Subtitle bahasa Indonesia tersedia, dan rilisnya simultan dengan wilayah lain—tidak ada delay regional yang signifikan. Cukup buka Apple TV app, cari Dark Matter, dan episode yang sudah keluar bisa langsung ditonton.

Salah satu adegan paling menyentuh terjadi di Episode 5 berjudul Love and Be Loved. Episode ini hampir sepenuhnya mengikuti satu versi Jason yang kalah—yang tidak berhasil kembali ke keluarga aslinya. Ia hampir putus asa, lalu menemukan dunia di mana ibunya (diperankan Linda Bove) yang masih hidup. Hubungan ibu dan anak yang dibangun perlahan, perawatan saat sang ibu sakit, pembacaan puisi Tolkien di sisi ranjang, hingga momen pemakaman, terasa sangat manusiawi dan menghancurkan.

Adegan ketika Jason akhirnya mampu melepaskan masa lalu dan membuka diri pada kemungkinan cinta baru (tanpa menghapus rasa sakit sebelumnya) menjadi puncak emosional yang jarang dicapai serial sci-fi. Aku sendiri pun menyebut episode ini sebagai yang terbaik di musim kedua—bukan karena aksi atau twist, melainkan karena kejujurannya tentang grief.

Sementara adegan paling kuingat adalah momen di episode awal ketika Daniela harus menghadapi seorang Jason variant yang datang ke rumah mereka. Adegan itu menegangkan, emosional, dan menegaskan bahwa ancaman terbesar bukan lagi musuh asing, melainkan versi lain dari orang yang dicintai. Keputusan Daniela di situ terasa brutal sekaligus niscaya, dan residual trauma dari momen itu terus menggema sepanjang musim. Adegan lain yang melekat adalah ketika The Box yang sudah dibongkar Jason tiba-tiba muncul kembali secara utuh—simbol bahwa teknologi dan obsesi ini tidak mudah dibunuh.

Pada akhirnya, Dark Matter Season 2 adalah serial yang menuntut perhatian, tapi memberikan imbalan emosional yang nyata. Ia tidak sempurna—kadang terlalu rumit, kadang terasa terlalu tersebar—namun tetap menjadi salah satu sci-fi paling thoughtful di Apple TV+. Jika kamu menyukai Season 1 karena sisi humanisnya, musim ini justru menggali lebih dalam. Jika kamu datang untuk puzzle multiverse, ada cukup twist untuk membuat kepala berputar. Yang pasti, setelah menonton, kamu mungkin akan bertanya-tanya: di dunia mana aku ingin hidup dan berapa harga yang rela kubayar untuk sampai ke sana?

Dengan sisa episode yang masih berlanjut hingga akhir Oktober 2026, cerita Jason, Daniela, dan semua versi mereka masih jauh dari selesai. Dan justru di situlah daya tariknya: di multiverse yang tak terbatas, selalu ada pintu lain yang menunggu.